Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Cepatlah Bangun


__ADS_3

"Pergilah menemui Askala jika sudah tenang." Eris memutuskan untuk mengusirnya. "Aku juga ingin beristirahat."


"Ya." Pria itu beranjak, namun tampak jelas dia kelelahan sampai terhuyung. "Omong-omong, bagaimana Sanya? Kamu mendapat informasi?"


Eris diam beberapa saat. Jika Arkas mendengar Sanya punya trauma dan itu parah, dia pasti akan mencoba menyelamatkannya.


Anak itu keturunan Abkariza. Mau dia berbuat kacau, dia akan diperlakukan sebagaimana Askala dan Sierra diperlakukan. Tapi, Eris tidak mau memberi kenyamanan pada Sanya sekarang.


Dan Arkas pasti tidak akan senang dengan metodenya.


"Untuk sekarang, dia masih menutup mulut. Dan dia berkata membenciku."


Arkas tertawa pasrah. "Kenapa begitu banyak keluarga kita membenci kita berdua?"


Karena orang yang mengambil keputusan selalu dipaksa memikirkan semua perasaan orang lain. Sesederhana itu sebenarnya.


Ketika Arkas pergi, Eris pun duduk di tepi kasur. Tangannya mencari tangan Roxanne, menggenggamnya lembut.


"Mungkin Arkas benar, Roxanne." Eris meresapi baik-baik kehangatan tangan Roxanne. "Aku selalu mencarimu untuk menghibur diriku sendiri."


Mungkin justru karena itulah Eris mencintainya. Makhluk menyedihkan nan tidak sempurna.


"Itu aneh, bukan?" Eris tersenyum. "Semakin hari aku semakin mencintai dirimu yang menyedihkan."


Bukan karena Eris mau melihat dia menangis terisak-isak atau terpecundangi, namun Eris menyukai sosok Roxanne yang tidak pintar, tidak peka dan tidak bisa melakukan apa-apa.


"Cepatlah bangun."

__ADS_1


*


Roxanne hanya duduk diam dalam kegelapan alam mimponya. Dari kejauhan, entah kenapa ia bisa melihat banyak hal.


Elios yang duduk merokok bersama Daniel dan Zack, Graean di sisinya membaca buku, Mariana bermain harpa, Diane tertidur, Sanya bermain dengan ikan dalam kolam. Juga ada Arkas bersama para Narendra tengah bercakap-cakap entah apa.


Mereka semua terlihat tapi terasa begitu jauh.


Roxanne hanya duduk diam menyaksikan mereka, sebab entah kenapa, ia merasa semua orang menatapnya tak senang.


Seolah-olah mereka berharap Roxanne menghilang. Maka dari itu Roxanne tetap duduk dalam kegelapan ini. Agar ia tak perlu melihat tatapan tajam dari siapa pun.


Tapi ....


Saat itu, tiba-tiba sebuah selimut membungkus tubuhnya. Memaksa Roxanne untuk menatap ke atas, pada bayangan yang barusan menyelimuti Roxanne.


"Kamu ...."


Roxanne mengerjap.


Bangun? Dia menyuruh Roxanne bangun? Untuk apa? Tidak ada dari mereka yang menginginkan Roxanne ada jadi jika ia bangun, semua orang justru terganggu.


Tidak. Yang paling penting, kalau ia bangun, Roxanne hanya akan terluka lagi. Ia tidak mau.


Pergi dan menjauh darinya. Berhenti memaksa Roxanne melakukan sesuatu lagi. Ia tak mau lagi.


*

__ADS_1


"Elios."


Jelas saja Elios bisa merasakan kemarahan hebat dari Askala meski baru satu kata, yaitu namanya, yang dia keluarkan.


Dia terlihat menakutkan saat memegangi lehernya sendiri dan menatap Elios dengan mata gila.


"Apa sesuatu terjadi, Kakak?" tanya Elios, pura-pura tidak memahami dia marah.


"Aku berubah pikiran."


"Hm?"


"Bunuh istrimu itu." Askala menggertak giginya marah. "Bunuh dia sekarang juga. Aku tidak peduli caranya apa tapi lenyapkan dia dari duniaku!"


Heeeh, mengejutkan tapi 'tidak mengejutkan'. Askala itu memang suka berubah-ubah pikiran, seperti perempuan pada umumnya. Dia licik tapi emosinya selalu yang paling utama.


Meski begitu, Elios kira dia tidak terlalu peduli pada Roxanne sekarang karena wanita itu koma.


"Tenanglah, Kakak." Elios mendatanginya, menarik tangan Askala dari lehernya sendiri. "Ada apa? Kenapa Roxanne membuatmu marah?"


Badan Askala gemetar oleh amarah. Dia bahkan terlalu marah untuk menepis Elios yang memeluknya.


"Arkas menyakitiku," gumam Askala geram. "Pria bodoh itu menyakitiku hanya karena istrimu!"


Elios menebak Arkas cuma mengusir halus Askala dari kamar Eris karena memang wanita ini cukup gila membunuh orang koma.


"Jadi begitu." Elios menyeringai saat tangannya menepuk-nepuk punggung Askala. "Kakakku tersayang, tentu saja Nona Muda Narendra tidak pantas mendapat hinaan hanya karena seekor ternak."

__ADS_1


Dulu Elios pernah berkata pada Sanya, kan? Bahwa Askala itu mudah dikendalikan jika tentang Arkas.


*


__ADS_2