My Angel Baby

My Angel Baby
Satu Keinginan


__ADS_3


...MAB by VizcaVida...


...|06. Satu Keinginan|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Kastengel ini buat bapak. Gratis.


Sticky note berwarna pink yang terselip diantara tiga kotak kastengel yang ada diatas mejanya itu, membuat alis mata Louis hampir menyatu. Angel bisa merugi jika memberinya makanan sebanyak ini. Untuk itu, dia berinisiatif membayarnya kali ini. Namun, sebelum ia mewujudkan niatnya, Louis menemukan satu sticky note lainnya yang berwarna biru langit.


Jangan memaksa saya untuk menerima uang pembayaran kastengel dari bapak, ya. Saya memberikannya tulus. Semoga bapak suka :)


Emoticon yang berhasil membuat kedua ujung bibir Louis ikut membentuk lengkungan. Ia mulai berfikir, benda apa yang bisa diberikannya kepada Angel sebagai balasan untuk kebaikan gadis ini?


Louis duduk di kursi dan menyandarkan bahunya. Memutar kursi, menatap keluar dan memandangi padatnya gedung ibu kota yang berlomba unjuk diri.


Satu ide tercetus tanpa kendala di otak briliannya. Ia juga akan memberikan sesuatu jika Angel menolak menerima uang bayaran darinya. Mungkin tidak akan sebanding dengan ketulusan dan tenaga yang sudah Angel kerahkan untuk membuat jajanan ini. Tapi Louis berharap Angel suka dengan hadiah kecil sebagai ucapan terima kasihnya ini.


“Selamat pagi, Ros. Bisa aku pesen jepit rambut dengan design terbaru kamu?”


Rosalia, kenalan Louis yang hobby membuat pernak-pernik kecantikan wanita yang selalu laris manis diserbu para artis jika mengeluarkan model barunya.


“Tentu beb. Mau model kayak gimana?”


Louis berfikir model apa yang cocok untuk wanita simple dan baik hati seperti Angel.


“Menurutmu, model yang seperti apa yang cocok untuk orang yang suka berpenampilan simple dan baik hati, dan . . . ”Louis menjeda sejenak. Memikirkan kata apa lagi yang bisa menarik imajinasi Ros untuk membuat design jepit rambut yang hendak ia pesan itu. “... dan cantik. Wajahnya sedikit ada aksen bule—”


“Pacar baru?” sela Rosalia setelah mendengar ciri-ciri yang disebutkan Louis. Lalu dengan mudahnya ia sudah menemukan design yang cocok, lantas menggambarnya diatas kertas.


“Enggak. Cuma orang baik yang tulus sama aku. Jadi, aku ingin membalas kebaikannya.”


“Oh, kirain pacar.”


Louis hanya terkikik tanpa menjawab.


“Oke. Gambarnya aku kirim setelah ini. Ada tiga model sih yang muncul dalam kepala aku. Pilih yang mana aja, nanti kalau nggak cocok, aku cari design lain yang lebih wow.”


“Oke.”


Louis mengakhiri panggilan dan menuggu pesan gambar dari Rosalia.


Pop!


📷


📷

__ADS_1


📷


Tiga pesan gambar masuk. Dan Louis bergegas membukanya.


Gambar pertama, sebuah jepit bergaya simple dengan rentetan permata sepanjang titanium dilapisi emas.


Gambar kedua, sebuah jepit bergaya simple dengan ujungnya berbentuk hati dan dikelilingi permata.


Gambar ketiga, terdapat sebuah pesan tersemat. Ini bukan jepit sih, tapi bando. Sebuah bando simple dengan permata sepanjang hampir setengah dihiasi permata yang terlihat sangat cantik.


Dan semua cocok untuk Angel, menurut Louis.


Ia pun mengirim balasan.


Ya udah. Aku pesen tiga-tiganya aja. Aku TF sekarang. Berapa?


Louis menunggu balasan.


Kamu gila ya? Jangan-jangan ini memang buat pacar?


Lagi-lagi Louis tertawa. Memangnya dia terkesan sedang jatuh cinta ya? Atau dia terkesan sedang bucin karena rela merogoh kocek demi tiga jepit rambut yang diperkirakan mencapai harga puluhan juta itu?


