
"Lalu di mana Graean?" tanya Pemimpin Keluarga lagi. "Biar aku yang membawanya juga memastikan dia dihukum."
Elios bergerak bangkit dari posisi berlutut. "Wanita itu sudah mati, Paman. Dia meledakkan dirinya sendiri karena kesal. Wanita gila, benar?"
Baik Arkas maupun Pemimpin Keluarga merasakan keganjalan dari hal ini. Tapi mereka tidak bisa memastikan apa-apa.
Tidak ada gunanya melakukan penyelidikan kalau Elios sendiri sudah berkata istrinya yang menjadi pelaku. Mau benar mau salah, mereka tidak mencari keadilan tapi alasan yang bisa didengarkan.
"Jadi begitu." Pemimpin Keluarga melirik pada puing-puing kastel Elios. "Pastikan apinya padam dan segera lakukan pembangunan ulang. Sementara itu—"
"Bawa semua orang kecuali Elios ke Kastel Mawar." Arkas memotong perkataan ayahnya dengan mata berkobar marah.
Dia tahu ayahnya baru saja mau mengatakan Elios juga dibawa, tapi Arkas mengingat sumpahnya. Dia tidak bisa membiarkan Elios menginjak tanah Narendra lagi. Elios dibuang ke tempat ini karena Arkas tak bisa menerima dia lagi.
Jadi tidak. Apa pun alasannya, tidak.
"Arkas." Pemimpin Keluarga menatap putra sulungnya. "Di mana kamu menempatkan Elios jika bukan di kediaman utama?"
Arkas melirik dingin ayahnya. "Di mana pun asal bukan Narendra."
"Ini situasi darurat. Mari bawa Elios dan tempatkan dia di kurungan bawah tanah, jika memang kamu terganggu—"
"Aku terganggu pada keberadaannya, Ayah. Aku terganggu pada segala hal tentang anak ini."
__ADS_1
Elios malah menyeringai. "Senang melihatmu merengek di usia ini, Kakak."
"Elios, diamlah." Pemimpin Keluarga menghela napas. "Arkas, dengar. Ayah tahu Eirene membuatmu membenci Elios, tapi bagaimanapun juga Elios adalah putra pamanmu, saudara Ayah. Hanya sampai tempat ini bisa kembali ditinggali, bawa Elios bersama kita."
Nyonya Medea yang sejak tadi mendengarkan akhirnya maju, mendekat pada Arkas.
"Tuan Muda."
Wanita itu memegang tangan Arkas yang selalu memperlakukannya seperti ibu bahkan jika dia membenci Elios.
"Sekalipun Elios berbuat dosa, itu tidak mengubah fakta dia anak yang saya lahirkan. Tolong, luaskan hati Anda dan sebentar saja beri kesempatan. Saya juga terhina jika putra saya dihinakan."
"Bibi."
"Tuan Muda." Mariana memberanikan diri maju pada percakapan itu. "Jika Tuan Muda Elios tetap di sini, istri-istrinya juga akan tetap di sini. Hanya itu yang mau saya sampaikan."
Sebenarnya Arkas tahu bahwa ia harus setuju. Logikanya juga tahu bahwa ini situasi mendesak di mana Elios mau tak mau harus kembali.
Arkas bukan sengaja melanggar sumpahnya. Arkas bukan sengaja tidak menepati janjinya pada Eirene. Tapi, bahkan jika hanya sebentar, bahkan kalau tidak sampai seminggu, Arkas merasa sangat tidak bisa.
Ia tidak bisa.
Ia tidak mau.
__ADS_1
Elios, Elios, Elios!
"Kurung dia." Arkas bergumam. "Tangan, kaki, mata, mulut, segalanya pastikan terbelenggu. Perlakukan dia seperti anjing, bukan adikku."
Tapi saat menatap mata Medea, ibunda dari Elios, Arkas tersenyum. "Jangan khawatir, Bibi. Aku tidak akan membuat Bibi terlalu khawatir."
Elios masih tertawa melihat itu. Sungguh, sepertinya ia dan Arkas memang dilahirkan untuk saling membenci.
Seolah belum cukup puas menghina Elios, Arkas membiarkan Dioris yang mengurungnya. Orang yang Elios benci setengah gila sejak dulu.
"Aku sudah memperingati agar kamu tidak muncul di hadapanku," bisik Elios saat tangannya dirantai. "Jangan salahkan aku kalau membunuhmu nanti."
Dioris pura-pura tidak mendengar, memasang besi panjang di antara mulut Elios agar tak berbicara lagi.
Cuma Elios satu-satunya Narendra yang dihinakan seperti ini. Jika Graean melihat, dia pasti akan bersujud di kaki Arkas agar penghinaan ini berakhir.
Kamu berjanji tetap bersamaku, bisik Elios untuk wanita itu.
Kamu yang menyuruhku menjalani semuanya sesuai kemauanku dan akan tetap bersamaku, tapi Graean, kurasa kamu memang pengkhianat.
Dia meninggalkan Elios tanpa ucapan sama sekali. Hah, sungguh lucu karena dia meniru kepergian Eirene.
Semua orang berharap aku gila rupanya. Elios tertawa dalam hatinya.
__ADS_1
Tapi Elios sedikitpun tak mau mengakui bahwa ada kepingan kecil hatinya, meskipun sangat kecil, yang mendadak redup akan kepergian Graean.
*