
Syukurlah keesokan harinya Roxanne sudah diizinkan merawat Elios lagi. Nampaknya istri-istri Elios yang lain tidak terbiasa mendekat kecuali dalam kondisi darurat, sebab mereka semua tidak tahu kapan Elios akan marah dan membunuh mereka.
Dengan kata lain Roxanne dikorbankan.
Graean tidak bisa mendampingi Elios sepanjang hari. Dia harus mewakili Elios dalam pekerjaannya.
Hari ini Roxanne akan memberi Elios obatnya.
Sepanjang hari Elios hanya tidur. Demamnya masih tinggi dan napasnya tersekat-sekat tanpa bantuan oksigen.
Tepat ketika sore menjelang malam, Roxanne membangunkan Elios untuk makan.
"Tuan Muda, setidaknya hanya sesendok."
Nampaknya kesadaran Elios sendiri tidak begitu banyak sampai dia sulit mengenali Roxanne. Pria itu tidak banyak mengeluh saat Roxanne membantunya bangun, membawa sesendok bubur ayam ke mulutnya.
Dalam bubur itu, dua butir obat halusinogen sudah ia tambahkan.
Sesuai dugaan, Elios cuma menelannya bahkan tanpa protes, menerima beberapa suapan lagi sebelum menenggak sedikit air.
Lalu, dia kembali berbaring.
"Berapa lama?" gumam Roxanne sangat lirih untuk dirinya sendiri.
Arkas tidak bilang butuh berapa lama obatnya bekerja. Dia cuma bilang dosisnya tinggi dan badan Elios agak sulit diberi obat sebab dia menenggak racun dari kecil.
Kalau begitu, mari tunggu tiga puluh menit.
Roxanne diam saja di sana, menyaksikan Elios berbaring tenang meski dalam demam. Roxanne menunggu dan terus menunggu sampai ia yakin tiga puluh menit sudah berlalu.
Lantas ....
__ADS_1
"Tu—" Tidak. Kalau dia berhalusinasi mengenai saudarinya, tidak mungkin wanita itu memanggil Elios Tuan Muda, kan?
Kalau begitu ....
"Elios."
Roxanne tidak tahu bagaimana nasibnya jika saja obat itu tidak bekerja. Meskipun merasa gugup, mata Roxanne tak sedikitpun ragu.
Tangannya terulur ke wajah tampan memikat itu, mengelus pipinya seolah-olah itu sudah jadi milik Roxanne.
"Elios."
Dia bergerak. Perlahan-lahan, matanya terbuka. Mata itu hanya terbuka sayu, tapi kabut di mata Elios menunjukkan dia memang bukan Elios yang biasa.
"Eri?"
Roxanne perlu menggigit bibir saat nama itu disebut.
Tapi ... Roxanne memang tidak memiliki apa pun.
"Elios." Roxanne tersenyum.
Mendadak, Elios tersentak. Dia terduduk tanpa memedulikan kondisi tubuhnya dan Roxanne sempat berpikir orang ini sadar dia ditipu.
Namun hal selanjutnya menegaskan semua.
Tubuh Roxanne ditarik dalam pelukan Elios, sungguh erat sampai rasanya ingin remuk.
"Eri. Eri. Eri." Elios mengucapkan nama saudari sekaligus kekasihnya penuh kerinduan. "Eri-ku. Eri."
Roxanne sudah bersiap tapi ini ternyata lebih menyebalkan dari dugaannya.
__ADS_1
Ia mengangkat tangan, balas memeluk Elios ketika air matanya jatuh oleh rasa terhina.
Aku perlu jadi orang lain agar seseorang memelukku. Sungguh hidup yang menyedihkan.
"Eri." Elios menarik kedua telapak tangan Roxanne dan meletakkan di pipinya sendiri.
Hal selanjutnya adalah hal yang membuat Roxanne tersekat. Elios menutup matanya dan menangis seperti anak kecil.
"Tu—Elios?"
"Aku merindukanmu." Elios benar-benar menangis deras. "Aku merindukanmu, Bintang Kecil. Aku seperti orang bodoh merindukanmu."
Kenapa rasanya dadaa Roxanne tercabik? Ia tak cemburu karena mencintai Elios tapi itu benar-benar menyakitkan saat ia mendapat cinta yang tak pernah Roxanne miliki justru saat menjadi orang lain.
"Eri, Eri." Elios menggosok wajahnya di tangan Roxanne, meninggalkan jejak air mata yang masih saja deras. "Aku tidak bisa tidur setiap malam. Aku kesulitan setiap hari. Dadaku sesak, Eri."
Roxanne tercenung.
"Kamu bilang itu keputusanmu. Kamu bilang kamu melakukannya karena kamu Narendra. Tapi aku tidak bisa."
Elios terguncang oleh tangisannya sendiri. Napas dia bahkan semakin tersekat-sekat, tapi Elios masih saja menggosok wajahnya ke tangan Roxanne.
Dia benar-benar tulus menangisi kekasihnya.
"Aku tidak percaya pada semua hal di sekitarku. Semuanya palsu. Hidupku ini pasti palsu. Aku hanya sedang bermimpi buruk. Aku akan bangun suatu saat dan menemanimu lagi."
"Eri, benarkan? Katakan aku hanya bermimpi. Katakan kamu sedang tertawa di Kastel Bintang, menertawakan saudaramu yang bodoh karena gila merindukanmu. Ayo, Eri."
Saat itu Roxanne tak tahu mengapa ia menyesali keputusannya.
*
__ADS_1