My Angel Baby

My Angel Baby
Sama liciknya


__ADS_3

Ponsel Vicky berdering singkat, tanda jika ada pesan masuk. Matanya masih terfokus pada layar laptop yang digunakan oleh Ken untuk mencari posisi Viviane, dari berbagai jalan.


Kini mereka sedang fokus pada cctv di beberapa sudut ruas jalanan yang sekiranya di lewati oleh Viviane.


Tanpa melihat si pengirim pesan, Vicky membaca pesannya sedikit keras.


"SOS, Ruby" kata Vicky hingga membuat semua mata dari beberapa orang di dalam ruangan itu menuju padanya.


"Pesan dari siapa, pa?" tanya Lia yang segera ikut melihat ke layar ponsel papanya.


"Tidak diketahui pengirim pesannya" jawab Vicky.


"Coba bapak sebutkan nomornya" kata Ken yang sudah siap dengan perangkat pencari data.


"08xxx" setelah selesai dengan deretan angkanya, berbarengan dengan Ken yang menekan tombol enter.


"Nama pemilik nomor tersebut adalah Junaidi, alamat di jalan xxx. Pekerjaan Swasta" kata Ken membaca hasil pencarian data milik si pemilik kartu pengirim pesan.


"Apa Ruby yang dimaksud dalam pesan itu adalah Ruby mamanya Johan, pa?" tanya Lia.


Gadis itu mulai terlihat khawatir, memorinya kembali pada belasan tahun silam saat dia yang masih kecil sudah menjadi sasaran kejahatan Ruby.


Dalam hati Lia, Ruby adalah wanita yang kejam dan tega. Pada anak sekecil dia saja Ruby tega untuk berniat jahat, apalagi pada mamanya.


"Pa, kita harus segera menyelamatkan mama. Wanita itu sangat kejam, pa" kata Lia panik, kodratnya sebagai seorang perempuan akan mengedepankan hati daripada logika saat sedang dalam kondisi rumit seperti ini.


"Tenang, sayang" kata Vicky sambil memeluk putri tersayangnya.


"Ken, bisakah kau lacak nama dari seluruh anak buah di dalam bar Norita? Setahuku, ibu dari Johan itu sekarang adalah pemilik dari bar tersebut" kata Bayu, entah darimana dia tahu semua itu.


Ternyata diam-diam Bayu pun juga mencari tahu tentang semua kejanggalan yang dia rasakan akhir-akhir ini terhadap Lia dan keluarganya.


"Sejak kapan kak Bayu tahu tentang bar Norita?" tanya Lia.


"Sejak kau berkata jika Johan bertemu mamanya di mall. Aku dan Ken diam-diam mencari tahu semua tentang wanita itu" jawab Bayu.


"Aku bahkan sudah memiliki data dari semua karyawan di bar itu. Sekarang kita tinggal mencari nama Junaidi saja" jawab Ken yang sudah masuk ke aplikasi Microsoft Excel, tempat dia menyimpan file tentang semua karyawan di bar Norita.


"Tepat sekali, nama di sim card itu sama persis dengan salah satu nama karyawan di sana" kata Ken sambil melihat pada semua orang di dalam ruangan itu satu persatu.


"Kita harus segera kesana dan melakukan penyerangan" kata Lia dengan geramnya.


"Tunggu Lia" kata Bayu mencegahnya.


"Tunggu apalagi kak? Tunggu hingga terjadi sesuatu pada mama?" tanya Lia marah.


"Tenanglah Lia. Begini maksudku, karena wanita itu bergerak dengan hati-hati dan penuh permainan, bagaimana kalau kita juga sedikit bermain dengannya?" tanya Bayu.


"Maksud kakak?" tanya Lia tidak mengerti.


"Kita akan bergerak malam ini juga. Setahuku, ada salah satu teman Samuel yang pernah masuk ke dalam bar itu secara diam-diam tanpa ketahuan dari mereka. Bagaimana kalau kita ikut sertakan anak itu dalam aksi kita malam ini?" tanya Bayu.


"Menarik" kata Vicky setuju.


"Lama di dalam penjara ternyata tak membuat Rubu merasa kapok, tapi malah memupuk dendam yang semakin tinggi pada kita. Dia lupa jika dia hanya bergerak sendiri sedangkan kita bersama" kata Vicky semakin geram.

__ADS_1


Lia, Bayu, Ken dan juga Vicky serta beberapa anak buah kepercayaan mereka kini sedang mengatur rencana untuk dilakukan nanti malam.


Sebuah rencana yang akan membuat Rubi setidaknya merasa sedikit jera.




Lain tim Vicky, lain pula apa yang tengah dilakukan Ruby.



