Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Kamu Baik-Baik Saja?


__ADS_3

Pemimpin Utama berdiri dari kursinya. Melewati Askala begitu saja, pria itu turun dari tempat tinggi, menuju ke lingkaran di mana Roxanne duduk tenang.


"Dari mana informasi itu?" tanya beliau secara langsung.


"Saya orang bodoh yang dikendalikan oleh anak kecil itu," jawab Roxanne tenang. "Anda melihat saya seperti ini sekarang juga karena anak itu. Kematian Graean, hancurnya Kastel Yasa, perselisihan antara Arkas dan Elios, Sanya setidaknya adalah tokoh utama dalam hal tersebut."


Pria itu langsung menatap Elios. "Kamu tahu istrimu keturunan Trika?"


Elios diam.


Pemimpin Utama menatap Eris. "Di mana Sanya?"


Eris menarik napas kecil sebelum menjawab, "Kurasa sekarang bukan pembicaraan mengenai itu, Paman."


"Lalu pembicaraan apa yang harus dilakukan, Eris? Bahwa kamu meminta istri dari adikmu, yang jika masalahnya bukan soal dia istri Narendra maka masalahnya adalah dia hanya wanita biasa? Kamu ingin berkata bahwa itu jauh lebih penting daripada fakta kamu menyembunyikan kerabat Narendra yang secara mengejutkan saya, Pemimpin Keluarga, tidak mengetahuinya."


Askala menyusul turun ke tempat Pemimpin Utama dan menarik lengannya lembut. "Ayah, aku tahu di mana Sanya jadi selesaikan mengenai ini dulu."


Pemimpin Utama langsung menatap Roxanne. "Lalu selesaikan, Anak Kecil. Kamulah alasan persidangan ini terjadi."


Roxanne menatapnya tanpa sedikitpun keraguan. "Kalau begitu tolong bawa Sanya ke tempat ini juga, Tuan."


Keputusan Roxanne yang disetujui oleh Pemimpin Utama bukanlah bagian dari rencana Eris, Arkas ataupun Elios. Bahkan Askala yang menikmati kekacauan pun dibuat terdiam mengamati situasi.

__ADS_1


Keputusan Pemimpin itu mutlak jadi detik itu juga Sanya diterbangkan menuju Kastel Mawar. Di saat bersamaan, seluruh dokumen mengenai Sanya yang disembunyikan oleh Arkas dan Elios berpindah ke tangan Pemimpin.


Roxanne yang berada di tengah kekacauan itu menatap Elios di sana.


"Kamu berpura-pura tidak mengingat apa pun, Istriku? Tampaknya kamu justru sedang balas dendam karena diperlakukan seperti orang bodoh," kata Elios.


Tapi Roxanne menggeleng. "Aku hanya mengingat Sanya dan mengatakan apa pun yang kupikirkan."


Satu hal yang Roxanne selalu ingat dalam benaknya sejak ia bangun. Adalah perkataan Sanya tentang dia adalah sekutu Roxanne.


Dan Roxanne meyakini bahwa anak itu akan datang. Sanya akan datang padanya.


Selalu begitu.


*


Langkah demi langkah Sanya terdengar ringan. Mendekati lingkaran di mana Elios, Eris dan Roxanne berada.


"Sanya menunggu Kakak," ucap anak itu. "Tapi selalu dan selalu, harus selalu Sanya yang datang duluan mencari Kakak."


Bukankah selalu seperti ini? Harusnya Roxanne yang datang karena Roxanne yang butuh, namun selalu saja berakhir Sanya mendatanginya sebab Roxanne tidak bisa melakukan apa-apa.


Sanya tersenyum kecil, berdiri di samping Roxanne tanpa diminta.

__ADS_1


"Baiklah, akan Sanya lakukan yang Kakak harapkan. Tapi Kakak harus tahu bahwa Sanya tidak pernah memihak Kakak."


Baru saja Sanya ingin membuka suaranya, mengatakan bahwa ia memang anak kerabat Narendra yang didoktrin untuk menguasai keluarga ini karena pasti itulah yang mau pria paruh baya itu dengar—lebih dulu Roxanne berbicara.


"Sanya." Roxanne menatapnya. "Kamu baik-baik saja?"


Sanya seperti tersambar petir. Dari semua hal yang ia perkiraan, mendengar Roxanne bertanya ia baik-baik saja bahkan tidak ada di lembar terakhir perkiraannya.


"Omong kosong apa yang Kakak katakan? Untuk apa Kakak tahu aku—"


"Tapi kamu memanggilku."


Roxanne menatap mata gadis yang hanya tersisa satu di kanan itu.


"Kamu memanggilku, setiap malam. Kamu menungguku."


Roxanne tidak peduli pada sidang atau apa pun yang diperebutkan oleh Elios, Eris dan Arkas. Roxanne bangun untuk satu hal ini saja.


Sanya. Dia yang membangunkan Roxanne. Dia datang setiap waktu di mimpinya dan berkata bahwa Roxanne meninggalkan dia sendirian.


"Aku tahu aku hanya bermimpi. Mungkin aku hanya memikirkan hal tidak penting. Tapi," Roxanne mengulurkan tangan ke tangan kecil itu, "harusnya beritahu aku jika kamu butuh bantuan."


Sanya mendadak tidak tahu kenapa ia berdiri di sini.

__ADS_1


*


__ADS_2