
Lebih dari sepuluh tahun lalu, ketika Elios masih berusia delapan belas tahun.
Hari itu cuaca terasa lembab sehabis hujan deras turun. Elios baru saja menjemput Eirene dari kamarnya, mengajak gadis itu berjalan-jalan di dekat danau depan bangunan Kastel Mawar.
Esok hari, Eirene akan terbang ke Papua, menuju Kastel Bintang untuk beberapa hari dan Elios tidak bisa pergi bersamanya, jadi hari ini mereka menghabiskan waktu bersama.
Sambil Elios menggandeng tangan gadis cantik kembarannya itu, Eirene tersenyum melantunkan nyanyian lembutnya.
"Aku selalu mengulang suaramu di kepalaku sebelum tidur di malam hari." Elios berucap pada gadis itu karena ingin dia tahu. "Berjanji padaku kamu akan membuat lagu baru lagi. Tentu saja, untuk aku."
"Hmmmmmm, aku malas."
"Aku tahu kamu cuma ingin kembarmu ini memelas."
Elios tertawa tapi langsung berbalik. Dipeluk pinggang Eirene, mengubur wajahnya di leher gadis itu untuk merasakan betapa nyaman wangi bunga di sana.
"Buatkan lagu untuk Eli, yah?" bisik Elios memelas. Wajahnya pun sengaja dibuat mengemis agar Eirene tertawa.
Jelas saja, Eirene memang tertawa.
"Eli lahir lebih dulu dariku tapi bersikap sangat kekanakan." Eirene mengusap-usap kepala Elios seperti dia adalah kucingnya. "Baiklah, akan aku pikirkan lagu untukmu nanti. Tapi sebagai gantinya, jangan buat Kakak Pertama mengomel lagi."
Elios langsung menjauh dengan wajah ogah-ogahan. "Aku sudah berusaha keras, aku bersumpah. Tapi memang Arkas saja yang tidak pernah puas."
"Aku tahu Eli dua kali mengundur pertemuan penting dengan dewan perusahaan. Gara-gara itu Graean jadi kesulitan. Dia masih baru, jadi bukankah Eli harusnya lebih bertanggung jawab?"
"Istriku sendiri yang berkata agar aku lebih santai."
__ADS_1
"Graean berkata begitu karena mustahil menyuruh kamu yang bebal ini."
"Hei!"
Eirene menyentil kening Elios. "Kerjakan tugasmu baik-baik, Tuan Muda Na-ren-dra. Dengan begitu aku akan lebih menghormati kamu."
"Baiklah, baiklah. Lupakan soal itu dan lanjutkan nyanyianmu. Aku cuma ingin mendengarnya hari ini."
Itu adalah kenangan yang tidak mungkin pernah Elios lupakan. Bahkan diam-diam, Elios meminta dokter pribadinya untuk mengulik-ulik ingatan mengenai Eirene jika ia merasa ada yang terlupa.
Itu adalah rahasia Elios. Hal yang bahkan tidak ia biarkan untuk diketahui oleh Graean sebagai orang kepercayaannya ataupun Ibunda sebagai wanita yang paling ia sayangi di dunia.
Eirene sangat suka bernyanyi. Suaranya merdu hingga Elios sering tertidur hanya karena mendengarnya.
Tapi ... kenapa orang yang ia genggam ini tidak bernyanyi?
Elios berusaha keras menahan kelemahan di tubuhnya. Ia merasa mau jatuh karena lelah, sesak akibat tubuhnya yang serasa rusak secara internal.
Elios selalu tahu cara memaksakan diri jika itu untuk Eirene.
"Aku baik-baik saja. Memang ada apa?" balas perempuan yang di mata Elios adalah Eirene itu.
Kepala Elios pusing. Pandangannya memburam dan kepalanya berat. Tapi ketika ia mencari wajah perempuan itu, memang benar itu Eri-nya.
Gadis paling cantik di dunia menurut Elios, dengan rambut panjang silvernya dan senyum semanis madu. Mata Eirene bulat cantik, dengan warna pupil yang juga seperti madu berkilau di bawah pantulan cahaya matahari.
Benar. Itu Eirene.
__ADS_1
"Tuan Muda."
Suara asing di pikiran Elios itu datang. Ia berbalik, butuh usaha keras untuk tahu bahwa itu Graean.
"Ada apa?" Ekspresi Elios langsung kesal. Sejak masih kecil, Elios paling tidak suka jika seseorang mengganggunya bersama Eirene.
Itu adalah kebiasaan.
"Anda masih belum pulih. Apa baik-baik saja Tuan Muda berjalan-jalan?"
Elios merasa tambah sakit kepala. Ia mengerang memegang kepalanya, menatap sangat kesal pada istri pertamanya.
"Apa aku terlihat bodoh?" geram Elios. "Kalau aku berjalan, berarti aku merasa sudah bisa berjalan."
Elios berbalik pada Eirene-nya dan tersenyum. "Teruskan langkahmu, Eri."
Lalu ekspresinya kembali dingin melirik Graean. "Jangan menghabiskan waktu untuk hal bodoh dan kembali bekerja."
".... Baik."
Graean hanya menyaksikan punggung Elios semakin menjauh, turun ke lantai satu bersama Roxanne yang dia anggap Eirene.
Dalam hati Graean, ia sudah sangat yakin Roxanne bermain dalam hal ini.
"Bukan hanya kamu yang lelah terluka, Roxanne." Graean harap bisikannya sampai pada wanita itu. "Melakukan hal licik adalah hak setiap orang. Tapi jangan marah jika itu tidak bertahan lama."
*
__ADS_1