Sumpah, Ros. Ini cuma buat membalas kebaikan seseorang. Aku nggak ada hubungan sama siapapun. Aku cuma mau balas kebaikan dia.


Tak lama berselang, balasan lain masuk.


Secantik apa sih ceweknya? Dari kaum Borjuis kayak kamu?


Louis mendengus. Ia tidak suka jika strata dikait-kaitkan dengan balas budi.


***


“Aku pulang.” teriak Louis menarik perhatian dua orang yang sedang menikmati dua cangkir teh camomile didepan televisi ruang keluarga.


“Eh, sudah pulang sayang?” sapa Jenita ketika melihat Louis membanting tubuh disisi lain sofa.


“Capek Lou?” tanya sang papa sambil menyesap tehnya dari cangkir, yang membuat Louis menoleh kasar masih dengan bahu dan kepala yang disandarkan pada sandaran sofa. Apa papanya ini sudah mulai pikun rasanya bekerja? Ya capek lah.


“Eum. Agenda padat akhir-akhir ini. Ada acara besar mau memperingati hari jadi tower.”


“Ya bukan tower juga kali Lou, kamu nyebutnya.” protes sang mama karena Louis menyebut perusahaan televisi dengan kata tower.


“Ya sama aja, mam. Kan ada towernya besar disana.”


Inilah situasi yang dirindukan Jenita dari Louis. Putra bungsunya ini selalu berkata dengan intonasi yang masih manja dan menyenangkan untuk dengar.


Hutama tertawa mendengar kata-kata Louis.


“Kamu ini. Masih saja kayak bocah. Cepetan cari pacar. Kenalin papa mama.”


Mendengar itu, ekspresi Louis berubah tidak bersahabat dalam beberapa detik. Namun ia kembali tersenyum, menganggap candaan itu biasa saja padahal, hatinya benar-benar tidak sependapat.

__ADS_1


“Di kira nyari uang koin apa ya nyari pacar itu?” gerutu Louis menanggapi ucapan sang papa.


“Cari yang sejalan, jangan yang beda lagi. Nanti mama mu ngamuk lagi.” kata Hutama ikut bicara.


Memang, papanya ini selalu bicara terbuka tanpa berniat menyembunyikan apapun. Termasuk masa lalu Louis dan Caca yang masih saja sering di sandingkan secara tidak langsung, ketika mamanya itu meminta Louis mencari pasangan.


Helaan nafas besar Louis berembus dari hidung. Ia tak lagi menatap mama dan papanya, melainkan langit-langit ruangan.


“Boleh Louis bicara sedikit tentang pendapat Louis.”


Tidak ada sahutan, berarti ya.


“Bagi Louis, tidak masalah meskipun kita tidak sejalan asal kita bisa berjalan bersama. Lou nggak pernah melihat apapun selain kebaikan hati orang itu pa, ma. Dan Louis ngga pernah nyesel pernah membuat Caca ada dalam hidup Louis.”


Jenita tersentak atas jawaban putranya yang seperti terucap dari dalam hati. Wajah Louis berubah sendu.


“Jika dulu mama tidak bisa menerima Caca karena kami berbeda, lalu nanti saat Lou membawa wanita lain, apa yang akan membuat mama tidak menyukainya? Strata? Atau bahkan wajah?”


Jenita sedikit berang. Ia sama sekali tidak menduga, jika penolakannya terhadap Caca dulu, masih menyimpan luka di hati Louis.


“Tergantung. Mama hanya ingin perempuan yang sepadan dengan kita. Tidak dari kalangan yang jauh dibawa kita, karena itu akan berpengaruh pada reputasi mu dan keluarga, Lou.”


“Lou yakin siapapun yang bisa membuat Lou menyukai orang itu, adalah orang yang pantas berdiri di samping Lou. Jadi, Lou tau apa yang Lou ingin dan butuhkan.”


Louis bangkit. Menyambar tas kerjanya dan berjalan menjauh dari ruang keluarga untuk masuk ke kamarnya.


