
Jika hanya membicarakan gelar, maka tentu saja tittle Arkas sebagai Tuan Muda Pewaris jauh lebih tinggi. Namun jika membicarakan kekuasaan, maka Arkas tidak ada apa-apanya dibandingkan Askala.
Hanya Askala yang bisa meminta Pemimpin Utama datang hanya dalam waktu lima menit setelah Askala memintanya. Duduk mendengarkan Elios yang diberi kesempatan untuk berbicara.
"Aku ingin istriku kembali, Paman," ucap Elios terus terang. "Aku menuntut hakku atas istriku yang direnggut paksa oleh Eris."
Pemimpin Utama, orang yang Arkas sebut 'Ayah', mengulurkan tangan pada teh yang diseduh oleh Askala. "Saya cukup ingat bahwa kamu, Elios, menenggelamkan istrimu di danau pada hari peringatan kematian adikmu, Eirene."
"Ya, Paman. Aku melakukannya. Aku ingin istriku kembali dan aku ingin membunuhnya."
Askala memeluk ayahnya dari belakang seraya menatap Elios dan tertawa. "Kamu tidak perlu berterus terang, Adik Kecil."
Sementara itu, Pemimpin Utama melirik Arkas yang diam saja. Tidak biasanya. Padahal Arkas pasti jadi orang pertama yang akan berkata 'kamulah yang akan kubunuh' jika Elios bicara demikian.
Pemimpin Utama mulai mengerti situasi.
"Generasi kalian sepertinya bukan generasi emas," ucap beliau. "Kalian menyelesaikan masalah dengan saling membunuh. Jika menghitung istri-istrimu, Elios, generasi kalianlah yang paling banyak mencatat kasus pembunuhan satu sama lain. Padahal usia kalian masih 30 tahun."
"Aku memiliki alasan membunuh istriku, Paman. Aku memelihara mereka yang tidak melakukan kesalahan."
__ADS_1
Tatapan pria itu mengarah pada Arkas. "Kamu sedang mencoba menyuruh saya menyelesaikan masalah generasi kalian?" tanya beliau bukan sebagai Ayah namun sebagai pemimpin.
"Tidak." Arkas menjawab sebagai calon pemimpin. "Saya sedang meminta Anda untuk menjadi saksi agar masalah ini bisa selesai dengan cara yang saya pikirkan."
"Cara yang kamu pikirkan adalah tidak melibatkan Eris melainkan Elios?"
"Ayahanda." Askala menyela sekaligus mencegah Arkas menjawab. "Biarkan saja Arkas melakukan apa yang dia inginkan. Jika dia berbuat salah dan melakukan kesalahan fatal, Ayahanda tinggal membuangnya dari posisi Tuan Muda Pertama."
Pemimpin Utama tersenyum pada putrinya. "Baiklah."
Ya, karena itulah Askala sangat dibutuhkan. Segala hal menjadi semudah itu.
"Saya anggap Anda setuju pada cara saya dan bersedia menjadi hakim," ucap Arkas memperjelas.
Arkas mengangguk. "Maka kalau begitu aku mengizinkan Elios meminta istrinya kembali, Ayah."
Pria paruh baya itu melirik Askala yang tersenyum menikmati semuanya. Tidak sulit untuk menebak bahwa anak-anak punya rencana masing-masing.
Askala yang hanya peduli pada Arkas, Arkas yang mustahil membuang Eris juga Roxanne, sedangkan Elios yang siap melakukan apa saja agar mendapatkan Roxanne kembali.
__ADS_1
"Baiklah." Pemimpin Utama mengecup lengan Askala yang memeluknya. "Panggil Eris juga istri Elios ke ruang sidang. Dan pergilah."
Arkas juga Elios langsung beranjak, meninggalkan Pemimpin Utama bersama Askala.
Wanita itu langsung berputar, duduk di pangkuan ayahnya. Menikmati ketika rambutnya diusap-usap sayang.
"Apa maumu? Ayah tahu kamu tidak memihak siapa pun dari mereka."
Anak perempuannya ini bahkan bisa tiba-tiba berubah pikiran dan berkata 'aku mendukung Arkas dibunuh' padahal dia hanya peduli pada Arkas.
"Jangan memihak Eris," ucap Askala, tapi lebih seperti perintah. "Aku mau Ayah tidak sedikitpun memihak Eris."
"Arkas tidak bertahan di tempatnya jika Eris tidak ada, Askala."
"Kenapa aku harus peduli? Apa Ayah sedang menyuruhku peduli pada hal yang bukan urusanku?"
Pria itu tertawa kecil. "Baiklah tapi keputusan adalah milik Arkas. Ayah tidak mau ikut campur pada urusan generasi kalian."
"Tentu. Ayah cukup di belakangku saja."
__ADS_1
Askala tidak lupa bahwa Eris dan Roxanne adalah dua orang yang ingin ia lenyapkan. Askala memang berjanji membantu Arkas, tapi kalau Eris tidak bisa menang, itu bukan salah Askala, kan?
*