Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
23. Aku Membencimu


__ADS_3

Rasa takut adalah kekuatan sekaligus kelemahan.


Roxanne ingat saat ia berteriak pada Elios bahwa dia gila. Dia bersalah, dia berdosa, dia menjijikan. Tapi, kalau sekarang Roxanne pura-pura lupa semua itu, maka ia rasa situasinya akan jadi lebih baik.


"Anda sudah bangun." Roxanne datang mendekat dengan nampan berisi bubur. "Nyonya Pertama bilang menyuapi Anda makan."


Karena tangan, kaki, perut bahkan lehernya terbelenggu di tiang hukuman itu, Elios bahkan tidak bisa berbaring, apalagi makan.


"Aku sudah lama," bisik Elios, "tidak melihat perempuan sepemberani dirimu."


Itu jelas bukan pujian.


"Aku bisa memaklumi jika itu adik tiriku atau sepupuku. Tapi sulit dipercaya kamu hanya orang biasa. Aku dibuat gelap mata karena berpikir hanya Narendra yang luar biasa."


Roxanne meletakkan nampan itu di meja terdekat. Lalu mendongak menatap Elios yang juga menatapnya.


Sekarang ini Roxanne sangat mau berbicara tentang kembaran Elios itu. Mau berkata bahwa ia tak peduli sekalipun Elios punya hubungan inses dengan kembarannya, jadi katakan saja Roxanne harus apa agar kekayaan bisa ia dapatkan dari hubungan ini.


Bagaimana ia harus membayar semua harta yang diberikan?


Cuma itu yang Roxanne mau pedulikan, tapi sepertinya belum bisa Roxanne memancing Elios. Jika Graean marah padanya dan menganggap Roxanne mengganggu Elios, maka dia yang akan membunuh Roxanne bukan pria ini.


"Aku membenci wanita sepertimu, Roxanne." Elios berbisik seraya tersenyum keji di wajahnya. "Kamu berpura-pura lemah untuk mendapatkan segalanya. Kamu rela merendahkan kepalamu untuk kepentinganmu sendiri. Orang sepertimu menjijikan."


"Lalu Anda lebih suka jika saya berpura-pura kuat? Berpura-pura seakan segalanya bisa saya dapatkan dan tidak akan pernah menundukkan kepala?"


Elios tertawa. Hal yang salah karena itu membuat dia langsung terbatuk kesakitan.


Tapi, Elios tidak peduli dan tetap tertawa.

__ADS_1


"Tidak. Aku juga benci wanita yang pura-pura kuat."


"Jadi Anda benci orang yang suka berpura-pura. Baiklah, saya tidak akan berpura-pura kedepannya."


Elios sekali lagi tertawa. "Aku benci semua wanita yang bukan Narendra."


Pernyataan itu tidak bisa Roxanne timpali. Karena itu ia putuskan tidak membalas, kembali mau mengambilkan bubur Elios.


Entah dia mau makan atau tidak, intinya Graean bilang Elios belum makan sejak kemarin pagi.


"Anda harus makan jika tidak ingin—"


"Elios!"


Roxanne langsung menoleh pada suara tinggi yang asing namun familier itu.


Nyonya Besar, ibunya Elios, datang tergesa-gesa memasuki ruangan. Dari wajahnya terlihat jelas kalau wanita itu bersedih.


Ekspresi Elios yang semula dingin entah kenapa melembut akibat sentuhan ibunya. "Ibunda seharusnya tidak perlu datang."


"Jangan mengatakan hal dingin seperti itu."


Nyonya Medea memeluknya bahkan jika itu sulit karena semua belenggu yang menekan tubuh Elios di tiang.


"Tunggu sebentar. Ibunda berusaha keras membujuk Tuan Muda agar mencabut keputusannya."


"Tidak perlu." Elios bergumam lemah. "Aku tidak suka mengemis pada orang sialan itu."


"Elios."

__ADS_1


"Ibunda, jangan membuatku marah."


Nyonya Narendra menarik napas, lalu menghembuskannya secara kasar sebagai bentuk kepasrahan.


Tapi dengan begini Roxanne jadi tahu bahwa Nyonya Besar Narendra pun tidak bisa menentang keputusan Tuan Muda Pertama, sekalipun dia keponakannya sendiri.


Nyonya Medea melepaskan pelukan akhirnya. Sejenak menoleh pada Roxanne, tapi tidak mengatakan apa-apa dan kembali menatap Elios.


Ekspresinya sangat terlihat penuh kasih sayang saat menatap putranya tersebut.


"Bukankah Ibunda sudah memohon agar kamu tidak mengalami hal ini lagi?" Nyonya meletakkan keningnya di dada Elios. "Bukan karena kamu takut pada Tuan Muda Pertama atau tidak bisa melawan, Sayang. Tapi Ibunda tidak mau melihatmu mengalami hal buruk lagi."


".... Aku tidak bisa."


"Elios."


Roxanne diam-diam tersentak ketika kelopak mata Elios melebar dan seluruh kehangatan di matanya hilang.


"Tidak bisa, Ibunda," jawab dia seolah dia bukan Elios yang baru saja tersenyum pada ibunya. "Aku sudah cukup menahan diri tidak membunuh Arkas, jadi bukankah Ibunda tidak boleh menyuruhku menahan diri lebih jauh lagi?"


Kenapa Nyonya Medea tiba-tiba terlihat kaku?


"Apa Ibunda mengkhianatiku juga? Ibunda tidak peduli padaku lagi? Ah, benar juga. Ibunda tetap budak Narendra. Ibunda bukan siapa-siapa tapi hanya budak. Tentu saja Ibunda tidak berguna."


Apa ... yang mereka bicarakan?


"T-tidak." Nyonya Medea kembali memeluk Elios. "Kalau Ibunda adalah budak, itu berarti Ibunda budak anak-anak Ibunda. Kalian jugalah Narendra. Ibunda tidak berkhianat."


Elios mendadak tersenyum lembut. "Aku mencintai Ibunda."

__ADS_1


Hubungan macam apa sebenarnya ini?


*


__ADS_2