Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Cintai Aku, Istriku


__ADS_3

"Roxanne." Saat naik ke permukaan di sore hari, Elios mendatangi tepian di mana istri-istri berlabu, turun dari perahu.


Nama istri ketiga belasnya terucap oleh Elios yang kini sudah memakai penutup mata lagi.


"Ya, Tuan Muda." Roxanne memegang tangan Daniel saat turun sebelum buru-buru menghampiri Elios. "Saya di sini."


"Kalian menikmati hari kalian?" tanya Elios lembut seraya mengulurkan tangan pada Roxanne.


"Ya, Tuan Muda. Sayang sekali kami tidak bisa membantu lebih banyak hari ini."


"Ada banyak pelayan dan istri-istri saudaraku yang lain juga akan mengerjakan sisanya nanti. Kalian harus kembali ke bawah dan beristirahat."


Elios dengan halus mengusap-usap kepala mereka dan tersenyum. "Hanya, aku perlu bicara berdua dengan Roxanne sekarang. Bisakah kalian pergi lebih dulu?"


"Tentu, Tuan Muda. Kami baik-baik saja."


Semua istri Elios tersenyum manis pada Roxanne seolah mereka tidak merasa cemburu sedikitpun. Sikap baik itu agak asing tapi Roxanne berusaha tersenyum balik.


Ia merasa senang kalau mereka menghargai satu sama lain.


"Kakak, sampai jumpa lagi. Sanya pergi duluan."


"Ya. Tidurlah lebih awal."


"Baik." Sanya mengikuti langkah yang lainnya dan berbicara akrab dengan mereka.


Roxanne memerhatikan mereka semakin jauh sebelum berpaling pada Elios. "Apa yang ingin Anda bicarakan?"


"Bukan hal serius." Elios mengusap lengan Roxanne. "Tanganmu tidak sakit mengerjakan ini, kan? Jangan memaksakan diri jika tidak bisa. Beritahu aku."

__ADS_1


"Saya baik-baik saja." Roxanne tersenyum. "Justru menyenangkan karena ternyata mereka lebih normal."


"Normal?"


Maksud Roxanne, sejak awal ia mengira segala hal di sekitarnya tidak normal. Terutama sejak menjadi istri Elios. Tapi kemudian mereka menunjukkan jika ternyata mereka sama saja.


Bisa bergosip dan heboh membicarakan ketampanan pria. Roxanne menyukai kenormalan.


"Kalau hal seperti itu, semua orang di sini bisa melakukannya." Elios meletakkan tangannya di puncak kepala Roxanne, mengusap sayang. "Mereka temanmu. Akulah yang membuat mereka canggung dan takut membaur, tapi sekarang mereka bisa bersikap apa adanya. Jadi jangan ragu mengajak mereka bicara apa saja."


"Baik, Tuan Muda."


"Ayo. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."


Roxanne mengerjap penasaran. Tapi ia tak bertanya dan mengikuti langkah Elios. Mereka menyusuri pinggiran danau luas yang seluruunya kini telah tertutupi tenda—tenda super raksasa yang jumlahnya sangat banyak.


Elios mengulurkan tangan sekali lagi pada Roxanne, menuntunnya untuk duduk.


"Tuan Muda?"


"Aku meminta mereka menyiapkan tempat makan denganmu. Anggap saja kencan," kata Elios mesra.


Roxanne mengerjap tak menyangka.


"Sekarang tutup matamu. Ada sesuatu yang mau kuberikan."


Meski sebenarnya keterkejutan Roxanne masih besar, ia menutup mata sesuai kata Elios. Jantungnya berdebar kencang saat merasakan tangan Elios melingkari tubuhnya.


Ada sesuatu yang Elios pasang di lehernya.

__ADS_1


"Buka matamu," bisik Elios mesra.


Roxanne membuka matanya ketika menunduk. Bibirnya bergetar menemukan sebuah kalung kecil sederhana tapi dihiasi oleh berlian merah.


"Ini ...."


"Berlian merah adalah lambang cinta tertinggi dalam Narendra. Ini hanya diberikan pada orang-orang istimewa di antara kalangan para istri Narendra." Elios meraih tangan Roxanne, mengecupnya lembut. "Aku mencintaimu, Istriku."


Napas Roxanne serasa disekat.


Ia tak tahu harus merespons seperti apa. Air matanya serasa mau keluar tapi juga tubuhnya panas dan kaku.


"Kenapa ...." Kenapa Roxanne? Bukankah dia membenci Roxanne?


"Kamu mengajariku sesuatu yang sangat berharga, Roxanne." Elios memeluk tubuhnya dari belakang. "Kamu tahu cara membenciku, secara terbuka dan tepat di depan wajahku."


"...."


"Aku hidup seperti pangeran. Jangankan membenciku, seseorang yang bahkan diperintahkan mencintaiku. Seperti Graean. Wanita itu dulu tidak mengenalku. Sedikitpun tidak. Tapi dia diperintahkan menikahiku dan mencintaiku. Dia melakukannya karena dia dibesarkan untuk hal itu."


"...."


"Tapi, Roxanne, kamu berbeda. Kamu membenciku, kamu marah padaku, kamu melihat kekuranganku dan tidak semata mengikuti perintah saja. Lambat laun, aku menyadari bahwa itulah ketulusan."


Elios mengarahkan wajah Roxanne berbalik dan menyeka air matanya seraya tersenyum tulus.


"Cintai aku juga, Istriku. Tolong."


*

__ADS_1


__ADS_2