Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
27. Hidup yang Sempurna


__ADS_3

Roxanne meninggalkan sisi Elios begitu jam menunjuk ke pukul dua belas malam. Ini pertama kali Roxanne keluar dari kamar itu malam hari, sebab biasanya ia tertidur di kursi untuk mengawasi kondisi Elios.


Malam hari, Elios kadang-kadang seperti kejang. Dia kadang terbangun dari tidurnya dan sesak napas, lalu berteriak-teriak hingga Graean datang memberinya suntikan penenang.


Roxanne bukan ingin turun ke kamarnya, melainkan pergi ke ruangan yang dulu pernah ia lihat.


Di malam hari sepi ini, apalagi Graean pun sudah tidur dan Elios cukup tenang, Roxanne berencana menyelinap di kamar terlarang itu.


Aku tidak mencintai Elios sama sekali, bisik Roxanne daam dirinya. Tapi sepertinya dia tahu kalau aku berencana membuat dia mencintaiku.


Sejak awal, dia sudah tahu bahwa keserakahan Roxanne bukan cuma tentang uang tapi juga Elios. Roxanne memang berpikir begitu, sebab kalau pemilik segalanya itu mencintai Roxanne, ia tak perlu mengemis lagi untuk memiliki segalanya pula.


Hama sepertimu harusnya sadar diri.


"Hama, kah?"


Roxanne mendongak pada lukisan raksasa di tempat itu, menyadari bahwa ia memang hanyalah hama jika dibandingkan dengan Eirene.


"Aku akan percaya kalau dia bilang ini hanya makhluk buatan."


Sebab, dia terlihat terlalu sempurna tanpa kekurangan.


Rambutnya berwarna silver seperti Graean, tapi tampak lebih indah dari segala sisi. Bola matanya besar, bibirnya tipis dan senyumnya sangat manis.


Dia perpaduan antara cantik, anggun, manis dan indah. Mungkin dia bidadari sungguhan.

__ADS_1


"Tapi pada akhirnya sudah mati," ucap Roxanne pada keheningan.


Ia berpaling dari lukisan itu, sekaligus berpaling dari rasa iri dengkinya.


Kalau dia masih hidup, memang jelas dia akan jadi sebuah gunung besar penghalang. Apalagi ternyata dalam keluarga Narendra, status saudara sama sekali bukan penghalang cinta.


Mereka bisa hidup sebagai sepasang saudara dan kekasih tanpa ada konflik.


Tapi nyatanya, Eirene sudah mati. Jadi dia bukan penghalang sama sekali kecuali hanya sepenggal bayangan.


Setidaknya itu yang Roxanne pikirkan sampai ia memegang sebuah buku skesta dari meja santai di dekat jendela.


Roxanne duduk di kursi panjang yang nampaknya memang dirancang khusus untuk dipakai saat Elios duduk-duduk memegang pensilnya.


Cahaya bulan menerobos dari jendela, membuat kamar tak menjadi gelap ataupun terlalu terang.


Halaman pertama, halaman kedua, halaman ketiga, kelima, kesepuluh, ke dua puluh, ke tiga puluh. Bahkan di buku selanjutnya, lalu selanjutnya dan selanjutnya.


Buku ini seolah menunjukkan betapa terobsesi dan rindunya Elios pada Eirene.


"Ini kacau." Roxanne berkomentar pada salah satu halaman dengan coretan abstrak yang mengotori skesta wajah Eirene.


Seolah-olah Elios menjadi sangat marah dan frustrasi saat menggambarnya lalu mencoret-coretnya sendiri.


Roxanne meletakkan semua buku skesta itu, beralih pada kotak berisi semacam kertas yang berlipat-lipat. Roxanne mengambil salah satunya dan membaca tulisan rapi Elios di sana.

__ADS_1


...Apa yang kamu lakukan?...


"Gadis yang beruntung." Roxanne bergumam di antara kegelapan ekspresinya.


Ia mencoba untuk membuka kertas lain, hanya untuk menemukan tulisan yang sama manisnya.


...Eri, aku menggambar mawar emas di lukisan terbaruku....


"Eri." Roxanne tersenyum kecut. "Kenapa aku malah sangat bisa membayangkan ini? Padahal seharusnya sulit membayangkan orang gila itu memanggil seseorang sangat lembut."


Tapi, Roxanne malah bisa memikirkannya.


Membayangkan Elios tersenyum secerah mentari, menyambut kembaran sekaligus kekasihnya. Lalu dia akan berkata, "Eri," sambil merentangkan tangan.


Memeluk gadis cantik itu.


"Tidak semua orang hidup senyaman dirimu, Eri." Roxanne melempar kembali kertas itu ke kotaknya, enggan membaca lebih jauh.


Ia membaringkan tubuhnya pada sofa yang mungkin selalu digunakan Elios setiap kali dia memikirkan gadis itu.


Roxanne menatap hamparan lagi. Mengepal tangan di atas perutnya dan menggigit bibir.


Bukan hanya lahir dari keluarga yang mencintainya, Eirene bahkan dicintai oleh kekasihnya setelah dia mati.


Sungguh hidup yang sempurna.

__ADS_1


*


__ADS_2