Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
104


__ADS_3

Roxanne mengepal tangannya, berusaha menahan gemetaran itu.


Apa yang harus ia lakukan kalau Dwi adalah Narendra? Tidak, sejak awal, apa benar dia Dwi yang Roxanne kenal atau hanya seseorang yang dibuat-buat oleh dia yang asli, agar Roxanne terpikat?


Kalau dipikir ulang, kenapa pria ini menggodanya padahal tahu Roxanne milik Elios?


Benar. Ini salah. Ada yang salah.


"Menjauh." Roxanne mendorong dadanya. Mundur seraya menutup mulut bekas ciuman Dwi—atau entah siapa dia.


"Roxanne—"


"Pasti menyenangkan menipu seseorang yang bodoh seperti saya." Roxanne sudah tahu dia Narendra, jadi ia sadar akan batasannya. "Anda yang tidak melihat tapi sepertinya saya yang buta. Mana mungkin pria semenawan Anda itu bukan Narendra."


Ekspresi dia tidak banyak berubah. Jika memang dia tulus melakukan segalanya, dia paling tidak pasti memasang wajah bersalah atau segera menjelaskan kesalahpahaman.


Bahkan kalau hobinya aneh dan dia terangsang pada kesalahpahaman, ini bukan hal yang cukup bisa disebut fetish.


"Apa untuk menghina Elios?" gumam Roxanne seraya beranjak dari padang rumput itu. "Seorang Narendra rela melakukan hal hina demi menipu istri Elios yang hina. Menjijikan untuk dipercaya."


Ternyata dia cuma mau diam.


Padahal mungkin Roxanne berharap dia setidaknya berkata 'tidak bermaksud melakukannya'. Kalaupun bohong, dia tidak berusaha lagi, kah?


Yah, tapi patut disyukuri karena belum terlalu jauh.

__ADS_1


"Anda memainkan permainan membosankan. Karena saya wanita dari kalangan biasa, saya tidak tahu bagaimana menghormati kalian Narendra dengan benar. Maka dari itu, permisi sampai di sini, Tuan Muda."


Eris hanya diam sampai ia tak bisa mendengar lagi suara langkah kaki Roxanne. Aroma tubuhnya yang terbawa angin juga semakin samar, menandakan dia bergegas pergi.


Tapi Eris tidak punya niat mengejar. Pria itu malah tersenyum geli ke arah yang ia yakin Roxanne pergi.


"Tidak seperti aku menyembunyikannya karena alasan penting," gumam Eris. "Kalau aku niat berbohong, aku akan bersikap lebih sempurna, Roxanne."


Dan tidak ada manfaatnya berbohong pada Roxanne. Demi Elios pun tidak.


Sejak awal, Eris tidak pernah berniat menyembunyikan apa-apa. Makanya Eris berbicara seperti biasa. Tidak memanggil Arkas dengan sebutan Tuan Muda, menyebut nama Roxanne dan Elios sekehendaknya. Nyonya itu bukan sebutan hormat, tapi sebutan untuk wanita yang sudah menikah.


"Wanita yang polos."


Mungkin itu salah satu alasan kenapa Eris tertarik.


*


Elios membuka matanya sekalipun Mariana juga tak akan melihat dari balik besi penutup mata itu.


Sesuai dugaan Elios, Arkas tidak pernah melarang istri-istrinya datang mengunjungi Elios, kapan saja, kecuali Roxanne. Padahal baru lima menit rasanya Zack pergi menjemput Mariana, tapi dia sudah datang.


"Maria." Elios membuka mulutnya. "Ada perintah untukmu."


Elios tidak percaya pada siapa pun istrinya sekarang. Mereka semua berbeda dari Graean yang dilatih sejak bayi menjadi istri Elios. Mereka semua hanya wanita yang serakah dan menginginkan sesuatu dari Elios. Tapi, Elios tidak memiliki apa pun kecuali mereka sekarang.

__ADS_1


"Saya mendengar, Tuan Muda."


Dan ia tahu setidaknya Mariana akan melakukan tugasnya sebagai istri.


"Lakukan apa saja untuk menemui Roxanne," titahnya tegas.


"Mohon maaf sebelumnya, tapi baru saja Tuan Muda Pertama memberi perintah agar menjaga jarak dua ratus meter dari kamar Roxanne. Kamar-kamar di sekitarnya sudah dikosongkan dan dipindahkan lebih dekat ke bangunan utama."


Elios mengerutkan kening. "Sialan," umpatnya lirih. Lalu kembali berbicara. "Tidak masalah dengan itu. Lakukan apa pun, cara apa pun, agar bisa berkomunikasi."


"Apa yang harus saya sampaikan?"


Setidaknya dia cepat mengerti.


"Arkas—tidak, maksudku Ibunda, Nyonya Medea, menahan semua istri-istriku sebagai bentuk hukuman karena tidak bisa melayaniku."


Mata Mariana seperti bersinar saat dia menangkap jelas maksud Elios.


"Apa saya perlu membuat seakan-akan kami dikucilkan dan Roxanne tidak?"


Elios menyeringai. Bagus. Memang ada gunanya Graean selalu mengandalkan Mariana. "Ya. Katakan saja itu ulah Ibunda. Beliau akan sangat mengerti."


"Apa Anda ingin saya mendorong Roxanne datang ke tempat ini?"


"Kamu mengerti dengan baik, Istriku." Elios tersenyum. "Pergi dan lakukan yang terbaik. Aku akan memberi hadiah nanti."

__ADS_1


"Saya menantikan hadiah Anda, Tuan Muda."


*


__ADS_2