Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
25. Dunia yang Tidak Adil


__ADS_3

Ini sudah dua hari Roxanne melayani Elios di tiang hukumannya. Di hari pertama Roxanne melayani, jujur saja dirinya tidak kasihan sama sekali.


Untuk apa ia peduli pada orang yang mencekiknya? Malah mungkin Roxanne cukup puas melihat dia dihukum sehina ini.


Tapi setelah dua hari berlalu, Roxanne jadi tidak nyaman sebab Elios masih di sana.


Masih dalam posisi berdiri, masih dalam posisi seperti orang yang tersalib, bahkan saat dia sedang tidur sekalipun. Satu-satunya saat itu dilepaskan cuma ketika Elios harus ke kamar kecil, itupun hanya tiga kali sehari yang ditemani oleh Graean.


Aku jadi merasa sangat tidak tenang, ucap Roxanne memandangi wajah pucat Elios. Dia juga sepertinya demam. Pasti ada hukuman yang jauh lebih mudah dilakukan daripada ini.


Maka dari itu, siangnya Roxanne mengatakan isi pikiran pada Graean. Tentu, bukan di depan Elios.


"Kapan hukuman Tuan Muda berakhir?"


Ada kerutan di kening Graean seolah dia memikirkan hal menyakitkan. "Sampai Tuan Muda Pertama mengizinkan."


"Bisa saja Tuan Muda Pertama lupa. Membiarkan Tuan Muda berlama-lama di sana, apalagi tanpa pakaian atas juga, beliau bisa semakin sakit."


"Lalu sekarang kamu mengerti?"


Roxanne tersentak.


"Inilah yang terjadi, karena kamu."


Tangan Roxanne terkepal. Sempat ia pikir Graean sudah memaafkannya, tapi ternyata dia masih menyimpan amarah.


"Saya tahu." Roxanne langsung mengakuinya. "Saya melakukan kesalahan. Karena itu saya—"

__ADS_1


"Tuan Muda Pertama bukan pelupa." Graean berbalik. "Beliau ingat dengan jelas. Tapi memang belum waktunya. Kalau sudah mengerti, tutup mulutmu dan lihat saja hasil perbuatanmu itu. Dengan begitu kamu akan belajar."


Roxanne hanya bisa menggigit lidah. Ada sudut hatinya yang sakit memikirkan bahwa ini juga karena Elios mencekiknya. Kalau dia tidak mencekik Roxanne, dia tidak akan dihukum.


Tapi ....


Tapi mungkin itu cuma alasan. Maksudku, alasan Arkas agar menghukum Elios.


Bukan karena Arkas peduli pada Roxanne atau menghargainya sebagai seorang wanita, melainkan karena dia butuh alasan untuk mencekik Elios balik.


"Saya berbuat salah. Saya minta maaf." Roxanne bergumam seraya menyampirkan selimut ke tubuh Elios sementara dia tidur. "Tidak seperti saya, banyak yang akan marah jika Anda sedikit saja terluka. Jadi saya harap Anda cepat sembuh."


Dunia memang tidak adil, jadi Roxanne tidak mau bersedih untuk hal itu.


Prioritas sekarang adalah merawat Elios sambil menunggu hukumannya berakhir.


Pasti sebentar lagi.


Roxanne yakin ini tidak akan bertahan—


"Semua orang membencimu sekarang."


Roxanne hanya bisa menatap kosong makanan di depannya. Ia tak termenung karena ucapan Diane melainkan karena ... karena ....


"Ini sudah lewat dua minggu. Tuan Muda masih dihukum karenamu." Diane mengatakannya sangat tenang. "Bahkan sepertinya Nyonya Pertama juga sudah sangat kesal?"


".... Ya." Roxanne menjawab gemetar. "Dia ... sudah mengabaikanku sejak minggu lalu."

__ADS_1


"Itulah yang terjadi," gumam Diane. "Kamu pasti juga sudah menyadarinya. Istri-istri Tuan Muda marah karena beliau dihukum, bahkan kalau Tuan Muda berperilaku buruk."


"Itu karena harga diri. Tuan Muda adalah simbol harga diri rumah ini. Begitu beliau direndahkan, sama saja kamu merendahkan istri-istri yang lain."


Sepertinya ini benar-benar sebuah pelajaran hidup yang Roxanne tidak pernah alami.


Tidak ada satupun orang yang mengingat Roxanne dicekik. Semuanya cuma marah karena Elios dihukum sangat lama oleh Arkas.


Tapi, Roxanne sendiri pun mulai tidak ingat pada cekikan itu. Sebab setiap hari, setiap pagi, siang, malam, bahkan tengah malam dan sebelum pagi, yang ia lihat cuma Elios terbelenggu di tiang hukuman.


Itu membuat Roxanne tertekan. Dan semakin tertekan sebab satu rumah, bahkan pelayan, mulai menatapnya seolah Roxanne gangguan.


"Kamu tidak membenciku?" gumam Roxanne gemetaran. Sedikit saja berharap karena hanya Diane yang masih menemuinya.


Tapi ....


"Aku membencimu."


Roxanne terbelalak semakin kosong.


"Aku pun terluka karena Tuan Muda dihukum. Dan Roxanne, kamu mendapatkan kompensasi atas luka dari Tuan Muda kan, tapi ... kami kehilangan kesempatan mendapat kompensasi karena Tuan Muda terkurung."


Roxanne takut.


"Aku membencimu juga. Hanya, jika tidak ada yang menjelaskan, kamu akan bersikap semakin bodoh. Karena itu aku harus tetap mengajakmu bicara."


*

__ADS_1


__ADS_2