
"Elios Desnomia Yasa bahkan bukan tuan muda di hadapan pelayan Narendra. Dia hanya Elios. Kamu menyebut nama Elios sebagai tuan muda padaku?"
Kenapa Daniel terlihat sangat pucat karena perkataan Dwi?
"Tolong mengerti bahwa saya hanya menjalankan perintah," balas Daniel lagi, jelas-jelas pucat pasi.
"Maka aku juga," tegas Dwi.
Dwi menoleh sekilas pada Roxanne padahal tidak melihatnya juga. Namun dia tersenyum seolah berkata semua baik-baik saja.
"Perintah Tuan Muda Pertama, pemegang kekuasaan kedua setelah Tuan Besar Utama, berkata Elios boleh bertemu istrinya atas izin dari Narendra. Untuk sekarang tidak ada izin sama sekali jadi kembali dan beritahu Tuan Muda Yasa bahwa dia harus lebih bersabar."
Roxanne menatap punggung Dwi dengan perasaan aneh yang bergejolak.
Sejujurnya ia mau pergi. Roxanne pada akhirnya hidup bergantung pada Elios jadi orang itu bukan benar-benar tidak penting. Terlebih, Elios berjanji akan berubah. Walah tidak sepenuhnya percaya, jika itu benar-benar terjadi, maka Roxanne pasti akan hidup lebih baik.
Lagipula tidak mungkin selamanya ia akan hidup di kediaman ini. Kastel Elios akan jadi cepat atau lambat dan saat itu tiba, Roxanne akan kembali ke kehidupannya sebagai istri Elios di kastel milik Elios.
Ia harus pergi.
"Dwi—"
__ADS_1
"Aku," Dwi berucap pelan, "sudah bilang tidak ada izin, kan?"
Roxanne melihat keringat kecil di kening Daniel. Entah kenapa suara tenang itu malah membuat dia mundur teratur.
"Saya mengerti. Mohon maaf, Nyonya."
Daniel pergi, bahkan sebelum Roxanne bisa mengatakan apa-apa.
Tatapan Roxanne bergulir pada Dwi, tidak bisa menyalahkan dia atas sikapnya karena mungkin saja Arkas yang meminta. Meski baik, Arkas tidak benar-benar tahu cara mengampuni orang.
"Dwi."
"Aku mengerti. Tidak masalah." Roxanne balas tersenyum sekalipun jelas Dwi tak melihat.
Pelan-pelan ia duduk kembali ke ranjangnya, mengamati aliran infus di selang yang terhubung ke punggung tangannya.
Roxanne ingin diam dulu memikirkan, apalagi ia sedikit khawatir sebab Elios sudah kehilangan Graean. Kabar istri yang lain tidak bisa Roxanne jangkau. Mariana, Diane bahkan Sanya. Satu dari mereka, apa tidak ada yang diizinkan pergi melihat Elios?
Dan kenapa Elios memanggil? Bahkan dia menggunakan namanya sebagai Yasa hanya agar Roxanne pergi. Pasti ada urusan penting kan? Haruskah Roxanne pergi? Haruskah ia meminta izin langsung pada Arkas?
"Kamu merindukan Elios?" Dwi memecah pikiran Roxanne dengan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Bukan seperti itu. Aku hanya ...." Entahlah, sulit mengatakannya ternyata. Yang jelas Roxanne tidak bisa tidak memikirkan Elios juga.
"Aku istrinya," ucap Roxanne mengubah jawabannya. "Aku punya kewajiban memikirkan suamiku."
"Memikirkan, kah?" Dwi membeo.
Roxanne mendongak. "Ada apa, Dwi? Kamu merasa itu aneh?"
"Tidak. Seorang istri sering memikirkan suaminya. Itu hal wajar," balas pria itu.
Tapi saat mengatakan itu, Dwi tahu-tahu sudah menunduk pada Roxanne, memegangi rahangnya lembut.
Roxanne terbelalak begitu ia tahu apa maksud dari posisi ini. Embusan napas Dwi di bibirnya terasa panas dan di saat yang sama juga terasa salah.
"Dwi?"
Pria itu mengusap sekilas pipinya. "Bolehkah?" tanyanya seakan itu hal wajar.
Dan sebelum ada waktu Roxanne menjawab, bibirnya sudah menekan bibir Roxanne.
*
__ADS_1