My Angel Baby

My Angel Baby
Penjelasan Kakek Abra


__ADS_3

Abraham sedang bersantai di dekat kolam sambil membaca koran dan ditemani secangkir kopi dan camilan.


Baru kemarin pria tua itu pulang dari Greenland setelah seminggu berada disana bersama istrinya dan membawakan Lia oleh-oleh berupa ikan beku khas masyarakat disana yang sebenarnya tidak begitu Lia sukai.


Sedikit ragu, Lia mencoba mendekati kakeknya untuk bertukar pikiran. Karena Lia rasa, banyak hal yang dipikirkan dari segi lain oleh dang kakek hingga membiarkan orang seperti Merryl bisa masuk ke perusahaannya yang terkenal profesional.


"Ada apa, Lia? Kenapa kau memandangi kakek dengan tatapan aneh begitu?" tanya Abraham tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman koran.


"Duduklah!" perintah Abraham lagi, karena Lia hanya berdiri dengan ragu.


"Ehm, kek. Kenapa kakek bisa mempekerjakan orang seperti tante Merryl di kantor kakek dulu? Padahal dia terkesan sangat, ehm, centil" tanya Lia dengan mengangkat jari tengah dan telunjuknya saat berkata centil.


"Hahaha... Sebenarnya kakek berhutang budi padanya, Lia" ucap Abraham sambil menerawang, kini pandangan matanya menatap lurus ke arah kolam renang demi bisa mengingat masa lalunya.


"Dulu sewaktu kakek masih muda, kakek pernah terjerumus ke lembah hitam karena usaha kakek yang sedang berada di ambang kehancuran" kata Abraham mengawali kisahnya.


"Saat kakek terkena luka tembak oleh sebuah geng mafia ternama yang kebetulan menjadi lawan kakek, Merryl lah yang merawat kakek hingga sembuh karena dia menemukan kakek yang sedang tak sadarkan diri malam itu" ucap Abraham.


Lia sangat menyimak cerita kakeknya, karena dia pikir itu sangat menegangkan seperti cerita dalam film action saja.


"Berhari-hari kakek tidak pulang, dan untungnya nenekmu masih mau menerima kakek kembali setelah lebih dari satu bulan kakek pergi tak ada kabar. Bahkan melalui suntikan dana dari nenekmu lah yang membuat perusahaan kakek kembali pulih dengan jalan yang cukup terjal" kata Abraham.


"Hanya karena alasan balas budi, maka kakek mempekerjakan sembarangan orang seperti tante Merryl?" tanya Lia.


Mendengar ucapan cucunya, Abraham mengerti jika Lia masih belum cukup pengalaman untuk menilai seseorang. Dan penampilan lah yabg menjadi tolak ukur dari pandangan Lia saat ini.


"Kau akan tahu dari pengalaman nantinya, bahwa kita tidak bisa menilai orang dari penampilannya saja, sayang. Karena sesuatu yang terlihat berkilau belum tentu berarti jika di dalamnya hanya batu aki biasa, tapi sebuah permata yang tertutup lumpur akan lebih bermakna meski kita masih perlu untuk memolesnya terlebih dahulu" kata Abraham.


Mendengar hal itu membuat Lia berfikir lebih dalam. Berusaha menggali makna dari ucapan kakeknya yang sering memberi teka-teki dalam setiap ucapannya.


"Jadi menurut kakek, ada satu hal dalam diri tante Merryl yang kakek anggap menguntungkan?" tanya Lia.


"Tepat sekali" kata Abraham, pria tua itu senang karena cucunya berpikiran kritis.

__ADS_1


"Dengan gaya Merryl yang seperti itu, tidak akan ada yang menyadari kemampuan otaknya yang sebenarnya sangat baik. Hanya saja terhalang oleh selembar kertas yang kita sebut Ijazah" kata Abraham.


"Berkat Merryl, kakek bisa menemukan siapa saja orang yang benar-benar tulus mengabdi di perusahaan kakek dan siapa orang yang hanya bermuka dua" lanjut Abraham.


"Entah bagaimana caranya, Merryl bisa mengumpulkan bukti-bukti dari hasil pengkhianatan beberapa orang yang mencurangi kakek dan perusahaan. Jadi, kakek anggap saja dia itu seorang Office Girl serabutan, hahaha. Dia itu banyak manfaatnya, Lia. Dan yang terpenting, dia itu sangat loyal dan bisa dipercaya" kata Abraham mengakhiri cerita seorang Merryl.


"Benar juga sih, Kek. Dulu kak Gita juga tak berijazah SD formal karena trauma perundungan. Untung saja dia masih bisa mengejar ketertinggalannya setelah sembuh dari rasa traumanya" gumam Lia yang masih terdengar oleh kakeknya.


"Lalu bagaimana dengan Pak Burhan yang gembul dan tukang tidur itu kek?" tanya Lia lagi, mungkin ada cerita lain di balik sifat Burhan.


"Dulu Burhan tidak seperti itu, sayang. Dia sangat cekatan dan pandai bela diri dan juga ada beberapa ilmu jalanan yang dia kuasai. Kakek merekrutnya juga saat perusahaan sedang sedikit oleng karena dia yang juga sempat menolong kakek" ucap Abraham.


