Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Bunuh Eris


__ADS_3

Eris membawa Roxanne pergi ke kamarnya untuk dirawat. Kini, status Roxanne sebagai istri Elios terancam dicabut dan sejak dulu sekali, perceraian bagi istri Narendra adalah kematian.


Itu hal wajar sebab dalam Narendra sendiri, pernikahan pada dasarnya adalah kontrak kerja seumur hidup. Namun ....


"Aku tidak mau kehilanganmu." Eris meraba tangan dingin Roxanne dan menciumnya hati-hati. "Sejujurnya, Roxanne, aku pun berpikir kamu pantas mendapatkan ini."


Perkataan Elios itu tidak salah. Bahkan jika Elios melakukannya demi Eirene, demi alasan tidak masuk akal tentang cintanya, namun Elios tidak salah.


Roxanne begitu bodoh. Dia tidak bisa melakukan apa pun dan tidak layak untuk dipertahankan. Dia tidak memiliki nilai selain dari wajah cantik. Namun apa pentingnya wajah cantik dalam Narendra?


Tidak, bahkan di dunia luar, apa artinya wajah cantik jika dia bahkan tidak bisa memikirkan apa-apa? Eris tidak membantu Roxanne karena ia merasa Roxanne pantas mendapatkannya.


Dia pantas untuk mendapatkan hinaan itu.


"Hanya, setelah itu, kamu bisa mengambil jalan yang sepenuhnya berbeda." Eris menyelipkan jemarinya di antara jemari Roxanne. "Kamu yang memutuskan bagaimana dirimu kedepannya."


Apa dia pantas untuk dipandang tinggi atau justru rendah.


Trika Narendra dan kebanyakan istri Narendra bukankah sama? Mereka hanya budak. Mereka diberi nama berbeda dan hanya boleh berlutut untuk Narendra.


Mereka bahkan tidak berhak bebas dan hidup mati untuk Narendra. Namun, tidak ada Narendra yang tidak menghormati Trika. Wanita yang sudah mati dua ratus tahun lalu, punya banyak selingkuhan dan punya anak haram hasil inses, itu dihormati sebagai Ibu Pendiri sebab beliau punya kualitas.


Roxanne sama saja. Dia bisa menjadi sampah atau seseorang yang sangat berharga, tergantung bagaimana dia menginginkannya.


"Kamu sudah menjalani hal menyakitkan selama ini." Eris mengusap tangan itu. "Mulai sekarang, apa pun keputusanmu, aku akan mendukung."


Jika dia menginginkan kematian, Eris akan memberinya.

__ADS_1


Jika dia ingin kembali ke pekukan Elios, Eris pun akan membantunya.


Jika dia ingin 'bebas', Eris dengan senang hati akan mengabulkannya.


Hanya itu saja.


*


"Eris sepertinya membaca pikiranmu sampai akhir, yah." Askala duduk angkuh menyambut kedatangan Elios setelah drama kecil tadi berakhir. "Walaupun dia berbaik hati membiarkanmu tampil."


"Aku akan memastikan kematian Roxanne, Kakak."


"Itu mustahil." Askala mengambil cangkir teh, menyesapnya penuh percaya diri. "Jangan bilang kamu tidak tahu bahwa tindakan Eris barusan adalah deklarasi perampasan hak Roxanne darimu? Kamu membuangnya, dia memungutnya, jadi Roxanne miliknya sekarang."


"Lalu? Apa itu mengubah fakta Roxanne istriku?"


Maka dari itu Elios masih bisa merebutnya dari tangan Eris. Memanfaatkan peraturan tidak adanya perceraian kecuali kematian, Elios bisa meminta Roxanne kembali padanya kapan saja.


Tentu, Eris dan Arkas mungkin akan coba menghalangi. Tapi Elios masih percaya diri.


"Daripada itu, Kakak," Elios menatap mata Askala lamat-lamat, "kamu menipuku?"


"Mengenai?"


"Sanya."


"Sanya? Siapa itu dan apa pentingnya bagiku?"

__ADS_1


"Boneka yang kukirim ke Kastel Bintang malam ini, lewat bantuanmu." Elios mengulurkan tangan pada Askala, menggenggam tangan wanita itu. "Kakak, kamu masih saja suka berbuat licik. Sanya itu berguna bagiku."


"Padahal bukan aku." Askala tertawa kecil.


"Arkas di sana? Orang fanatik itu mana mungkin meninggalkan perayaan kecuali dia pergi berkabung di depan kekasihku langsung."


"Entah. Itu urusan Eris juga Arkas, bukan urusanku."


"Ayolah. Kita berdua bisa saling menguntungkan."


"Aku hanya bilang tidak akan membuat masalah sementara, bukan bekerja sama denganmu."


"Dengan kata lain, Kakak menolak?"


Askala justru tersenyum. Tangannya terulur pada wajah tampan Elios. Membelai pipinya dan menarik dia mendekat. Lalu dia berbisik, "Bunuh Eris."


Elios tersentak samar.


"Jangan salah paham. Ini bukan kebencian. Aku menyukai Eris dan mengakuinya diperlukan, tapi keberadaan Eris menggangguku. Jadi bunuh dia. Akan kubantu apa pun permintaanmu setelah itu."


Memang dasar perempuan sialan. Padahal dia tahu betul seberapa besar perbedaan kekuatan Elios dan Eris, juga seberapa besar rasa takut Elios pada Eris.


"Baiklah." Elios mengecup tangan wanita itu. "Lagipula dia membuang adiknya ini untuk Arkas. Jadi aku tidak simpati."


"Jangan terlalu lama."


*

__ADS_1


__ADS_2