
Eris sudah tahu bahwa ada yang berubah dalam diri Roxanne sejak dia terbangun. Namun Eris tak menyangka bahwa Roxanne yang seharusnya tidak tahu apa-apa, tidak mengerti apa-apa dan tidak peka terhadap apa-apa justru menyentuh langsung bagian terdalam dari Sanya.
Eris bisa merasakan keterdiaman Sanya ini berbeda. Anak itu mungkin tidak percaya jika Roxanne baru saja mengucapkan sesuatu yang dia menolak mengakuinya.
Mengisyaratkan bahwa Sanya kesepian, ketakutan, dan tidak mau lagi tersiksa tapi tidak ada satupun orang yang mengulurkan tangan padanya.
"Sanya." Suara Pemimpin Utama menarik seluruh perhatian. "Itu benar kamu terhubung pada Trika?"
".... Ya."
Suara yang seharusnya lantang, kini berubah rapuh. Eris tidak menyangka kalau anak menakutkan ini justru menahan tangisnya cuma karena Roxanne yang selalu dia perlakukan seperti boneka, menanyakan tentang lukanya.
"Lalu apa tujuanmu datang sebagai istri Elios?"
Hening.
Seharusnya Sanya menjawab itu lantang. Seharusnya Sanya menjawab itu penuh kepercayaan diri tapi juga keceriaan yang palsu.
Tapi gadis itu justru diam.
__ADS_1
Dan saat keterdiaman menguasai ruangan, Roxanne meraih tangan Sanya untuk berdiri dari kursi rodanya. Roxanne tiba-tiba memeluk tubuh Sanya dam secara bersamaan mendongak pada Pemimpin Utama.
"Karena keluarga ini seharusnya tidak berdiri," jawab Roxanne di depan seluruh wajah yang telah lahir dan berkeyakinan bahwa mereka pantas berdiri. "Karena keluarga ini seharusnya tidak bertahan. Itu alasan Sanya dan juga saya berada di sini, Tuan."
Arkas berdiri dari kursinya namun seketika itu Roxanne berkata, "Jangan susahkan dirimu, Arkas. Aku tidak butuh ditopang oleh pria yang tidak berguna."
Askala menyeringai. Ini terlalu tiba-tiba tapi suasana yang Roxanne ciptakan tampak sangat menarik.
"Apa maksudmu, Roxanne?" Arkas kembali duduk meskipun matanya terlihat memerah. "Kenapa tiba-tiba kamu membicarakan tentang sejarah?"
"Aku tidak bicara tentang sejarah. Aku cuma berpendapat karena Tuan Besar bertanya mengapa Sanya di sini. Itu adalah jawabannya."
"Arkas, beritahu aku. Apa kalian menganggap istri Elios sebagai manusia?"
"Tentu saja. Aku menganggap kalian adik kecilku."
"Lalu apa kamu membiarkan adik kecilmu dilempar dari satu tangan ke tangan yang lain tanpa mempertimbangkan perasaannya? Mohon maaf, tapi sepertinya sejak tadi tidak ada satupun yang bertanya padaku tentang apakah aku ingin kembali pada Elios atau tidak. Apa aku ingin tetap bersama Eris atau tidak? Nona Askala, apa Anda tidak bertanya?"
Askala tertawa keras. "Tidak. Tidak ada yang mau bertanya karena kalian ternak. Jika Tuan kalian berkata A, maka lakukan A," jawab wanita itu, sesuai keinginan Roxanne.
__ADS_1
"Benar. Anda benar." Roxanne mengangguk. "Lalu tolong beritahu saudara dan orang tua Anda agar berhenti berpura-pura memperlakukan kami seperti manusia. Tetap jadikan kami ternak kalau memang kami hanya ternak."
Elios ikut tertawa mendengarnya. "Kalau begitu ternak harus kembali ke tempatnya, kan? Kamu harus kembali padaku, Istriku. Kalian berdua."
"Tentu saja. Aku mau kembali padamu kalau memang harus kembali. Sanya, bukan begitu?"
Semua orang di ruangan itu adalah orang pintar. Mereka tentu memahami maksud Roxanne adalah memilih antara menjadikan mereka manusia selamanya atau menjadikan mereka binatang selamanya.
Ketika tidak ada satupun orang yang membuka suara, Askala dengan lantang berkata, "Kalian manusia. Kalian semua, mulai sekarang. Jadi katakan apa pun yang kamu inginkan, Roxanne."
"Kenapa kalian yang harus memutuskan kematian kami?" Roxanne menatap Elios, Eris, Arkas sebelum matanya lurus memandang Pemimpin Utama. "Kenapa kalian yang boleh menentukan siapa yang pantas mati? Askala berkata bahwa Eris seharusnya membunuhku karena dia juga membunuh Nernia. Jika kami manusia maka kami punya hak hidup yang sama, lalu kenapa kalian yang menentukan kematian kami?"
Sanya yang sempat kehilangan ketenangan oleh emosinya mendadak tergelak. Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Roxanne dan menatapnya secara langsung.
"Kurasa Kakak memang bodoh," katanya tapi terlihat sangat bahagia. "Itu hanya omong kosong, Kakak. Narendra tidak menganggap istri mereka manusia."
Roxanne tersenyum. "Tapi Askala berkata bahwa kita manusia mulai sekarang. Bukankah dia Nona Muda Narendra?"
Ini adalah skak tiba-tiba.
__ADS_1
*