My Angel Baby

My Angel Baby
Menemukan mama


__ADS_3

"Mommy? Is it really you? Oh ****!" gumaman Johan terdengar jelas oleh Ery yang masih menganga dan mendongak. Tinggi tubuhnya hanya sebatas dada putranya meski Ery telah mengenakan high heels.


"No way! How can we meet in here? Why are you doing in here, mom?" tanya Johan sambil masih berusaha menormalkan emosinya.


"Jo.. Johan. Apa ini benar kamu, nak?" tanya Ery yang bingung harus bahagia atau berduka karena pertemuannya kali ini.


"Mom. Apa yang mommy lakukan disini? Bagiamana mommy bisa berpenampilan seperti seorang? Ah, bisakah mommy memakai baju yang lebih layak?" baru juga bertemu, Johan sudah meminta sang mommy untuk merubah penampilannya.


Ruby hanya terdiam, entah harus berekspresi seperti apa. Kalau dulu sewaktu Johan masih kecil bisa saja dia memarahinya, tapi sekarang anak kecil itu bahkan tingginya sudah melebihi dirinya.


Wanita itu takut juga jika sampai dia marah dan Johan tak segan untuk memukulnya seperti dulu daddy Johan yang suka memukulnya saat mereka bertengkar.


"Mom! Kenapa diam saja? Kenapa mommy tak mengabariku setelah keluar dari penjara?" kini tangan Johan sudah berani mengguncang bahu mommynya saat pertanyaannya tak dijawab juga oleh sang mommy.


"Ehm, Jo. Bisa kita bicara lain waktu saja? Ehm, mommy masih ada urusan, dan kau sebaiknya pulang saja. Jangan suka berkeliaran di tempat seperti ini, itu tidak baik" kata Ruby.


"And what about you? Why are you in here? What are you doing in here? ****! What I have to do now?" bentak Johan melampiaskan amarahnya.


Johan tak pernah menyangka jika akan bertemu dengan sang mommy dalam keadaan seperti ini.


Tangan kekarnya menggusar tambutnya dengan kasar dan memejamkan matanya sebentar, berharap saat dia kembali membuka mata, yang dialaminya hanyalah sebuah ilusi. Johan terlalu kecewa.


"Oh ****! It's really you, mom" umpat Johan lagi.


"Kenapa mommy diam saja? Apa kau tak mendengar semua pertanyaanku?" kali ini Johan membentak.


Dia terlalu kecewa pada keadaan. Malam yang tadinya dia anggap akan menyenangkan saat Lia dan Bayu memaksanya untuk ikut ke tempat ini. Johan kira dia akan mendapatkan surprise.


Mendengar bentakan Johan nyatanya juga membuat nyali Ruby menciut, sampai membuat ya tak bisa berkata-kata.


"Hei bocah tengik, kalau berani lawan gue! Jangan kasar sama perempuan" kata pengawal Ery yang tak terima saat bosnya diperlakukan seperti itu oleh orang lain.


"Gue berani lawan lo. Ayo semuanya maju, lawan gue" teriak Johan yang mendapatkan tempat untuk menyalurkan amarahnya.


Dengan segera kedua tangannya mencengkeram kerah pria yang merupakan pengawal mommynya. Melayangkan sebuah tinju ke arah wajahnya dengan kekuatan penuh hingga membuat pria itu langsung ambruk dalam sekali pukul.


"Hebat juga aku, seperti Saitama saja" puji Johan pada dirinya sendiri dalam gumaman


"Stop, Jo! Jangan membuat keributan disini. Please! Mommy harap kamu mau mendengarkan mommy" teriak Ruby saat melihat putranya ternyata sekuat itu sekarang.


Johan sedikit lega telah menyalurkan emosinya di jalan yang tepat. Kini dia berdiri sambil melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, berharap ada lagi yang mau menantangnya.


Pria jangkung itu tak menghiraukan teriakan mommynya yang kebingungan untuk melerai anak buahnya yang ingin menyerang putranya.


"Maju semuanya! Cepat maju! Dasar banci kalian!" bentakan Johan semakin membuat anak buah Ruby merasa geram. Harga diri mereka sebagai lelaki sedang diuji untuk tunduk pada pimpinannya yang seorang perempuan atau melawan pria di depan mereka, yaitu Johan.


Satu orang berlari maju dengan berteriak sambil berusaha melayangkan pukulan ke arah Johan.

__ADS_1


"Yaaaaakk" teriak pria itu yang belum juga sampai di depan Johan malah sudah terpukul duluan karena tangan Johan yang lebih panjang darinya.


Sekali pukulan sudah membuat pria itu terpental dan bergelundung di lantai sebelum pingsan dengan darah yang mengucur dari hidungnya.


"Stop Jo, kai bisa berurusan dengan polisi jika terus bertindak kasar" cegah sang mommy.


