
Viviane mengatur nafasnya perlahan saat kelegaan melingkupi seluruh hatinya karena melihat wajah kotor Junet yang ternyata menyembul dari atap ruangan.
Sementara Viviane merasa lega, lain lagi dengan Junet yang merasa takut dengan penampakan di sebuah akuarium besar yang ada di hadapan Viviane.
Hingga ponselnya terjatuh ke lantai ruangan sangking kagetnya. Membuat dia dan Viviane terlonjak kaget, takut jika ada orang yang mendengarnya.
"Maaf neng, gue kaget banget lihat begituan" kata Junet berbisik yang hanya terlihat wajahnya dari kolong atap sambil menunjuk ke arah mayat di dalam akuarium menggunakan dagunya.
"Iya bang, biar saya ambil hapenya" kata Viviane sambil berusaha keras menuruni ranjangnya dan berjalan pelan dengan kondisi kaki dan tangannya yang masih saja diikat.
Sedikit susah payah, Viviane berhasil mengambil ponsel Junet yang layarnya retak dan dalam kondisi mati.
"Kayaknya hapenya rusak, bang" kata Viviane sambil mencoba menekan tombol power di ponsel itu yang berakhir sia-sia.
Rasa takutnyapun sedikit berkurang karena kini dia tidak sendirian di dalam ruangan mengerikan ini.
"Rada lamaan dikit mencetnya, neng. Memang itu hapenya rada soak" kata Junet.
Viviane melakukan seperti instruksi Junet. Dan memang ponselnya kini hidup meski layarnya sedikit retak.
"Layarnya retak, bang" kata Viviane yang menunggu ponsel Junet hidup dan mulai timbul foto seorang bocah lelaki kecil di layarnya, Viviane tersenyum karena dia yakin jika Junet memanglah seorang yang baik pada dasarnya.
"Kagak apa-apa, neng. Yang penting bisa nyala" jawab Junet yang lupa dengan keinginannya menemui Viviane dari kolong atap.
"Boleh saya pinjam hapenya, bang?" tanya Viviane meminta ijin.
"Boleh neng, tapi jangan lama-lama, gue takut ketahuan sama si bos" jawab Junet santai.
Viviane segera menekan beberapa digit nomor Vicky yang sudah dihafalkannya luar kepala.
Cukup lama menunggu akhirnya nada sambung tak terdengar lagi, berganti suara Vicky yang berucap "Hallo".
"Bang... Bang Vicky..." kata Viviane sambil menangis karena terlalu senang mendengar suara suaminya.
"Vi, sayang. Ini benar suara kamu?" tanya Vicky yang nada suaranya terdengar bergetar.
"Ini aku, bang. Tolong aku bang. Tolong selamatkan aku dari kak Ruby. Dia sudah sangat berubah, bang. Tolong juga untuk selalu menjaga keamanan dan keselamatan anak-anak, bang" kata Viviane sambil menangis.
"Tenang, sayang. Tenanglah. Malam ini juga akan aku selamatkan kamu, ya. Bagaimana keadaanmu? Apa dia bersikap tidak baik padamu?" pertanyaan Vicky tak lagi terdengar karena tanpa sepengetahuan Viviane dan juga Junet, rupanya ada seseorang yang berada di hadapan mereka yang tiba-tiba merampas ponsel Junet dan melemparkannya hingga pecah tak beraturan.
"Bagus. Ternyata si tukang listrik kita adalah seorang pengkhianat" kata Tomi yang selama ini adalah seorang petinggi di bar tersebut.
Junet tak menyangka jika dia akan sebodoh itu dengan tak menyadari jika ada Tomi di dalam ruangan itu. Dan keduanya juga tak tahu sejak kapan pria itu berdiri disana.
Dengan wajah pias seperti kurang darah, Junet kelabakan dengan kejutan seperti ini.
"Sejak kapan kau berkhianat, brengsek?" tanya Tomi datar dan awas, takut jika Junet membawa senjata.
"Maafkan saya, bos. Tapi ini semua cuma kebetulan karena tasi saya sedang memperbaiki lampu di ruangan sebelah" jawab Junet berbohong, berharap Tomi mau mempercayainya.
"Bodoh! Hanya ada satu ruangan di lantai ini. Kau sengaja menemui wanita ini, ya?" tanya Tomi.
__ADS_1
"Ti... Tidak bos. Sumpah" kata Junet sambil memperlihatkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Dasar bodoh, cepat turun" teriakan Tomi seakan menyadarkan Junet untuk segera pergi.
Tanpa berpamitan lagi, Junet segera merangkak menjauhi kolong atap dan menyusurinya dengan hati-hati.
Melihat mangsanya hendak kabur, Tomi mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan segera menembak ke arah yang dia yakini ada Junet disana.
Dor!
Tembakan pertama membuat Viviane terlonjak kaget karena tidak menyangka jika keadaan menjadi segawat ini.
Beruntung bagi Junet dan buntung bagi Tomi karena tembakannya meleset.
Entah bagaimana caranya sampai Junet bisa mengecohnya dengan membuat suara palsu dari atas atap.
"Sialan. Awas kau tukang listrik brengsek" umpat Tomi sambil menodongkan pistolnya ke arah atap.
Dengan menajamkan telinganya, Tomi berharap bisa benar untuk menebak letak Junet kali ini.
