
Hari ini adalah hari ketiga dimana Sam kehilangan Lian.
Sebenarnya memang tak ada hubungan spesial apapun antara Sam dan Lian. Bahkan mereka saling kenal juga belum genap satu Minggu. Tapi entah bagaimana caranya hingga Lian bisa masuk terlalu dalam ke relung hati seorang Samuel.
Mungkinkah Sam mengalami sindrom cinta pada pandangan pertama? Dan sungguh Sam tak menyukainya.
"Buju buset dah ah. Lo kenapa makin kucel sih Sam? Yang semangat dong" kata Mawan pagi ini.
"Beneran deh Sam, lo nggak ada pantes-pantesnya buat galau. Sudahan dong galaunya" kata Mawan lagi, dan Sam tak berniat untuk menanggapi candaan kawan barunya itu.
"Dah lah Sam. Lo beneran patah hati apa gimana sih? Noh, ada banyak surat cinta buat lo. Pilih salah satu dari mereka aja buat gantiin sosok yang sudah bikin lo galau macam ini" saran Mawan.
Sam menerima beberapa buah surat beserta hadiahnya juga. Ada yang mengirim coklat, kue, snack dan beberapa cindera mata.
"Ada fotonya, Wan" gumam Sam lirih, sambil membuka salah satu surat dari penggemarnya.
"Sini, coba gue lihat" kata Mawan yang ikut menatap sepotong wajah dalam foto potrait.
"Cantikan Lian kemana-mana" kata Sam masih bergumam, kembali ingatannya tertuju pada Lian yang entah ada dimana.
"Kayaknya tuh kue bolu enak Sam. Lo nggak ada niat buat ngasih gue sepotong gitu?" tanya Mawan sambil menatap penuh harap pada sekotak bolu red Velvet dengan banyak potongan strawberry dan coklat putih diatasnya.
"Woi, sini! Kalian semua, sini!" kata Sam memanggil beberapa kawan sekelasnya yang sibuk mengobrol dengan temannya masing-masing.
"Ada apaan sih Sam?" tanya salah satu teman Sam yang mengerumuni mejanya.
"Nih kue, buat kalian. Bagi rata ya" kata Sam memberikan dua kotak kue pada teman-temannya, tak lupa Mawan yang turut bergabung.
"Uwah, asyik nih. Sering-sering saja lo dapat kiriman kue dari para fans lo, Sam. Biar kita semua juga kebagian" ucap teman Sam.
"Iya sip" jawab Sam dengan mengacungkan ibu jarinya.
Sementara untuk beberapa coklat, Sam simpan dalam lacinya untuk dia bawa pulang. Sesekali memberikan hadiah untuk Gita kan tidak masalah meskipun bukan dari uangnya sendiri. Gita pasti senang.
Bel tanda masuk kelas berdenting sesaat setelah teman-teman Sam selesai membagikan kue.
Kini, mereka semua sudah duduk di tempatnya masing-masing dan bersiap untuk menerima ilmu yang gurunya berikan.
Pelajaran pertama di hari ini adalah kesenian. Pak guru yang datang terlihat membawa beberapa alat musik yang tertata rapi di dalam troli yang didorong dengan penuh kegembiraan.
"Selamat pagi anak-anak ku sekalian" kata Edi, guru kesenian di kelas IPA.
"Pagi pak" jawab para murid kompak.
__ADS_1
"Hari ini kita akan mendalami cara memainkan alat musik yang sesuai dengan kegemaran kalian" tutur Pak Edi mengawali pelajarannya.
"Bagi yang minat gitar, kebetulan bapak bawa tiga alat musik serupa gitar yang bisa kalian mainkan. Silahkan kalian mau pilih yang mana saja, karena hari ini tugas kalian adalah membuat grup yang diisi oleh 4 anak" kata Pak Edi lagi, membiarkan muridnya riuh untuk barang sejenak.
Tok... Tok.... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar lirih karena bertubrukan dengan suara para murid.
"Pak, ada yang mengetuk pintu" ucap seorang siswi yang duduk di deretan paling depan, tanpa menunggu izin dari gurunya, dia membuka lebar pintu kelasnya untuk melihat siapa yang datang.
"Oh, bu kepsek. Silahkan masuk bu" ucap Pak Edi sementara siswi yang tadi membuka pintu sudah kembali ke kursinya.
"Saya kesini untuk mengantarkan murid baru pak" ucap bu kepsek.
"Oh iya bu. Monggo silahkan" ucap Pak Edi.
