
Itu benar. Semuanya benar.
Eris tahu Roxanne akan mengira ia pelayan, makanya Eris memberi nama Dwi. Eris juga berbohong mengenai ia tidak bermaksud mempermainkan Roxanne. Sejak awal, Eris sudah mempermainkannya. Bahkan ia berbohong pada Arkas bahwa ini ketulusan.
Sejak awal, Eris tidak tulus sama sekali. Sudah ia bilang, kan? Eris ingin menemukan siapa pelakunya. Tapi ... Eris setidaknya jujur akan satu hal.
Ia sungguhan tertarik pada Roxanne. Itu bukan kebohongan walau di mata siapa pun itu terkesan seperti kebohongan.
Yah, itu risiko dari pembohong. Saking seringnya berbohong, ketika berkata jujur, orang akan mengira itu pun bohong. Jadi Eris tidak mengeluh.
Aku menemukan pelakunya sekarang dan hubungan dia dengan Roxanne tidak sekuat yang aku duga. Awalnya kupikir pelakunya memanfaatkan Roxanne untuk hal yang lebih buruk, karena dia sampai membunuh Graean dan meledakkan kastel.
Dia mendorong Elios kembali ke Narendra lalu kurasa dia juga coba memanfaatkan kasih sayang Arkas pada Roxanne. Tapi, setelah bertemu langsung, ternyata tidak seberbahaya itu.
Sanya tidak terlalu berbahaya, di mata Eris.
"Kamu tidak menyembunyikan senyum itu sekarang? Setidaknya tidak berpura-pura merasa bersalah?"
"Aku tidak merasa bersalah," jawab Eris jujur. "Mungkin karena aku Narendra, Roxanne, jadi aku tidak merasa berbuat salah. Aku minta maaf semata karena aku pikir itu membuatmu senang."
Dari suaranya Eris tahu Roxanne sangat marah padanya. Bahkan sedikit membencinya.
__ADS_1
"Setidaknya kamu jujur sekarang," ucap wanita itu.
"Aku tidak sepembohong itu." Eris tersenyum lembut. "Pada dasarnya aku tidak berbohong. Aku hanya menutupi kenyataan. Kamu marah karena tidak tahu hal yang diketahui oleh orang lain."
"Jadi sekarang aku yang salah?" tanya dia tak percaya.
"Itu benar," jawab Eris yakin.
Eris melepaskan kucing dari pangkuannya dan beranjak. Berdiri di hadapan wanita itu. Eris menambahkan, "Tapi, itu tidak berarti kamu harus bertanggung jawab sendiri atau pantas meminta maaf. Aku hanya berkata itu salahmu karena tidak tahu."
".... Semua Narendra ternyata menyebalkan."
"Mungkin saja." Eris mengulurkan tangan ke wajah Roxanne. Dia tidak menepisnya, tapi mungkin karena dia hanya malas.
Dia diam saja. Padahal Eris menunggu dia bertanya satu hal.
Kenapa? Kenapa Eris menyuruhnya datang ke sini, mencegahnya bertemu Elios?
Jika dia bertanya, Eris akan sangat senang menjelaskannya.
"Maaf saja." Tangan Eris tiba-tiba ditepis. "Tapi aku—tidak, saya tidak mau lagi melanjutkan pembicaraan dengan Anda, setidaknya sampai saya mati. Sampai jumpa di neraka, Tuan Muda."
__ADS_1
Dia menggemaskan, gumam Eris seraya menahan senyum. Ia tak menahan Roxanne pergi, karena di depan pintu, pelayan Eris yang menahannya.
"Minggir," perintah Roxanne pada mereka.
Eris meraba tempat duduknya sebelum menduduki kembali sofa. "Aku memang selalu tersenyum ketika aku merasa kamu menatapku sambil berpikir aku pria baik."
Mungkin, Eris paling sering tersenyum karena itu. Setiap kali ia merasa nada suara Roxanne melengking manis, itu berarti dia sedang berpikir Eris sangat baik, sangat ramah, dan sangat nyaman unruk diajak berteman.
Eris sering tersenyum karena hal itu sebab ....
"Sayangnya aku bukan pria baik." Eris membiarkan kucingnya mendekat dan membelai mereka lagi. "Aku bisa melakukan hal kejam dan bijak di saat bersamaan."
Alasan emosional Eris membawa Roxanne ke sini adalah : ia tak mau Roxanne pergi ke sisi Elios dan memeluknya. Sekalipun mereka suami istri, Eris merasa cemburu dan tak rela memikirkannya.
Alasan logis Eris membawa Roxanne ke sini adalah : karena ia tahu ketika Roxanne memeluk Elios, maka rencana Elios kembali berjalan normal sekaligus rencana Sanya akan semakin memasuki tahap sempurna.
Jadi kalau Roxanne berkata Eris cuma menipunya, itu mungkin terjadi. Dan kalau Roxanne berpikir Eris menyukainya, itu juga bisa terjadi.
Yang mana saja Eris bisa melakukannya.
"Eris—"
__ADS_1
"Roxanne." Eris hanya terus tersenyum. "Kamu tidak boleh keluar dari ruangan ini kecuali aku mengizinkan. Karena itu perintah langsung dari Tuan Muda Kedua Narendra."
*