
"Ma, ternyata kak Bayu juga sekolah di tempat yang sama denganku" kata Lia di sela makan malam bersama keluarganya.
"Bayu siapa sih, sayang?" tanya Viviane.
"Anaknya om Bima itu loh ma. Tadi Lia ketemu sama kak Bayu saat ada sedikit masalah. Dan kak Bayu yang menolong Lia" kata Lia melanjutkan ceritanya.
"Oh, bagus dong. Kamu jadi ada temannya" kata Viviane.
Kini, malah Vicky yang merasa tak suka. Pria itu tak menyangka jika masih harus berurusan dengan Bima dan anaknya.
"Jangan terlalu sering bertemu dengannya" kata Vicky.
"Kenapa pa? Kak Bayu itu siswa yang berprestasi loh. Kan dia bisa membimbing Lia" kata Lia heran.
Viviane tersenyum kecil, dia tahu kalau Vicky masih cemburu terhadap Bima. Bahkan disaat mereka sudah menjadi sepasang suami istri, rupanya pria itu masih saja bersikap kekanak-kanakan.
Makan malam di hari inipun dilalui dengan obrolan yang cukup menarik. Sampai akhirnya semua orang harus kembali ke dalam kamar mereka masing-masing.
"Johan sedang apa ya?" gumam Lia yang masih belum bisa tidur.
Gadis kecil itu sebenarnya sudah merebahkan dirinya dengan nyaman di atas ranjang. Tapi matanya masih sangat berbinar, belum ada rasa kantuk menghampiri.
"Apa aku telepon saja ya dia?" gumamnya masih meragu.
"Tapi kalau dia sudah tidur bagaimana?" keluhnya lagi.
Tapi jarinya tidak sengaja memencet tombol video call saat layar ponselnya menunjukkan nama kontak Johan.
"Ah, sudah terlanjur" kata Lia sambil menunggu Johan mengangkat teleponnya.
"Ada apa Lia?" tanya Johan dengan mata terpejam, rupanya dia memang memang sedang tidur.
"Kau tidur ya, Jo?" tanya Lia tanpa rasa bersalah.
"Kau pikir aku sedang apa? Olahraga? Ini masih jam dua pagi, Lia. Dan kau sudah ribut dengan panggilan videomu" keluh Johan, tapi tetap tidak mematikan panggilan mereka.
Lia terkikik geli, melihat tampilan Johan yang bermuka bantal.
"Kau sudah sekolah, Jo?" tanya Lia.
"Belum, sepertinya besok aku mulai pelajaran baruku disini" jawab Johan.
"Aku selalu berdoa untuk kebaikanmu disana, Jo. Ehm, bagaimana dengan ayahmu? Apa dia tidak menjahatimu?" tanya Lia.
"Tentu saja tidak. Ayah sangat menyayangiku disini. Bahkan tadi seharian kami berjalan-jalan bersama, dan kami pulang sedikit larut karena terlalu asyik. Dan baru saja aku bisa tertidur dengan nyenyak, kau malah menggangguku dengan teleponmu ini" gerutu Johan, meski matanya masih terpejam tapi dia bisa berbicara sepanjang itu.
Dan Lia senang karena sepertinya Johan sudah tak murung lagi. Kini dia sadar jika keinginan Johan memanglah untuk bisa tinggal bersama ayah kandungnya.
"Hihihi, aku tidak bisa tidur Jo. Dan saat aku kepikiran kamu, yasudah aku telepon saja" ucap Lia senang karena bisa mengganggu Johan.
"Eh sebentar, ada panggilan video yang masuk ke ponselku, Jo" kata Lia yang sedikit terkejut saat ponselnya bergetar.
"Siapa?" tanya Johan.
"Kak Bayu? Darimana dia tahu nomor ponselku, ya?" gumam Lia yang masih sangsi untuk menjawabnya atau tidak.
"Siapa itu kak Bayu?" tanya Johan.
"Anak yang waktu itu kita bertemu di acara perusahaannya papa di Bandung, Jo. Apa kau ingat?" tanya Lia yang masih membiarkan panggilan Bayu.
"Ada apa dia meneleponmu?" tanya Johan, bahkan dia sudah membuka matanya dengan sempurna saat mendengar nama Bayu.
"Mana aku tahu, Jo. Tapi sudah mati, aku terlalu lama membiarkannya" kata Lia.
"Baguslah" komentar Johan yang kembali memejamkan matanya.
"Eh, tapi dia meneleponku lagi. Aku angkat ya. Kita video call bertiga" kata Lia tanpa menunggu jawaban dari Johan.
__ADS_1
"Hai kak, ada apa menelponku?" tanya Lia to the poin, tak ada basa-basi nya sama sekali.
"Tidak ada apa-apa, cuma ingin saja meneleponmu. Ehm, tapi sepertinya kau sedang menelpon orang lain ya?" tanya Bayu yang melihat layar ponselnya terbagi tiga.
