
Pria yang mengawasi Roxanne sejak awal hanya bisa melongo. Ia tahu lama-kelamaan dia pasti juga akan gila tinggal di kediaman ini, tapi siapa sangka Roxanne akan seberani itu mendatangi Elios?
Bahkan mengatainya sebagai pecundang dan orang hina.
Pria itu, pria yang bagi Roxanne tidak memiliki nama, diam-diam mengingat kenangan lama.
"Dioris." Suara lembut dari nonanya membelai telinga pria itu dulu, saat dirinya mungkin masih harus disebut anak muda.
Itu adalah dua bulan sebelum Eirene meninggalkan semua orang.
"Ada rahasia yang ingin aku beritahukan. Hanya padamu."
Dioris tentu saja langsung membalas, "Saya bersumpah menjaganya sampai akhir napas saya, Nona."
"Itu bukan rahasia yang seperti dugaanmu. Ini lebih ... bersifat pribadi."
Jika itu bersifat pribadi, maka Eirene meminta Dioris pun bersikap lebih santai.
Maka Dioris mendekati nona yang ia layani bahkan saat masih dalam pelatihan, Nona yang tumbuh bersamanya sejak Dioris dan dia berusia sepuluh tahun.
Dioris duduk di dekat jendela, tepat di hadapan Eirene. Mereka hanya berdua di kamar itu, karenanya Dioris tidak ragu langsung menyentuh tangan Eirene.
"Apa yang ingin Nona sampaikan?" tanyanya lembut, penuh kasih sayang sebagai seorang pengawal juga pemuda yang mencintai begitu dalam. "Budak Nona ini siap melakukan apa saja."
Eirene mengulurkan tangan ke wajah Dioris. Membelai pipinya dan tersenyum lembut.
"Aku hamil."
__ADS_1
Berbeda dari Eirene yang tetap tersenyum, Dioris langsung pucat pasi.
Sebagai seorang wanita Narendra, hanya sedikit yang mampu menghabiskan malam di ranjang Eirene. Itu termasuk Dioris, sebab tugas pengawal Narendra khusus untuk wanitanya adalah menjadi pria malam.
Tapi, orang-orang seperti Dioris telah dipastikan vasektomi sebelum memenuhi tugas di tempat tidur tuan mereka. Karena itulah Dioris bisa langsung memikirkan siapa pemilik janin di kandungan Eirene.
"Nona." Dioris tersekat saat memanggilnya.
Senyum lembut Eirene mendadak membuatnya takut.
Dioris dan pengawal Eirene selainnya vasektomi, tapi Elios jelas tidak. Elios adalah Narendra dan Narendra diharuskan memiliki keturunan dari istri-istri mereka.
Tapi ....
Tapi masalahnya ....
"Aku tahu. Peraturan Narendra tidak membolehkan putri Narendra punya anak. Kakak pasti akan mengangkat janin ini."
"Entahlah." Eirene menjatuhkan sisi wajahnya ke jendela, menatap kegelapan dari gunung Kastel Bintang berada. "Aku sangat mencintai Eli, kamu juga tahu itu."
"Nona, bukan soal cinta atau apa pun. Nona tahu akan bersedih tapi Nona melakukannya. Kenapa sebenarnya Nona berbuat kebodohan ini?"
"Hei, aku tidak melakukannya secara sengaja. Aku bersumpah."
Dioris menghela napas. "Lalu, kapan Nona akan mengangkatnya? Akan jauh lebih baik jika Nona hanya memberitahu Tuan Muda Pertama."
Di bulan itu, sebenarnya keputusan Eirene telah dibuat tapi dia belum memberitahu Dioris dan hanya menyimpan dalam hatinya sendiri.
__ADS_1
Eirene hanya tersenyum kecil. Senyumnya yang biasa hingga Dioris tertipu.
Ia pikir Eirene pasti juga memikirkan hal sama. Lagipula Eirene adalah anak yang sangar patuh pada peraturan keluarga.
Tidak ya tidak, harus ya harus.
Tapi, saat itu, mungkin Eirene merasa bahwa keputusannya tidaklah melanggar juga tidak didukung.
Dia hanya mau.
Dia adalah anak Narendra dan anak Narendra dibesarkan untuk melakukan apa yang mereka mau.
Tentu saja, Dioris selalu bertanya kapan dan kapan anak itu disingkirkan. Itu bukan kebencian melainkan memang Narendra sama sekali, selama dua ratus tahun berdiri, tidak mengizinkan anak Narendra untuk mengandung.
Putri Narendra tidak menikah dan tidak memiliki anak. Eirene tahu betul hal itu.
"Nona, waktu semakin berlalu. Kondisi Nona akan semakin jelas dan itu akan memicu masalah besar. Tolong segera beritahu Tuan Muda Pertama agar tindakan tepat dilakukan."
"Aku mengerti, aku mengerti." Eirene hanya berkata begitu. "Dioris menjadi sangat cerewet sekarang. Tenanglah. Masih banyak waktu."
Itu yang dia katakan dan sekali lagi Dioris tertipu.
Satu minggu setelah dia mengatakan itu, Dioris cuma bisa terpaku melihat tubuh Eirene tergeletak bersimbah darah akan tusukan di jantung yang dia lakukan sendiri.
"Aku ... Narendra." Kalimat kering dari suara yang susah payah masih terasa nyata. "Aku menjaga kehormatanku dengan caraku sendiri."
Bagi Eirene, menggugurkan bayi itu bukanlah cara untuk mematuhi peraturan.
__ADS_1
Bagi Eirene, mati bersama bayi itu adalah caranya untuk menjaga kemuliaan sebagai seorang putri tersayang dari Narendra.
*