
"Bukan Graean pelakunya." Arkas menautkan jemari tangannya di bawah dagu, menatap orang-orang yang berdiri di hadapannya. "Dan bukan Elios juga."
"Saya rasa itu salah satu istri Tuan Muda Elios." Istri Pertama Arkas menimpali. "Diantara mereka, orang yang terlihat cukup berpotensi adalah Diane, Mariana, dan Roxanne."
"Anda mencurigai Roxanne?" tanya Dioris, tapi pada Arkas.
"Diane mungkin punya kemampuan tapi dia wanita yang penakut. Setelah Graean, dia adakah istri Elios yang paling lama tapi hubungannya dsn Elios tidak pernah berkembang."
Arkas menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menghela napas lega. "Lalu Maria, dia memang wanita ambisius tapi tidak sebesar itu. Sejak awal dia sudah mendekati Graean alih-alih fokus pada Elios. Artinya Maria cukup mengerti bahwa Graean sangat penting untuk kelangsungan hidupnya di sekitar Elios."
Dengan kata lain, Arkas cuma bisa melihat motif Roxanne. Hubungan Roxanne dan Graean tidak terlalu baik sejak awal. Roxanne tidak berteman dengan siapa pun dan tidak menunjukkan banyak ketakutan yang besar.
Walau dia pernah dicekik oleh Elios, dia masih berani berada di sekitar Elios. Sekalipun itu Elios yang meminta, normalnya dia akan ketakutan dan menangis tanpa henti, takut jika terbunuh.
Namun tidak. Roxanne lebih tenang dari yang Arkas harapkan.
"Masalahnya bagaimana? Roxanne sedang terluka parah. Meledakkan bangunan itu sampai seluruhnya habis terbakar, itu sama saja mengantar nyawanya ke malaikat maut."
"Sejujurnya saya tidak melihat ada pergerakan seperti itu dari wanita itu." Dioris bergumam. "Dia hanya berbaring di tempat tidur tanpa melakukan apa-apa."
"Kurasa lebih baik hentikan di sana," timpal seseorang yang bukan di antara mereka.
Semua orang berpaling ke arah suara lembut itu, tapi tak menemukan siapa-siapa. Arkas beranjak dari tempatnya, membuka tirai menuju balkon untuk menemukan pria yang berbicara barusan.
__ADS_1
"Eris."
Pria itu masih duduk santai bersandar pada kursi panjang yang Arkas sengaja letakkan di sana, untuk ia gunakan bersantai dengan istri-istrinya selepas kerja.
"Arus angin di sekitar Elios sudah kacau sejak beberapa bulan terakhir," ucapnya retoris. "Percuma menunjuk siapa pelaku, siapa yang kemungkinan pelaku. Bukankah Elios memutuskan menyalahkan Graean?"
Arkas mendengkus tapi bergegas datang, duduk di sampingnya.
"Lalu bagaimana menurutmu ... sebagai kakak dari Elios?"
"Tidak salah lagi kedatangan Elios kemari bukan karena ketidaksengajaan. Seseorang memicunya." Pria itu menoleh dengan mata tertutup. "Biar aku yang mengurus kasus ini. Termasuk mencari siapa pelakunya di antara istri Elios."
"Eris."
"Aku tidak akan memanjakan Elios hanya karena kami lahir dari ayah yang sama. Jangan lupa aku tetap Tuan Muda Kedua."
Kalau Eris memutuskan bergerak dalam urusan ini, nampaknya dia cukup kesal pada situasi Elios. Arkas tidak perlu khawatir sebab Eris pasti akan menyelesaikannya entah bagaimana.
Namun yang membuat Arkas khawatir ....
"Beri belas kasihan pada istrinya."
Eris ... adalah wujud sejati dari keberhasilan tanpa peduli bagaimana proses yang akan dilalui. Matanya yang buta itu adalah bukti nyata.
__ADS_1
Arkas khawatir jika Eris melukai istri Elios.
*
Roxanne merasa lebih baik setelah dokter datang memasangkan infus bersama obat penenang padanya. Mereka memberi pesan agar Roxanne tidak banyak bergerak sampai setidaknya luka di kepalanya membaik.
"Diane, Naviah, aku sudah baik-baik saja jadi kalian pergilah beristirahat."
Diane tidak bergerak. "Tuan Muda Pertama menyuruh menjagamu. Tidur dan jangan pikirkan kami."
Tapi mereka pasti lelah. Apalagi kediaman Elios itu bukan hanya sekadar kediaman biasa bagi mereka yang menjadi istri Elios lebih lama.
Diane pasti menyimpan sedikit kenangan dan menganggap Kastel itu sebagai rumahnya sendiri. Melihat kastel itu terbakar, Roxanne yakin Diane bersedih.
"Kalau begitu, biar Sanya yang menjanga Kakak Roxanne."
Hah, anak iblis itu datang lagi.
"Sanya?"
Diane tak melihat ekspresi enggan di wajah Roxanne karena berpaling paling Sanya.
"Diane dan Naviah juga pasti lelah. Aku sudah beristirahat jadi aku akan menjaga Kakak Roxanne sebentar. Apalagi, kudengar pagi nanti kita akan diundang bertemu seluruh keluarga Narendra."
__ADS_1
Roxanne mendadak berharap Diane tidak pergi, tapi berkat bujukan Sanya, Diane dan Naviah pergi.
*