
Cinta, kah?
Sanya selalu merasa geli dengan kata menjijikan itu. Apa yang bisa kepalanya pikirkan hanyalah satu hal. Tidak pernah berubah bahkan jika panas terik mengeringkan tanah atau hujan membawa banjir.
Itu selalu membuat Sanya jijik sampai ia tak bisa bernapas. Dirinya tak mau mengenali apa itu cinta. Dari siapa pun itu, Sanya tidak mau.
"Ada trauma dalam dirimu," ucap Elios pada satu malam dia mendatangi kamar Sanya. "Trauma pada pria, lebih tepatnya. Imutnya ... untuk ukuran gadis sepertimu."
"Itu bukan trauma." Sanya membalas Elios dengan senyum malam itu. "Hanya ... Sanya takut hilang kendali dan mengorek isi otak seseorang yang mendekat."
"Menipuku pun percuma, Anak Kecil. Aku mengenali bekas kekerasan luar biasa dalam dirimu, meskipun tidak ada bekas yang terlihat. Jauh lebih parah dari Graean, kurasa."
Parah, kah? Bahkan Roxanne yang bodoh pun dapat melihatnya. Apa sejelas itu yah? Apa Sanya terlihat lemah?
"Jangan terbawa perasaan lemah." Suara itu masih sangat segar di ingatannya. "Bunuh siapa pun yang mengganggu kestabilan dirimu. Siapa pun itu."
Apa Roxanne ia bunuh saja? Untuk melihat apakah ia melemah atau tidak.
"Yah, mari diam dulu." Sanya mengacak pelan rambutnya, menatap kosong langit-langit. "Aku juga penasaran dengan ending permainan Elios."
__ADS_1
Sebentar lagi. Hanya butuh sedikit dorongan lagi sampai Elios bisa mewujudkan keinginannya.
Di saat itu kira-kira Roxanne akan melakukan apa?
*
Katanya akan diadakan pesta ulang tahun untuk Eirene. Semua orang, bahkan Elios, terkejut ketika Eris dan Arkas turun ke lantai bawah tanah membawa berita itu. Apalagi ketika Elios mengerutkan kening dan berkata bahwa itu tidak pernah ada.
"Pesta ulang tahun, apalagi untuk orang mati? Baut di kepalamu sudah berkarat?" kata Elios sarkas.
Arkas mendelik pada Elios. "Aku bisa mencegah Eris menebasmu kemarin tapi aku juga bisa menyuruhnya melakukan itu sekarang."
"Memang tidak ada. Bagi kami, hari ulang tahun sama saja dengan hari lain." Arkas menjawab Mariana lembut, berbeda dari Elios. "Tapi, ini juga untuk mengenang sebelas tahun setelah kematian Eirene. Sebentar lagi ulang tahunnya jadi kupikir lebih baik dirayakan. Kalian yang tidak bisa hadir di situasi biasa pun sedang berkumpul di kastel ini, jadi tidak ada salahnya membuat pesta. Tentu saja, hanya untuk Narendra."
Roxanne melihat ekspresi Elios yang seolah tidak tertarik. Sepertinya walaupun dia mencintai Eirene, Elios tidak suka merayakan sesuatu dengan Arkas. Mau bagaimana lagi, dia dan Arkas selalu berselisih.
Perhatian Roxanne teralihkan pada Eris. Pria itu hanya duduk di samping Arkas tanpa suara. Matanya terpejam rapat, ekspresinya sama seperti biasa. Apa yang dia pikirkan?
"Ini perintah dariku jadi kalian semua harus hadir." Arkas tersenyum kecuali pada Elios. "Bukan hanya itu, aku berharap kalian berpartisipasi dalam mempersiapkannya. Sebagai bentuk peringatan, aku ingin menerbangkan sebelas ribu balon dan lampion. Kuharap kalian bisa membuat beberapa hiasan buatan kalian untuk adik kecilku."
__ADS_1
"Buang-buang waktu." Elios beranjak. "Lakukan saja sendiri. Aku tidak mau."
Roxanne bertanya-tanya haruskah ia mengejar Elios dan memastikan kondisinya, tapi karena Mariana bahkan tidak beranjak, Roxanne putuskan tetap diam.
Tentu saja, baik Roxanne, Arkas ataupun Eris tidak tahu bahwa Elios pergi bukan karena marah.
Pria itu tertawa kecil saat berada dalam kamarnya.
"Askala memang rekan yang berguna."
Sudah jelas siapa yang membuat semua ini. Arkas bahkan Eris pastinya tidak mau membuat sebuah perayaan untuk kematian Eirene mereka tercinta. Tapi Askala pasti mau.
Dan dia bisa memintanya bahkan tanpa alasan. Dia mau. Hanya kata sederhana itu saja sudah cukup mewujudkan segalanya.
"Aku memang tidak peduli pada perayaan." Elios terduduk di kasurnya. "Dasar menyebalkan. Mereka mau tertawa merayakan kematianmu, Eri? Memang lebih baik Sanya meledakkan tempat ini juga."
Meski Elios tidak menyangkal kalau ini kesempatan emas.
*
__ADS_1