"I don't care. Aku tidak takut, mom. Aku bukanlah Johan kecil yang pengecut, yang menangis saat melihat ibunya digiring ke mobil polisi" kata Johan lirih tapi jelas di telinga Ruby.


Mendengar itu membuat Ruby kembali bersedih. Kembali rasa dendamnya terpupuk di hatinya untuk membalas pada semua keluarga Alexander.


Ruby teringat perkataan Silvi jika Johan hanyalah sebuah bidak, sementara kuda yang bertugas membebaskan Viviane mungkin sudah berada di ruangan Viviane kali ini.


"Sial! Aku terkecoh" kata Ruby yang sudah tersadar dengan rencana tim Alexander.


"Segera ke lantai empat, sepertinya ada penyusup disana" teriak Ruby pada beberapa anak buahnya yang ada di dekatnya.


Mendengar perintah dari bosnya, beberapa lelaki segera bergegas ke tempat yang Ruby katakan. Sementara lengan Ruby malah di genggam oleh Johan agar wanita itu tak bisa kemanapun.


Johan mulai mengerti jika ada sesuatu yang salah disini. Ya, kini Johan tersadar jika Lia mengajaknya malam ini untuk bertemu Ruby bukanlah suatu kebetulan. Johan yakin jika mommynya itu telah berbuat suatu hal yang merugikan keluarga Lia.


Meski Ruby adalah mommynya, tapi Johan harus bersikap benar untuk tidak melindungi orang yang salah.


"Lepaskan mommy, Jo!" bentak Ruby yang ingin sekali melihat tawanannya masih berada di tempat yang aman.


"Never! Apa yang susah mommy lakukan? Jangan menjadi jahat hanya karena iri dengan kebahagiaan orang lain, mom" kata Johan.


"Kau anak kecil tak tahu apapun. Lepaskan mommy atau kau akan tahu akibatnya" bentak Ruby.


Suasana gaduh membuat banyak orang melihat dan berkerumun. Lampu yang padam pun belum berhasil di hidupkan kembali. Suasana bar malam ini cukup kacau.




Lain kegaduhan di bar, lain lagi kegaduhan yang terjadi di lantai empat.



Setelah sebagian lampu di bar padam, beberapa pria yang tadi masuk ke satu-satunya ruangan di lantai itu terdengar bersamaan keluar. Entah mereka akan menuju kemana.



Meyakini keadaan yang sudah sepi, Bayu meminta Lia untuk keluar dari ruangan sempit itu dan keduanya kini bersama-sama menuju ke ruangan besar yang handle pintunya lupa dikunci oleh para pria itu. Sebuah keuntungan bagi Bayu dan Lia.



"Mereka melupakan kuncinya kak" ujar Lia tersenyum di keadaan genting ini.

__ADS_1



"Bagus. Kita bisa langsung masuk" ujar Bayu sambil menyeka keringat di dahinya.



Jantung Bayu pasti jatuh ke perutnya jika dia harus sedikit lebih lama berduaan dengan Lia di ruangan sempit tempat genset bersemayam. Beruntung semua susah usai, meski sedikit kecewa, tapi Bayu sidah bahagia bisa memeluk gadis tercintanya meski hanya sebentar.



Lia mendahului langkah Bayu memasuki ruangan. Membuka handle dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara agar jika ada orang di dalam ruangan itu tak akan menyadari kedatangannya.



"Ruangan ini sepertinya kosong, kak" kata Lia sambil menelisik lebih dalam di ruangan itu.



"Ruangan apa ini? Kenapa banyak sekali akuarium raksasa" tanya Bayu sedikit bergumam.



"Akupun tidak tahu" jawab Lia sambil mengendikkan bahunya.



Lebih kedalam, Lia melihat ada sebuah ranjang yang menghadap ke salah satu akuarium.



Dan saat Lia menoleh ke akuarium itu, Lia terlonjak kaget melihat ada seonggok mayat di dalamnya.



"Astaga! Apa itu kak?" tanya Lia sambil menutup mulutnya yang menganga.



"Sepertinya mayat ini sudah beberapa bulan" jawab Bayu tampa mengalihkan pandangannya dari akuarium, instingnya sebagai seorang dokter ternyata dibutuhkan di tempat yang sangat tak terduga ini.



"Astaga! Mama" kata Lia terlonjak antara senang dan terkejut melihat seorang wanita yang terbaring diatas ranjang dalam keadaan terikat dan mata yang terpejam.



"Mama... Ma.. Apa mama baik-baik saja?" tanya Lia yang tanpa banyak berfikir kini menghambur ke arah mamanya yang terpejam di atas ranjang, sementara Bayu masih mengekor pada Lia yang kini sudah berada di dekat ranjang mamanya.

__ADS_1



Apa yang terjadi dengan Viviane?


__ADS_2