Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Gosip Antar Istri


__ADS_3

Esok harinya, Mariana memimpin istri-istri Elios naik ke permukaan. Daniel dan Zack menjaga mereka secara langsung agar kejadian Askala tak terulang. Terutama, mereka menjaga Roxanne yang dari awal sudah menarik perhatian banyak Narendra.


Tapi terlepas dari itu, Roxanne terkejut saat naik ke permukaan tanah, segalanya tampak sangat berbeda.


Seluruh tempat terlihat ramai dan ada banyak orang berkeliaran. Terutama pelayan wanita. Tiang-tiang dipasang tiap tiga meter langkah, dipasangi dengan rangkaian bunga-bunga berbagai warna.


Dulu segalanya sudah seperti surga, namun sekarang malah lebih indah.


"Kakak, lihat danaunya."


Roxanne menoleh ke arah Sanya memberitahunya. Tapi bukan hanya Roxanne, semua orang berhenti memandangi tenda besar yang dipasang di atas seluruh permukaan danau, memanjang dan meluas.


Di atas danau, terdapat beberapa perahu yang diisi pelayan. Mereka menghanyutkan lampion bundar kecil berwarna lembut yang jumlahnya sudah terlihat ada ribuan


"Jarang ada pesta dalam Narendra." Mariana berucap memberitahu mereka. "Kecuali pesta pernikahan pertama setiap anak laki-laki, Narendra tidak membuat pesta sama sekali. Jadi bisa dibilang ini akan jadi pesta besar dan langka."


"Mereka mengundang orang luar juga?" tanya salah satu istri Elios.


"Tidak. Hanya para Narendra dan kita saja."


Tapi para Narendra kan berjumlah dua ratus jadi pestanya jelas tidak akan sepi. Roxanne sedikit penasaran bagaimana pesta nanti akan berlangsung.


"Ayo pergi membantu. Untuk awal, kurasa bantu menurunkan lampion adalah pekerjaan mudah."


Semua istri Elios semangat karena berarti mereka bisa naik perahu. Roxanne naik ke atas perahu bersama Diane, Naviah dan Mariana, sementara Sanya bersama Liliana, Soraya dan Historia.

__ADS_1


Tugas mereka mudah. Hanya membuka lampion terlipat, menyalakan lilin di dalamnya, lalu dibiarkan mengambang di atas air.


Kata Mariana mereka harus memenuhi seluruh permukaan danau dengan lampion ini.


"Kudengar beberapa bulan lagi pernikahan Tuan Muda Terakhir akan digelar." Mariana membuka percakapan. "Lalu Nyonya Arista berkata jika kastel belum bisa ditempati saat itu, maka kita semua akan hadir dalam pernikahan Tuan Muda."


"Tapi itu kan hanya pesta ekslusif." Liliana menimpali. "Kita semua tidak diajari etiket dalam pesta. Berdansa atau cara berbicara."


"Ada pesta dansa juga?" Roxanne tak hanya jadi pendengar. "Benar-benar seperti kerajaan."


"Kaum elitis menjadi elit karena kebiasaan semacam itu dipertahankan." Diane ikut berucap. "Tapi, Maria, bukankah saat awal datang, Nyonya—tidak, maksudku Graean mengajakmu ke pernikahan? Aku lupa pernikahan siapa waktu itu."


"Tuan Muda Kesebelas. Ya, aku diajak dan hadir. Sejujurnya itu memang pesta menakutkan."


"Ada banyak orang penting. Petinggi negara bahkan dari negeri seberang. Tamu-tamu yang datang rasanya mengintimidasi dengan latar belakang mereka masing-masing."


Begitu, yah? Roxanne penasaran sebab ia dan Elios tidak mengalami pesta semacam itu. Menurut aturan Narendra, hanya pesta pernikahan pertama yang dilangsungkan jadi dari semua istri Elios, hanya Graean yang memakai baju pengantin dan dipamerkan di depan publik.


Pembicaraan berlangsung selama tangan mereka juga bergerak menghanyutkan lampion.


Entah sudah berapa lama waktu berlalu, tapi itu jelas sangat lama karena permukaan air di sekitar mereka sudah tertutupi oleh lampion-lampion tadi.


Perahu mereka pun dipindahkan ke bagian yang masih kosong dan kembali menurunkan lampion. Roxanne yakin pada malam peringatan ulang tahun Eirene nanti, seluruh tempat ini akan sangat Indah.


Saat memikirkannya, tanpa sadar Roxanne tersenyum.

__ADS_1


Sampai sekarang bisa jadi Roxanne masih iri pada keberuntungan Eirene. Namun ia sudah tak sakit hati. Sakit hati pun tak memberinya apa-apa jadi Roxanne hanya berharap suatu saat ia benar-benar mendapatkan cinta sebagaimana Eirene mendapatkannya.


"Hei, lihat di sana."


Semua mendongak ke arah yang ditunjuk Historia.


Berbagai emosi langsung berkecamuk dalam diri mereka, termasuk kaget dan tak percaya jika Elios sedang berjalan bersama para Narendra lainnya.


Elios, Arkas, Eris, lalu entah siapa lagi yang pasti merupakan anak laki-laki Narendra.


"Tuan Muda Elios benar-benar tampan." Liliana berkomentar. "Maksudku, bagaimana bisa? Padahal Tuan Muda yang lain juga terlihat bersinar tapi Tuan Muda masih terlihat mencolok di antara mereka."


"Tidak heran." Mariana membalas. "Mendiang Ayah dari Tuan Muda Elios juga sangat tampan."


"Benarkah? Kamu pernah melihatnya?"


"Ya. Wajahnya mirip dengan Tuan Muda."


"Bukankah Tuan Muda yang lain juga tampan?" Sanya menyeletuk riang. "Sanya terpesona pada pria itu. Lihat, yang rambutnya diikat."


"Itu Tuan Muda ketujuh."


Mereka malah larut membicarakan ketampanan semua Tuan Muda Narendra di sana. Tapi Roxanne lebih banyak diam. Hanya sesekali melirik ke arah sana dan tak tahu kenapa ia justru melirik Eris.


*

__ADS_1


__ADS_2