Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
116


__ADS_3

Roxanne ingin keluar. Untuk sekarang belum ada alasan jelas yang bisa ia pikirkan tapi Roxanne ingin keluar dan menyelesaikan berbagai hal. Elios, Sanya, dirinya sendiri.


"Sampai kapan Anda mengurung saya?" tanya Roxanne akhirnya, setelah muak pada pengurungan di ruangan bersuasana surga ini. "Bahkan kalau istri Anda sudah tidak ada, menurut Anda tidak aneh berada di ruangan adik ipar Anda?"


"Kamu dan aku saudara ipar? Setelah semuanya?"


Roxanne benci setiap kali Eris melakukan ini. Dulu Roxanne suka sebab dia sangat baik dan lembut. Tapi setelah tahu, dia dan Sanya sama saja. Berbelit-belit dalam ucapannya.


"Tuan Muda." Roxanne menelan keinginan meledak, menggantinya dengan kedinginan mutlak. "Tolong berhenti berbuat bodoh dan menjauh dari saya. Tidak ada dan tidak akan ada yang terjadi antara Anda dan saya."


"Karena kamu membenciku?"


"Karena saya tidak seluang Anda!" teriak Roxanne pada akhirnya.


"Tidak seperti Tuan Muda Narendra yang sekalipun buta tetaplah Narendra, saya ini istri monster seperti Elios yang bisa mencekik orang cuma karena dia kesal! Kalau mengerti cepat akhiri omong kosong Anda ini!"


Jauh di hati Roxanne, ia tak yakin cara ini berhasil. Meneriaki Eris yang mencabut matanya sendiri demi keyakinan, demi pilihannya, dan membunuh istrinya untuk semua hal itu—memangnya dia bisa diajak berdebat?


Tapi ekspresi yang Eris berikan setelah itu justru mengejutkan Roxanne.


"Aku tidak pandai memperlakukan wanita," gumamnya. "Maaf, Roxanne. Aku tidak bermaksud menyusahkanmu sama sekali."


Aku benar-benar benci orang seperti dia. Roxanne ingin mengamuk dan mengacak-acak segalanya. Sebentar dia terlihat menakutkan, sebentar dia terlihat kesepian. Aku benci semua orang di rumah ini!


"Kalau Anda minta maaf, keluarkan saya."


"Baiklah, kamu bisa pergi."


Eh?

__ADS_1


Memang benar barusan Roxanne yang meminta tapi ... eh? Maksudnya setelah mengurung Roxanne berhari-hari sekarang dia begitu mudah melepaskan seolah tidak ada alasan sama sekali Roxanne dikurung di sini?!


"Antarkan Roxanne kembali ke kamarnya. Lalu, dua dari kalian tinggallah sementara," perintah Eris pada pelayannya.


Pertanda bahwa sekarang dia sudah tidak butuh Roxanne berada di ruangan ini.


*


"Kamu melepaskan Roxanne begitu mudah. Padahal kemarin-kemarin aku bahkan tidak boleh mengunjunginya." Begitu ucap Arkas yang datang tiba-tiba.


Pria itu menjatuhkan diri di belakang Eris, menyandarkan kepala pada bahunya. Tawa lembut Eris terdengar samar di telinga Arkas. "Dia marah padaku. Mau bagaimana lagi."


Saudaraku pembohong ulung. Arkas tersenyum saat memikirkannya.


Elios sudah tenang. Kemarin Naviah turun ke bawah dan menenangkannya. Arkas dengar dia berusaha keras karena Elios hampir menghancurkan belenggunya. Dengan kata lain tujuan Eris sudah tercapai?


"Kamu mencintai dia?" bisik Arkas. "Sebesar cintamu pada Nernia?"


"Kamu bukan tipe orang yang menjawab entahlah untuk hal yang sudah jelas. Jadi, bisa dibilang kamu sendiri tidak tahu?"


"Benar." Eris ikut menyandarkan dirinya pada punggung Arkas.


"Terkadang, aku merasa aku berbohong padanya." Eris tersenyum. "Aku baru menyadari kalau tidak peduli seperti apa emosiku, aku selalu tersenyum. Dan Roxanne membencinya."


Kegelapan tiba-tiba meliputi Arkas.


Berbeda dari Eris yang selalu tenang mengatakan, bahkan soal bagaimana dia membunuh Nernia demi Arkas, beban itu sulit untuk Arkas tanggung.


"Tapi aku juga sering merasa tubuhku aneh di sekitarnya."

__ADS_1


"Kamu terangsang? Bahkan meskipun tidak melihat wujudnya?" Arkas berusaha bercanda.


"Mungkin saja. Suara Roxanne menggemaskan bagiku."


"Dia milik Elios, Adik Besar."


"Aku tahu." Eris berusaha tersenyum tapi entah kenapa mendadak sulit. "Aku memikirkan Nernia di sekitarnya."


"...."


"Bukan tentang aku melihat dia sebagai Nernia atau aku merasakan kehadiran Nernia darinya. Bukan seperti itu. Tapi ... tapi tubuhku mendadak sakit."


Arkas memejam erat.


"Aku ingin berkata 'aku merindukan Nernia jadi peluk aku, Roxanne' lalu aku merasa seperti rasa rinduku akan hilang perlahan-lahan."


"...."


"Tapi dia marah dan menyuruhku mati saja. Ah, kamu juga. Elios juga. Mati saja kalian, dia bilang."


Aku perlu menjauhkan Eris dari Roxanne sepertinya. Arkas menatap dingin udara kosong di depannya. Roxanne dan Nernia mungkin satu jenis yang berbeda watak saja.


Jauh lebih baik Roxanne bersama Elios daripada Eris.


"Eris—"


"Arkas." Suara Eris seperti membelai panggilan Arkas. "Aku mencium rasa takutmu."


Ujung jemari Arkas gemetar. Tapi bibirnya mengulas senyum pedih. "Mau bagaimana lagi, kan?" katanya. "Kamu bisa melakukan apa yang aku tidak bisa."

__ADS_1


Ketika Arkas memikirkan seluruh Narendra tanpa terkecuali, Eris hanya memikirkan Arkas saja. Itu membuat Arkas takut. Ia tak mau Roxanne berakhir menjadi Nernia dan ia tak mau Eris semakin kesepian.


*


__ADS_2