Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
57


__ADS_3

Roxanne meringis memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut di pagi hari. Rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya ikut memperburuk suasana hati pagi ini, tapi Roxanne tidak bisa mengatakan apa pun kecuali ringisan.


Tatapan Roxanne beralih ke seseorang di sampingnya. Menatap punggung putih seorang pria yang kemarin menjadi liar di tubuh Roxanne.


Aku haus. Roxanne memegang tenggorokannya yang terasa kering. Sepertinya memang sejak kemarin ia tak meminun air.


Pelan-pelan Roxanne turun dari tempat tidur, pergi mengambil air di atas meja dekat jendela. Sambil menyesap air putih pelepas dahaga itu, Roxanne mengamati pantulan tubuhnya dari cermin.


Aku yakin Elios cuma berpura-pura. Roxanne mendekati cermin untuk melihat jelas seberapa banyak bekas ciuman dan gigitan di tubuhnya. Tapi dia benar-benar total.


Kemarin adalah pengalaman pertama Roxanne. Meski begitu, Roxanne yakin tidak semua orang memiliki pengalaman pertama sefantastis itu.


Terjebak dalam kungkungan pria tampan yang berusaha menahan suara kenikmatan dari bibirnya. Pria serupa malaikat walau berhati iblis, yang menyerahkan bibirnya untuk Roxanne kotori dengan air liur.


"Mm." Roxanne tersenyum kecil. "Aku meniduri pria bekas saudarinya sendiri."


Nampaknya Eirene sangat mahir di kasur sampai-sampai Elios bisa sehebat itu. Ataukah itu karya Graean? Mariana?


"Kamu menyukai karyaku di tubuhmu, Istriku?"


Roxanne melirik ke tempat tidur di mana Elios ternyata sudah bangun, menyilangkan tangannya di belakang kepala.


Posisi itu memamerkan tubuh Elios tanpa penghalang. Orang gila ini, jika dia menjadi seorang publik figur, dunia mungkin tidak akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Jika Anda sudah puas," Roxanne memungut satu kimono di lantai dan memakainya, "saya akan kembali ke bawah."


Elios mengangkat alis. "Apa maksudmu?"


"Saya yakin itu cukup bisa dimengerti."


"Tentu saja. Aku genius. Karena itulah aku penasaran apa istriku tidak mengerti atau hanya sedang ingin membuatku banyak bicara."


"Jika Anda genius, Anda tahu saya sangat ingin pergi sekarang juga."


"Kejeniusanku berkata kamu belum puas terhadapku."


Dasar keras kepala. Dia benar-benar benci kekalahan bahkan sedikit.


"Jadi Anda masih belum puas." Roxanne membuang kimono yang sempat ia pasang. "Kalau begitu nikmati dan biarkan saya pergi setelah itu."


"Hm, ternyata benar istriku tidak tahu." Elios terkekeh. "Dalam rumah ini, pengantin wanita tidak diizinkan pergi sampai setidaknya satu bulan berlalu. Kamu dan aku akan tinggal di kamar ini, paling sebentar satu bulan."


Apa?


"Jadi untuk apa buru-buru? Tidak berguna sama sekali. Cukup kemari dan temani aku."


Dia bercanda?

__ADS_1


Ah tidak. Seorang Elios tidak mungkin tahu cara bercanda.


Tapi itu terdengar seperti candaan tidak lucu, Roxanne harus bersamanya selama sebulan penuh!


"Bukankah Anda bilang menggilir istri Anda? Lagipula, saya dan Anda bukan pengantin baru. Sudah cukup lama setelah masa itu berlalu."


"Apa ada mulut yang berkata pengantin baru?"


Roxanne terbelalak. Seketika itu sadar maksud Elios apa.


Pria tersebut turun dari kasur, datang mendekati Roxanne. Dia membungkuk memegang dagu Roxanne, mengusap sudut bibirnya dengan senyum aneh.


"Itu peraturanku untuk istri-istriku. Sekalipun kamu tahu aku bergantung pada Arkas, dia tidak akan ikut campur pada urusan ranjangku dan istriku. Jadi, Roxanne Sayang, kamu harus bersamaku sampai aku puas bersamamu. Setelah itu aku akan mencoba yang lain. Begitulah caraku menggilir kalian."


Aku terjebak. Roxanne menggertak giginya kesal tapi tak berdaya.


Dia sengaja bicara menggilir malam agar kesannya hanya semalam.


Tapi sebenarnya kenapa? Apa yang dia mau dari permainan tidak jelas ini?


Elios jelas membencinya. Kebencian tidak berubah hanya dalam waktu sehari. Tapi kenapa sekarang dia tidak menampakkan itu?


*

__ADS_1


__ADS_2