"Iya, tadi aku menelpon Johan. Kakak kan juga mengenalnya, jadi aku pikir tidak ada salahnya kita ngobrol bersama" kata Lia.
"Oh, tentu saja. Hai, Jo. Apa kabarmu? Kau sudah tidur sesore ini?" tanya Bayu sedikit mengejek.
"Sore? Ditempatku sudah lebih dari jam dua pagi. Tadi Lia dengan sengaja membangunkanku" jawab Johan sedikit tak terima.
"Jam dua? Memangnya kau sedang ada dimana?" tanya Bayu heran.
"Johan sekarang tinggal di Polandia, kak. Di luar negri. Tadi aku sedang tidak bisa tidur, makanya aku menelponnya yang ternyata disana sudah hampir pagi" kata Lia.
"Oh, kau tidak bisa tidur Lia? Aku juga sama, makanya aku menghubungimu" kata Bayu.
"Darimana kakak tahu nomor ponselku?" tanya Lia.
"Kau memberikannya saat kita di Bandung. Apa kau lupa?" tanya Bayu.
"Oh iya, aku lupa" jawab Lia, sementara Johan masih asyik terpejam meski telinganya mendengarkan percakapan kedua temannya.
"Kalau kau tidak bisa tidur lagi, kau bisa kapan saja menghubungiku Lia. Aku dengan senang hati pasti akan mengangkat teleponmu" kata Bayu.
"Telepon aku saja, Lia. Aku pun tidak keberatan" sahut Johan.
"Ya, nanti aku akan menelepon salah satu dari kalian" ucap Lia.
"Kau masuk sekolah jam berapa, Jo?" tanya Lia.
"Ayahku bilang jam setengah sembilan pagi" jawab Johan.
"Oh, jadi masih cukup banyak waktu untukmu tidur ya. Aku kan tidak merasa sangat bersalah kalau tahu kau akan masuk sesiang itu untuk bersekolah" kata Lia.
"Terserah kau saja, Lia" jawab Johan.
Jadi, mau tak mau Lia harus mengakhiri panggilan videonya setelah berpamitan, begitupun mama Viviane yang menyempatkan diri untuk sedikit menyapa Johan dan Bayu. Lalu segera menyuruh Lia agar segera tidur.
"Hoek... Hoek..."
Vicky terbangun dari tidurnya saat mendengar sang istri kembali memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.
Masih beradegan mengucek mata, Vicky mendatangi Viviane yang masih saja ingin muntah meski sudah tak ada apapun yang keluar dari dalam mulutnya.
"Kau mual lagi, sayang?" tanya Vicky, sambil memijit tengkuk Viviane dengan lembut.
Viviane hanya mengangguk, tak kuat untuk menjawab pertanyaan suaminya.
Dan saat sudah merasa lebih baik, diapun memilih untuk kembali merebahkan dirinya diatas ranjang.
"Masih jam lima pagi. Sebaiknya kamu istirahat lagi, ya" kata Vicky sambil menyelimuti dan ikut merebahkan dirinya disamping Viviane. Sementara Viviane hanya bisa diam dan mengangguk.
__ADS_1
"Pergi dari sini, bang. Aku tak suka baumu" keluh Viviane yang memaksa Vicky agar melepaskan pelukannya.
"Hah? Maksudnya?" tanya Vicky heran.
"Kamu bau, aku tidak suka baunya" kata Viviane sambil menutup hidungnya.
"Sepertinya aku tidak bau" gerutu Vicky sambil mengendusi badannya.
"Pergi, bang. Hoek... Hoek..." lagi-lagi Viviane harus berlari ke kamar mandi karena merasa badan suaminya yang bau.
"Aneh sekali" gerutu Vicky, tapi dia ikut saja saat Viviane harus muntah lagi di kamar mandi.
"Aku lemas sekali, bang" kata Viviane sambil meringkuk di lantai kamar mandinya.
Dengan sigap Vicky menggendong istrinya ke atas ranjang dan kembali menyelimutinya.
"Bisakah kau sedikit menjauh? Aku tidak tahan dengan bau badanmu" rengek Viviane.
"Baiklah, asalkan kau bisa beristirahat kembali" jawab Vicky.
Diapun beranjak ke untuk merebahkan dirinya di sofa dan membiarkan istrinya menguasai ranjang yang selama ini menjadi singgasananya.
"Apapun asal kau bahagia, sayang" tutur Vicky yang sudah mengambil bantal dan selimut untuk dipakainya tidur di atas sofa.
Dan rupanya cara itu berhasil membuat Viviane kembali tertidur, sementara dirinya malah sibuk mencari posisi nyaman yang tak juga didapatkan.
Hampir setengah jam Vicky tak bisa tidur lagi, dan karena tak tahan, diapun memilih untuk pergi keluar kamar dan meminta art nya untuk membuatkan kopi.
Vicky ingin bersantai saja di dekat kolam daripada hanya visa melihat sang istri yang terlelap tanpa bisa memeluknya.
.
.
.
.
__ADS_1