"Anak-anak, mulai hari ini ada seorang muris baru di kelas kalian. Ibu harap kalian bisa menerimanya dengan baik dan bisa berteman. Untuk perkenalan lebih lanjut, bisa diteruskan oleh Pak Edi" kata bu kepsek.
"Saya permisi pak" ucap b kepsek berpamitan.
"Oh iya, terimakasih bu" ucap Pak Edi membiarkan bu kepsek kembali ke ruangannya.
"Silahkan nak, perkenalkan diri kamu" ucap Pak Edi.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Berliana Indah Pratiwi. Kalian bisa panggil saya Lian" nada suara indah yang berusan berhenti sepertinya sangat familiar di telinga Sam.
Memang sejak pagi Sam terlalu murung, hingga terasa jika tulang lehernya tak mampu menopang beratnya kepala. Sejak baru tiba di sekolahnya, Sam hanya menunduk sedih.
Hati Sam seolah tertarik untuk menyuruh kepalanya mendongak, melihat siapa pemilik suara indah yang barusan bersuara.
Dan ya, senyum di bibir Sam langsung terukir saat melihat siswi baru itu.
"My real Diamond in a real life" gumam Sam yang kemudian berdiri untuk mengamati penampilan Lian yang sedikit berbeda dari biasanya.
Wajah putih dan cantik itu terlihat semakin berkilau bak berlian dengan senyum yang merekah indah.
Rambut hitam yang biasanya dikuncir seadanya, kini terlihat semakin cantik karena dibiarkan terurai dengan curly di ujungnya.
Sungguh, Lian sangat berbeda kali ini. Tak terlihat tampilan miskinnya sama sekali seperti biasanya. Kini terlihat Lian yang nampak seperti anak orang berada.
"Lian!" teriak Sam tanpa dia sadari, seolah mulutnya berkata tanpa perintah dari otaknya.
Kakinya pun tergerak sendiri dan berlari ke arah gadis yang tengah berdiri dan menjadi pusat perhatian di kelasnya.
__ADS_1
Saat berhenti di hadapan Lian, kedua tangan Sam pun tergerak untuk memegangi kedua bahu Lian sambil menatapnya lekat.
"Lian?" tanya Sam sekali lagi.
Lian hanya mengangguk dan tersenyum.
"Lo beneran Lian?" ulang Sam bertanya.
"Iya Sam. Aku Lian" jawab Lian dengan tersenyum dan mengangguk pelan, semakin membuat Sam merasa gemas dengan keluguan gadisnya.
"Lo kemana saja sih, Lian? Gue tuh kepikiran banget saat lo pergi. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak. Dan sekarang lo ada di depan gue, dihadapan gue, Lian. Gue bahagia banget" tutur Sam sambil menggunakan bahu Lian dan memeluk gadis itu erat.
Sam lupa jika mereka berdua masih ada di dalam kelasnya. Dengan seorang guru dan sekelas murid yang masih lengkap.
Melihat kelakuan Sam, sontak membuat teman sekelasnya bersorak lantang, ada juga yang memberi tepuk tangan.
"Masih di kawasan sekolah, woi" teriak teman Sam.
"Berasa nonton drama Korea" teriak lainnya.
Kegaduhanpun tak bisa dielakkan. Hingga membuat pak Edi harus turun tangan untuk menenangkan kelasnya.
"Diam semua, tenang" teriak pak Edi lantang.
Dan hal itu membuat kesadaran Sam kembali. Saat mendapati dirinya sudah berada di depan kelas dengan posisi masih mendekap Lian membuatnya merasa sangat malu.
Wajah putihnya kian memerah, hingga kedua cuping telinganya pun juga begitu.
"Sorry, gue terlalu bahagia bisa bertemu sama lo lagi, Li" tutur Sam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya, aku paham kok Sam. Maaf ya sudah membuat kamu khawatir" kata Lian dengan puppy eyes nya.
"Oh god, makhlukmu yang satu ini memang layak untuk disayangi" gumam Sam.
Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Sam berbalik dan kembali duduk di kursinya. Meninggalkan Lian yang tetap berdiri di depan kelas untuk menunggu instruksi dari gurunya.
"Pantesan galau lo tingkat Internasional, Sam. Memang cewek lo secantik bidadari" kata Mawan yang ikut memuji kecantikan alami Lian.
"Dia bidadari gue, Wan" balas Sam dengan pandangan yang masih terkunci pada Lian.
.
.
__ADS_1
.