“Mama mu tidak sepenuhnya salah.” kata Hutama dengan suara sedikit memekakkan telinga meskipun nadanya sangat tenang. “Kamu tidak bisa memilih sembarang wanita untuk bisa masuk di keluarga kita karena strata kita.”


Louis menoleh sebentar disisi bahu kanannya untuk menangkap siluet sang papa. Lalu ia melanjutkan tujuannya untuk naik ke lantai dua menuju kamar pribadinya.


Dan sesampainya didalam sana, Louis melepas dasi dan melemparnya bersama jas pada tepian tempat tidur. Ia lantas tidur telentang menatap langit-langit ruangan, mencoba menerawang seperti apa wanita idaman yang diinginkan sang mama untuknya.


Dulu, Caca adalah sosok yang sangat berjasa dalam hidup Louis saja, di tolak mentah-mentah oleh sang mama meskipun mamanya itu tau betapa besar pengaruh Clarita untuk hidupnya. Restu tidak pernah ada untuk hubungan mereka dan berakhir mereka bertahan dalam hubungan terikat pertunangan selama itu tanpa restu dari sang ibu. Berat, tapi Louis tetap berusaha kuat karena ingin memperjuangkan Caca, meskipun pada akhirnya, hubungan mereka kandas karena kesalahannya sendiri.


Lelah berfikir tentang masa lalu yang belum juga mau menyingkir dari ingatannya, Louis menekuk lengannya untuk menutupi wajah. Ia memejam dan kembali mengingat bagaimana perjuangannya bersama Caca, dulu. Betapa dia sangat mencintainya, betapa dia sangat berharap Caca lah yang akan menjadi pendamping hidupnya.


Diam-diam, dia meraih ponselnya dan kembali membuka galeri foto di ponsel. Ada beberapa foto Caca yang masih ia simpan. Ia mengetuk layar ketika melihat satu foto kesukaannya sejak dulu.


Ia menatap lama pada gambar wanita yang pernah memenuhi hatinya itu, lalu tersenyum.


“Apa kamu juga merindukanku, Ca? Seperti aku merindukan kamu?” katanya lirih. Louis tidak membenarkan tingkahnya ini, tapi dia benar-benar merindukan sosok yang masih saja belum mau enyah dari fikirannya. “Maaf, aku harus membuat kita berpisah dengan rasa benci mu padaku.”


Suara pintu berderit memaksa Louis mengakhiri rasa rindunya pada sang mantan kekasih, menyembunyikan ponselnya dibawah bantal, kemudian melihat ke arah pintu dan langkah kaki yang perlahan mendekat padanya. Ia tau persis siapa yang datang dan masuk ke kamarnya. Sang mama.


“Kamu nggak makan malam?” tanya Jenita dengan nada suara lunak. Ia sadar, ia bersalah jika terus memaksakan kehendaknya pada Louis. Tapi dia sungguh tidak ingin ada sesuatu yang menjadi penghalang ketika mereka sudah bersama nanti.


“Masih kenyang, Ma. Mama makan saja duluan sama papa.”


Jenita duduk di tepian ranjang Louis, lantas menatap putranya yang masih betah dengan posisi awalnya. “Mama nggak berniat buat kamu kecewa dan membatasi diri pada wanita, Lou. Tapi mama tidak ingin semuanya menjadi bumerang dan menyerang dirimu suatu saat nanti.”


“Bumerang seperti apa yang mama maksud? Louis bahkan sudah memilih yang terbaik diantara yang paling baik. Mama lupa perjuangan Caca menyadarkan Louis?”

__ADS_1


Jenita terpojok. Dia hanya bisa menggeleng sambil menatap lurus putranya itu.


“Dia saja mama tolak. Lalu Lou harus cari yang bagaimana?” sahutnya frustasi, bukan bermaksud benci. Louis sudah berusaha berdamai dengan siapapun. Dia siap membuka lembaran baru jika memang saat inilah dia harus menitih jalan berumah tangga. “Mam, Lou tidak pernah meminta atau menuntut apapun dari mama ataupun papa.” katanya seperti berbisik. “Hanya satu keinginan Louis pada kalian berdua, tolong hargai keputusan yang Lou ambil. Terutama ketika Lou mencintai seseorang yang menurut Lou baik, itu saja.” []


__ADS_2