Krasak!
Dor!
Tembakan kedua melesat ke atap.
"Aahh" teriakan terdengar oleh Viviane dan Tomi.
"Kena kau, tikus!" umpat Tomi yang melihat ada kucuran darah merembes dari asbes di pojok ruangan.
Namun tak lagi terdengar suara gaduh ataupun teriakan dari Junet.
"Awas kau, nyonya" ancam Tomi pada Viviane sambil berjalan keluar ruangan dengan tergesa.
"Semoga kau baik-baik saja, bang Junet" Viviane hanya bisa berharap yang terbaik.
Tak berselang lama, terdengar langkah terburu dari beberapa orang mendatangi ruangan Viviane.
Sikap awas Viviane kembali siaga. Keselamatannya mulai menipis.
"Lo naik, lihat diatas apa masih ada disana. Syukur-syukur kalau dia sudah mati" kata Tomi memerintahkan seorang anak buahnya.
"Siap bos" jawab pria suruhan Tomi bergegas memasang tangga lipat dan segera berusaha menaikinya.
"Lo berdua cari tub orang di seluruh penjuru gedung ini. Cari di tempat yang sekiranya dia bisa turun" perintah Tomi pada dua pria yang salah satunya adalah Is.
Tadi saat memasuki ruangan, Is langsung memberi kode pada Viviane agar berpura-pura tidak kenal.
Dan dari sorot mata Is yang terkejut, Viviane yakin jika pria itupun baru pertama kali melihat ada mayat di dalam ruangan itu. Tapi Is tak memperlihatkan keterkejutannya.
Dua pria suruhan Tomi segera melakukan tugasnya. Berlari keluar dan mencari keberadaan Junet.
__ADS_1
"Dan buat Lo berdua, cepat keluar dan cari Junet di luar. Tangkap dia dalam keadaan hidup ataupun mati" perintah Tomi membuat Viviane semakin tak enak hati.
Entah bagaimana kondisi Junet melihat ada kucuran darah di atap ruangan. Viviane hanya berharap yang terbaik.
"Bos, disini nggak ada satu orangpun" kata pria yang tadi memasuki kolong atap.
"Sial! Kemana Junet dalam keadaan terluka seperti itu?" gumam Tomi sambil mengepalkan tangannya.
"Coba lo telusuri seluruh bagian atap, cari petunjuk kira-kira dimana Junet turun" perintah Tomi lagi.
"Siap bos" jawab pria itu yang kembali masuk dan menelusuri isi dari atap ruangan itu.
"Sial! Ery bisa ngamuk kalau tahu ada yang masuk ke ruangan ini selain gue dan dia doang" gumaman Tomi bisa terdengar oleh Viviane yang bertampang bodoh, berlagak tidak mendengar apapun.
"Rupanya ruangan ini sangat rahasia. Dan pria ini sepertinya juga takut pada Kak Ruby" batin Viviane menilai keadaan Tomi yang sedikit kalut.
"Hei wanita sialan! Lo jangan sekalipun bilang ke Ery kalau gue datang membawa beberapa orang masuk kemari. Kalau sampai Lo bocorin, gue pastiin kalau lo nggak akan lagi bisa melihat mentari" ancam Tomi.
Viviane hanya diam. Meladeni orang yang ketakutan seperti Tomy akan banyak berdampak buruk kalau sampai salah bicara. Apalagi dia membawa senjata.
Tomi nampak berjalan bolak-balik di ruangan ini. Menunggu beberapa saat untuk mendapatkan kabar terasa sangat lama bagi Tomi yang ketakutan.
Sementara di tempat lain yang masih berada di satu lantai yang sama, Is dan temannya yang bertugas mencari keberadaan Junet berpencar agar semakin mudah untuk menemukan Junet.
Dan tugas Is adalah menelusuri ruangan sisi kiri dimana ada toilet disana. Dengan sigap, Is memasuki toilet itu yang ternyata di dalamnya ada dua bilik dengan sebuah cermin besar dan wastafel. Seperti kamar mandi di tempat umum.
Mendengar ada rintihan tertahan dari salah satu bilik toilet, Is berjalan perlahan ke arah bilik itu dan memegang handle nya yang ternyata terkunci dari dalam.
"Bang Junet, apa lo ada didalam sana?" tanya Is dengan sedikit berbisik.
Agak lama diam, tapi Is tak mendengar apapun lagi.
"Ini gue, bang. Gue Is" kata Is masih berbisik.
"Iya Is, ada gue disini" akhirnya Junet menjawab dengan suara tertahan.
"Buka bang. Gue dengar lo lagi terluka, ya?" tanya Is.
Terlihat handle pintu bergerak, dan mulai terbuka sedikit demi sedikit.
"Lengan lo terluka, bang?" tanya Is saat melihat tangan kanan Junet memegangi lengan kirinya.
"Iya Is. Untung saja bukan kena dada. Kalau enggak, gue koit dah" kata Junet sambil menahan rasa sakitnya.
"Bang Is, lo didalam?" tanya seorang pria yang tadi bertugas bersama Is.
Panik.
Is dan Junet tentu panik mendengar ada orang yang mau memasuki toilet.
Mereka berdua hanya bisa saling pandang untuk mencari jalan keluar.
__ADS_1