
Askala bukan wanita yang terkejut jika dibentak, bahkan kalau itu pertama kali Arkas membalasnya.
Justru, Askala semakin mengeratkan cengkram pada pakaian Arkas.
"Aku wanita Narendra! Aku dibesarkan untuk egois! Kamu yang berbisik padaku agar aku egois lalu sekarang itu salah?!"
"Jika semua Narendra benar-benar egois, lalu kenapa aku harus menahan diri?!" Arkas semakin kalap mendorong Askala ke pintu.
Punggung wanita itu terbentur sangat keras sampai Askala mengerang, namun Arkas terlalu marah dan justru mencekiknya.
"Aku menahan diri demi semua orang! Aku tidak boleh melakukan apa yang kuinginkan karena semua orang! Karena kalian semua! Karenamu terutama!"
Askala tak dapat membalas sebab Arkas mencekiknya sangat kuat. "Ugh."
Sekali lagi, Arkas tak sadar. Akal sehat dan kasihnya hilang entah ke mana. Yang berkobar di matanya hanya kebencian dan rasa lelah.
"Aku membencimu! Aku membencimu sejak dulu! Itu yang ingin kamu dengar, kan?! Aku sangat membenci manusia egois sepertimu!"
Kedua air mata Arkas justru jatuh saat itu juga.
"Aku sudah lelah dengan semuanya! Aku muak dengan harapan kalian padaku! Padahal aku berusaha keras! Aku berusaha sangat keras bertahan tapi selalu ada kamu, Eris, Elios, semua orang, menyuruhku untuk bersabar dan bersabar! Aku tidak lahir untuk kebahagiaan kalian semua lalu menderita sendirian!"
Di saat segalanya telah kehilangan kendali dsn keluar dari batasan, sebuah tangan tiba-tiba mendekap Arkas.
Itu pelukan yang erat, namun terasa sangat lembut. Menarik kembali seluruh kewarasan Arkas untuk kembali pada tempatnya.
"Anda pasti sangat lelah."
Arkas terbelalak melepaskan tangannya dari Askala.
"Semua baik-baik saja, Tuan Muda." Suara lembut Arista, istrinya, melumpuhkan saraf Arkas. "Anda sudah berusaha keras. Sangat amat keras. Jadi Anda sangat berhak untuk lelah."
Arkas berlutut. Menangis terisak-isak memeluk tubuh Askala.
__ADS_1
"Maaf."
Bagaimana bisa ia melukai adiknya sendiri?
"Maaf. Aku bersalah. Aku bersalah. Maaf."
Askala memejamkan matanya tapi tak mampu menahan air mata yang sama.
Tangannya memeluk pundak Arkas, memastikan pelukan itu seerat mungkin.
"Dasar bodoh."
*
Ternyata Arkas menempatkan Sanya dalam penjara khusus. Tempat yang mustahil bisa ditembus dari luar ataupun dari dalam kecuali melewati berlapis-lapis pintu baja.
Bahkan sekalipun Eris sudah menduga Sanya berbahaya, tidak ia sangka Arkas takut padanya.
Begitu mendekat, Eris mendengarnya.
Suara hitungan.
"130.009, 130.010, 130.011."
130.000 itu hampir mendekati waktu dia dikurung. 130.000 detik, Eris menebak maksud hitungan itu.
"Sanya." Eris mencari tombol selnya untuk dibuka, masuk ke kurungan sebenarnya. "Ini aku, Eris. Kamu melihatku?"
Gadis itu terkikik. "Sanya tidak bisa melihat."
Jadi Arkas juga menutup matanya. Tapi, kenapa suara anak ini terdengar berbeda? Dia terdengar agak lemah.
"Kamu datang membunuh Sanya? Atau menyiksa Sanya agar bicara? Sudah Sanya bilang, semua orang yang mengaku keturunan Abkariza sudah Sanya bunuh."
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak datang membicarakan hal itu."
Hidup atau tidak, mana mungkin mereka percaya begitu saja omongan Sanya jadi Eris sudah mengirim sejumlah orang mencari tahu detail identitas Sanya.
"Mengenai Roxanne, kamu tahu dia sekarat?"
Sanya kembali tertawa aneh. "Padahal Arkas berada di sini malam kemarin, tapi Askala tetap melukai dia? Sayang sekali. Oh, atau Elios membunuhnya? Sayang sekali. Padahal Sanya menyukai Kakak."
"Kamu membuang Roxanne?" Eris meraba tempat duduk sebelum mengistirahatkan diri di sana.
Ia memang datang untuk bicara panjang dengan anak ini.
"Bukannya kamu masih berpikir menggunakan dia padaku?"
Anak ini tahu Eris menyukai Roxanne, jadi dia sepertinya berpikir menggunakan Roxanne sebagai kelemahan Eris.
Sanya lagi-lagi tertawa. "Menakutkan. Sanya tidak suka pria sepertimu dan Arkas. Berada di sekitar kalian menjijikan."
"Tidak banyak yang suka padaku." Eris membalas tenang. "Omong-omong, Sanya."
Eris tidak melihatnya namun ia mendongak ke arah anak itu.
"Kamu ... sedang ketakutan?"
Tawanya gemetaran. Suaranya pecah dan tidak stabil. Untuk ukuran gadis yang mengayunkan belati pada Eris tanpa ragu sebelumnya, dia sekarang terdengar sangat lemah.
"Kamu takut kegelapan rupanya. Karena itulah kamu menghitung."
Eris tidak melihat tapi sepertinya dia bisa menebak kenapa tiba-tiba Sanya berhenti tertawa.
Sepertinya kelemahan dia muncul tanpa susah payah dicari.
*
__ADS_1