Kini wanita itu sedang bersama dengan Selvi, salah satu anggota tim Nirwana yang sedang merasa terasingkan dan sedikit ingin bersikap egois dengan mengejar kata hatinya untuk mendapatkan Bayu meski tak ada rasa sedikitpun dari pria itu.



Bersama Ruby, kini Selvi sedang mengatur siasat untuk bisa menjebak Bayu. Ruby benar-benar ingin menghancurkan keluarga Alexander sampai ke akar-akarnya.



"Bagaimana dengan rencanaku? Apa kau tertarik, sayang?" tanya Ruby setelah mengutarakan deretan kata yang mengandung banyak permainan untuk Selvi lakukan ke depannya.



"Sangat menarik, bu. Aku sudah tidak sabar untuk bisa bersanding dengan kak Bayu" jawab Selvi dengan mata berbinar. Selvi juga terlalu polos meski bekerja di lingkungan yang penuh intrik. Dan dia sudah tidak tahan untuk memendam rasa sejak masa anak-anak terhadap Bayu yang menurutnya adalah satu-satunya pria paling sempurna.



"Bagus kalau kamu setuju. Ibu akan siapkan pria tertampan untuk menemanimu. Anggap saja kalian sedang dalam masa liburan. Dan lupakan dulu barang sejenak Bayu dari dalam hati dan pikiranmu agar kau bisa lebih nyaman bersama pria lain" kata Ruby.




Dua orang dengan kesamaan latar belakang yang membuat mereka akhirnya kompak dan ingin menjatuhkan orang lain demi ambisinya.



Tapi rupanya, pertemuan mereka terekam sempurna oleh wanita tua seksi yang kini malah menghubungi Abraham Alexander.



"Hallo bos, lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" tanya wanita tua itu setelah ponselnya mengeluarkan suara.



"Hai Merryl, aku baik. Sangat baik. Ada apa kau menghubungiku?" tanya Abraham dengan perasaan khawatir. Setiap kali wanita tua itu menghubunginya, pasti ada sesuatu yang tidak beres untuk dia ketahui. Abraham pun belum tahu jika Viviane sedang diculik.



"Hei pak tua, kalau aku tidak salah ingat, sepertinya aku sedang bertemu dengan dua orang penting. Sebentar aku alihkan panggilannya ke panggilan video" kata Merryl yang kemudian mengutak-atik ponselnya sambil memasang head set.



"Ada apa Merryl?" tanya Abraham setelah menerima panggilan video dari Merryl, bersama dengan Suzy istrinya.

__ADS_1



"Lihat siapa disana, sebuah surprise untukmu tuan tua" kata Merryl.



"Bukankah itu Ruby? Dan apakah dia sedang bersama dengan Selvi, teman baik dari cucu tersayangku, Lia?" tanya Abraham sambil memicingkan matanya agar tampilan di layar ponselnya terlihat semakin jelas.



"Benar sekali. Sepertinya teman dari cucumu itu sedang berkhianat. Apa cucumu tahu akan hal ini?" tanya Merryl berhati-hati, latar belakangnya sebagai mata-mata Abraham membuat instingnya masih berfungsi dengan baik.



"Sepertinya cucuku tidak tahu akan pengkhianatan ini. Kau terus awasi mereka. Kalau kau bisa, rekam mereka dengan obrolan yang sedang dilakukan. Aku akan memberitahukan pada cucuku setelah buktinya cukup kuat" kata Abraham.



"Tentu saja tuan tua. Kau masih bisa mengandalkanku untuk hal seremeh ini" kata Merryl.



"Jangan meremehkan hal sekecil apapun tentang pengkhianatan, Merryl" tegas Abraham.



"Tentu tuan. Maafkan aku. Kau bisa mempercayakan semua ini padaku, dan tunggu saja laporan dariku sambil bersantai di rumahmu yang nyaman itu" kata Merryl sambil terus mengawasi kedua wanita di hadapannya dalam jarak aman.



"Rumah ini terasa tak nyaman akhir-akhir ini, sepertinya ada sesuatu yang sedang disembunyikan dariku" kata Abra.



"Baiklah. Aku akan lakukan tugasku terlebih dahulu. Nanti kita bicarakan lagi. Sampai jumpa tuan" pamit Merryl yang langsung mematikan ponselnya.



Abraham tertunduk lesu. Kebodohannya di masa silam terus menerus memberikan dampak yang buruk terhadap keluarganya yang dia kira akan aman di masa mendatang.



Tapi nyatanya, masalah terus saja berdatangan dari cetusan masa silamnya yang belum usai.



Apa dia menyesal?



Tentu



Dan penyesalannya seolah tak berguna saat ini.

__ADS_1


__ADS_2