"Entah kenapa sekarang dia malah segemuk itu, dan kau tahu sendiri orang gemuk pasti hobi tidur. Biarkan saja dia seperti itu untuk menghabiskan beberapa tahun waktu sebelum dia pensiun. Kakek sudah menyiapkan dana pensiun untuknya" kata Abraham.


"Sebenarnya kakek sedikit ceroboh ya? Pertama kali Lia bertemu kakek juga saat kakek sedang di palak preman, kan? Apa kakek ingat kejadian di taman waktu itu?" tanya Lia yang merasa jika kakeknya memang harus ekstra penjagaan.


"Hahaha, ya. Kau benar, sayang. Memang kakek sedikit ceroboh meski orang-orang menjuluki kakek berotak emas karena IQ kakek diatas rata-rata" kata Abraham.


"Tapi ya, kau tahu kan setiap ada kelebihan pasti ada kekurangannya. Dan kelebihan IQ kakek ini dilengkapi juga dengan kekurangan bahwa kakek memang sedikit ceroboh" kata Abraham sambil tergelak, karena memang bukan hanya Lia yang mengatakan jika fia orang yang ceroboh.


"Kau benar lagi, sayang. Hahaha" Abraham samapi tergelak karena Lia sudah mengetahui sisi buruknya.


"Terimakasih kek, sekarang Lia mengerti beberapa hal. Bahwa kita tidak bisa menilai orang dari penampilannya, tapi daru kepribadiannya. Yang kedua, lebih diutamakan orang yang jujur dan loyal daripada para penjilat. Dan yang ketiga, bahwa dibalik setiap kesempurnaan pasti ada kelemahannya. Begitu kan, kek?" tanya Lia meminta pendapat Kakeknya.


"Benar! Kau sangat pintar, nak. Padahal kakek hanya ingin bertukar cerita saja denganmu. Tapi kakek tidak menyangka jika kau bisa mengambil pelajaran dari setiap ucapan kakek" kata Abraham bangga.


Pria tua itu tak menyangka jika dibalik sifat cuek tapi sedikit manja dari cucunya itu terdapat pikiran yang kritis dan ada kemauan untuk belajar dari hal sepele sekalipun.


"Bertemanlah dengan banyak orang, Lia. Karena dari berbagai macam karakter itu kau bisa belajar menempatkan diri dan mengambil sisi positif dari setiap kesempatan" pesan Abraham di akhir ceritanya.


"Jangan seperti kakek yang dulu sangat arogan dan hanya memanfaatkan orang untuk keperluan kakek hingga membuat banyak orang merasa dirugikan dan hampir membuat kakek jatuh miskin sepeninggal orang tua kakek" kata Abraham menyesali perbuatannya.


"Dan salah satu hutang budi kakek terhadap Merryl juga karena dia telah berhasil menyadarkan kakek untuk bersikap lebih baik terhadap orang lain dan mengubah tabiat buruk kakek yang suka seenaknya memperlakukan orang lain" lanjut Abraham.

__ADS_1


"Iya kek. Sekarang Lia mengerti dan akan berusaha menjadi orang yang lebih baik agar Lia punya banyak teman yang loyal terhadap Lia. Seperti keinginan kakek" kata Lia dengan bangganya.


Abraham tersenyum, diapun turut merasa senang karena Lia tak menuruni sifatnya yang sedikit arogan di masa muda. Dan penyesalan yang hadir sedikit terlambat masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya dari awal.


Abraham yakin jika hati yang mudah memaafkan itu adalah warisan dari Viviane. Gadis cantik yang dulu sempat dia kecewakan, tapi dengan tangan terbuka bisa memaafkan dan mau menjadi bagian dari keluarga Alexander.


Meskipun Abraham tidak tahu jika ada beberapa syarat yang harus Vicky lakukan sebagai bahan pertimbangan untuk Viviane mau kembali pada Vicky.


Ponsel Lia berdering saat Lia ikut mencicipi kudapan yang tersaji untuk kakeknya di akhir obrolan mereka yang penuh makna.


Nama Ken tertera di layar ponselnya, "Hallo, ada apa kak?" tanya Lia sembari melirik kakeknya yang terkesan kepo.


(....)


"Oh iya, hampir aku melupakannya. Sebentar aku siap-siap dulu dan akan langsung datang di pertemuan penting kita itu ya. Aku sudah tidak sabar untuk mempelajarinya" kata Lia yang berwajah antusias.


(....)


"Ok, bye" ucap Lia yang langsung menutup teleponnya.


"Lia pamit ya, kek. Ada urusan dengan kak Ken hari ini" ujar Lia sambil mencomot satu kue lagi dari atas piring saji, bahkan Lia tak sungkan untuk meminta sedikit kopi dari cangkir Abraham.


"Terimakasih kakek. Lia sayang kakek" ucap Lia sambil memeluk singkat kakeknya.


Abraham hanya bisa tersenyum. Rasa hangat yang belum pernah dia dapatkan dari seorang cucu perempuan.


Dan pria tua itu bersyukur karena masih berkesempatan untuk merasakannya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2