Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
49. Dia yang Bersalah


__ADS_3

Sesaat setelah menutup matanya, Eirene berucap, "Jangan buka sampai aku mengizinkan. Berjanjilah, Eli."


"Aku bersumpah."


Eirene tersenyum lembut. Pergi mendekati vas di mana Elios mencabut satu mawar tadi untuk mengeluarkan sebilah belati khusus Narendra.


Belati ini biasanya dipegang oleh pria Narendra. Belati yang Eirene ambil dari laci kamar, milik Elios.


"Sebenarnya, Eli," gumam Eirene seraya mengusap bilah tajam belati dengan ukiran mawar itu, "aku sangat mencintai Narendra."


"Benarkah?"


"Ya. Sangat. Aku sangat senang tiap kali aku mendengar Ibunda bercerita tentang sejarah kita sejak dua ratus tahun silam. Tentang pendiri, tentang buku harian dari generasi sebelum-sebelumnya."


"Aku mencintai Narendra dan sangat menyukai sistem Narendra yang indah."


Elios tersenyum dengan mata terpejam. "Eri adalah wanita Narendra paling mulia di generasi ini."


"Aku ingin menjadi seperti itu."


"Kamu sudah menjadi seperti itu, jadi tidak perlu lagi ingin."


Eirene tertawa dengan belati yang sudah terangkat, siap menusuk jantungnya.


"Maaf, Eli."


"Hei! Wanita Narendra tidak boleh mengucapkan kalimat rendah itu!" protes Elios kesal.


Tapi Eirene tetap tertawa.


"Aku minta maaf," gumam Eirene. "Narendra yang aku cintai tidak boleh dinodai dengan pelanggaran."

__ADS_1


Jika selama dua ratus tahun tidak ada wanita Narendra yang melahirkan, Eirene tidak mau jadi yang pertama.


Peraturan itu harus tetap berdiri untuk menjaga kemurnian mereka. Sesuatu yang indah itu abadi. Eirene tidak mau mengubahnya sama sekali.


Kilau dari belati itu menyinari penglihatan Eirene. Wanita yang disebut-sebut sebagai bunga terindah Narendra pada generasinya itu membawa belati ke dadanya, tak membiarkan keraguan sedikitpun datang.


Eirene berusaha tidak bersuara, bahkan hanya untuk erangan kecil. Darah panas merembes mengotori gaun baru yang dibuatkan desainer untuknya.


Wajah bersinar Eirene perlahan hilang. Bibirnya bergetar, napasnya tersekat-sekat akibat darah yang begitu cepat keluar dari tubuhnya.


Kini Eirene berlutut. Menoleh pada Elios yang masih menutup matanya.


"Eri, aku mencium sesuatu yang amis. Apa itu?" Elios langsung mengerutkan kening. Dia nampaknya cemas tapi masih menepati sumpahnya tidak membuka mata.


"Ja ... ngan sekarang hh."


Elios menegang. "Napasmu tidak normal. Aku bisa mendengarnya! Sebenarnya ada apa—"


Eirene memuntahkan darah dari mulutnya. Tersenyum lega mengetahui bahwa sekarang ia tak akan tertolong lagi.


Bau darah yang terlalu pekat memaksa Elios membuka matanya. Tapi itu sudah terlambat bahkan jika dia kesetanan membawa Eirene ke ruang bawah tanah, rumah sakit khusus milik Narendra dijalankan.


Eirene justru tersenyum ketika Elios mematung.


"Kamu ...." Elios memasang wajah kosong menatapnya. Dia seperti sedang berpikir itu hanya mimpi. "Apa yang .... Eri?"


Keringat bercucuran di pelipis Eirene. Perempuan itu tertawa susah payah, berharap ia masih seindah yang biasa bahkan jika darah memenuhinya.


"Aku ... Narendra," ucap Eirene bersamaan dengan pintu terbuka, memunculkan Dioris dan Arkas. "Aku menjaga kehormatanku dengan tanganku sendiri."


Hal terakhir yang Eirene dengar adalah teriaka putus asa Elios dan Dioris, sebelum seluruhnya menjadi kegelapan abadi.

__ADS_1


*


Arkas hanya bisa menatap kosong adiknya di sana. Pris cerdas yang dididik memimpin Narendra, sebuah keluarga luar biasa kuat yang memonopoli pemerintahan sejak dulu, pria itu kini tidak bisa memahami situasi.


Yang Arkas rasanya hanya kedinginan. Bahkan Arkas tidak merasa bahwa ia berhenti bernapas. Aroma darah di sekitar kamar terlalu kuat.


Ini aroma kematian tragis yang Arkas hafal.


"Eri." Suara Elios-lah yang menyadarkan Arkas. "Eri, apa ini? Kamu sedang bercanda? Eri!"


Arkas terbelalak. Mendadak kemarahan besar menguasainya. Tanpa ia sadari, Arkas sudah mencekik leher Elios.


"Kamu membunuh adikku!" teriak Arkas kesetanan. "Kamu membunuhnya, Elios! Kamu membunuhnya!"


Elios pucat pasi saat dia menggeleng berulang kali. "Tidak. Eri tidak ... Eri, Eri-ku tidak—"


Kemarahan Arkas justru membumbung tinggi. Sekalipun logikanya mencoba untuk berkata bahwa Elios tidak mungkin benar-benar membunuhnya, tapi perasaan Arkas tidak bisa menerima itu.


Apa pun alasan Eirene mengakhiri hidupnya, Arkas ingin Elios bertanggung jawab.


Dia yang membuatnya memilih keputusan itu.


Arkas tak sadar bahwa ia sudah nyaris mencabut nyawa Elios sebelum tubuhnya tiba-tiba ditarik, dikekang begitu kuat.


Arkas memberontak. Berteriak kesetanan mengutuk Elios dan menyumpahinya.


Dia yang bersalah.


Bagi Arkas, dia yang berbuat salah.


Dia yang harus menanggung kesalahan itu dan Arkas tidak akan pernah mengampuni kesalahannya.

__ADS_1


Tidak akan.


*


__ADS_2