Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
45. Tinggal Bergerak


__ADS_3

Roxanne mulai terbiasa membaca suasana kediaman ini sekalipun semua orang diam. Dilihat dari bagaimana orang-orang, bahkan pelayan, sedikitpun tidak berkeliaran kecuali di waktu tertentu, sepertinya sesuatu terjadi di atas sana.


Dan pasti mengenai Elios.


Roxanne tentu mengikuti mereka untuk berhati-hati saat keluar. Ia mau terbunuh di tangan pria asing itu, tapi tidak di tangan Elios.


Karena kalau dia, nampaknya dia akan menyiksa Roxanne sampai benar-benar habis.


Rasa sakit itu menyebalkan.


Sepanjang waktu, Roxanne hanya berdiam di kamarnya. Ia cuma keluar makan sekali, tidak merasa sulit dengan itu karena tidak ada pekerjaan sama sekali yang ia lakukan sampai butuh makan tiga kali.


Roxanne duduk dan berbaring semaunya. Menunggu waktu berlalu sambil terus mengawasi keadaan.


Sampai malam itu akhirnya datang.


Malam ketika Roxanne berada dalam tidurnya, tiba-tiba sebuah tangan mencekik Roxanne. Itu bukan tangan pria. Itu tangan wanita, dari ukurannya.


"Ugh." Roxanne tersekat dan berusaha keras untuk bernapas. Matanya pun berusaha keras menangkap sosok itu.


Istri Elios, kah? Mariana? Diane? Atau seseorang yang belum Roxanne kenali?


Tapi sebelum bisa memastikan sendiri, darah tiba-tiba sudah menetes ke wajah Roxanne, disusul tubuh pelaku iti ditarik menjauh darinya.


"Pelayan." Suara dingin itu kembali terdengar, mengamati mayat yang lehernya baru saja dia koyak. "Nona Sierra nampaknya mulai bermain-main."


Roxanne masih berusaha tersandar. Pelan-pelan ia terbangun, menatap cairan berbau anyir busuk yang ia dapatkan dari wajahnya.


Darah.

__ADS_1


Darah dari orang yang tadi hidup.


"Kenapa?" gumam Roxanne di antara rasa syok.


"Pertanyaan bodoh," cerca pria asing itu. "Tentu saja tidak ada Narendra yang cukup senang mendengar orang rendahan mengaku sebagai Nona Muda Eirene. Pengecualian untuk Tuan Muda Pertama, menurutmu itu lucu melihat kamu mengambil tempat Nona?"


Tidak. Bukan itu yang Roxanne tanyakan.


Ia bertanya kenapa orang ini menyelamatkannya ketika dia membenci Roxanne?


"Tuan Muda Arkas." Roxanne menyeka darah dari wajahnya sambil berusaha menahan jijuk. "Jadi karena itu kamu mengawasi aku terus-menerus."


Pria itu mengerutkan keningnya tak senang. Dia meraih mayat di lantai yang berlumuran darah, menyeretnya sampai ke depan pintu.


Roxanne mendengar pria itu meminta mayatnya dibereskan, lalu dia menutup pintu kembali, menuju balkon.


"Bersihkan darahnya sendiri," ucap dia sebelum menghilang entah ke mana.


Mau tak mau ia harus turun, membereskan darah itu sendiri. Sambil berusaha tak muntah oleh rasa trauma baru.


Tadi dia bilang Sierra, bisik Roxanne dalam benaknya. Jadi anak manis waktu itu juga sebenarnya gila? Padahal dia anak kecil.


Nampaknya cara bertahan hidup di tempat ini memang hanya satu.


Menjadi gila bersama para Narendra.


"Kamu pikir aku mau terus jadi pihak bodohnya?" Roxanne sengaja berbicara cukup keras meski ia tak yakin orang itu dengar atau tidak.


Selama berhari-hari, apa semua orang berpikir Roxanne sama sekali tidak merencanakan sesuatu yang baru?

__ADS_1


Ia sudah memutuskan jadi gila sejak orang asing itu mencengkram kerah Roxanne malam itu.


Sekarang Roxanne tinggal bergerak.


*


"Pelayan Elios menyakiti Roxanne?" Arkas mengetuk-ngetuk ujung telunjuknya pada permukaan meja. "Kurasa itu tidak akan terjadi kecuali ada pihak dalam yang membantunya. Sepertinya bukan Graean."


"Mariana," ucap pria yang melapor pada Arkas. "Saya cukup yakin dia tahu."


"Maria, kah? Dia wanita yang menarik, memang. Bukan dari peternakan tapi sifatnya seperti tidak punya hati. Aku cukup menyukai dia."


Orang seperti Mariana akan kuat tanpa dibantu banyak. Asal dia diberi kesempatan, bahkan tanpa motivasi, dia akan bergerak dengan sendirinya.


Mungkin karena itulah Graean juga sedikit mempercayai anak itu.


"Membiarkan Sierra ikut campur pada kediaman pribadi Elios itu melanggar peraturan. Aku ingin menegurnya."


Pria di dekat jendela itu langsung membalas, "Anda mau memanfaatkan situasi?"


Arkas tersenyum. "Roxanne mulai berkembang. Sayang jika mengganggunya sekarang."


"Lalu bagaimana dengan obat di tangannya?"


"Itu hanya pancingan." Arkas mengibaskan tangan. "Elios terpengaruh cukup lama sepertinya karena dia agak melemah. Anak itu sudah sembuh sekarang, jadi mustahil obatnya berguna lagi."


"Dengan kata lain," gumam pria itu, "Anda mau mengabaikan semuanya?"


".... Cukup awasi Roxanne."

__ADS_1


"Baik."


*


__ADS_2