Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Aku Peduli Padamu


__ADS_3

"Sanya tidak menyangka semudah itu memancing Askala." Gadis kecil yang duduk memakan kesemek kering di ranjang Elios itu bergumam. "Padahal hanya gelang, tapi dia sampai semarah itu. Bahkan sampai sekarang."


"Sudah kubilang dia berbahaya karena tidak terkendali."


"Lalu sekarang apa? Orang tidak terkendali itu menyebalkan dibiarkan lama-lama. Mereka susah ditebak."


Elios berhenti menggores pensil pada buku skestanya, memandangi wajah Eirene yang pelan-pelan terbentuk oleh goresan-goresan abstrak.


"Perhatian Arkas dan Eris sekarang tertuju pada Askala," kata Elios. "Mereka bahkan tidak punya waktu membahas tentang penyalahanku pada Eri kemarin."


Sanya tersenyum. "Itu kan berarti kemunduran bagi kamu."


Padahal Elios berencana memanfaatkan keributan tersebut untuk memulai keributan lain, tapi karena Askala datang, keributan tentang Elios redam digantikan oleh Askala.


Tentu saja, sekarang Elios sepenuhnya sudah menipu Roxanne dan rencana yang berusaha keras dia lakukan sejak masih di Kastel Yasa telah berhasil. Bayarannya setimpal tapi pada akhirnya mereka terhenti di jalan.


"Kamu tidak berpikir memanfaatkan Askala saja?" Sanya mengunyah kesemek kering penuh kebahagiaan seolah tak sedang bicara hal berbahaya. "Dari yang kuamati, dia itu berbeda dari Eris. Yah, kutebak kalau dia mau, dia bisa membunuh Arkas."


"Benar." Elios menyeringai. "Askala memang gila dalam artian segalanya. Orang yang paling sering coba membunuh Arkas secara langsung itu bukan siapa pun tapi dia."


"Kalau begitu manfaatkan saja."


"Apa tawarannya?"


"Mayat Arkas?" Sanya melempar buah kesemek ke arah Elios yang langsung ditangkap olehnya. Seolah dia sedang melempar mayat Arkas itu dan memperlihatkan apakah benda tersebut berguna ataukah tidak.


"Itu hanya berharga dalam kondisi tertentu."


Sanya mengerling. "Tinggal buat kondisi tertentu, kalau begitu."


Tawa Elios langsung terdengar. Pria itu melempar kembali buah kesemek pada Sanya, yang ditangkap mulus oleh gadis tersebut.

__ADS_1


"Nampaknya kamu dan aku sama-sama suka memainkan boneka itu."


Sanya terkekeh. "Kakak memang sempurna. Mau bagaimana lagi."


Roxanne akan jadi umpan sempurna untuk gelombang kemarahan Askala. Itu adalah kondisi tertentu yang mereka butuhkan.


*


"Apa yang kamu pikirkan?"


Roxanne menoleh ke arah pintu besi yang terbuka tanpa izin. Diane untuk kesekian kali datang membawa makanan. Nyaris seperti saat pertama, Elios menugaskannya sebagai perawat. Tapi Roxanne sudah terbiasa. Ia mencoba melihat dari sisi positif bahwa Elios menyuruh Diane sebab memang Diane pandai merawat seseorang.


Dari semuanya, entah kenapa memang Diane punya kemampuan menjaga sesuatu.


"Tidak banyak," jawab Roxanne ketika Diane duduk di dekatnya. "Yah, mungkin banyak."


Ekspresi Diane tidak banyak berubah sekalipun jawaban Roxanne aneh.


"Terlalu banyak memikirkan sesuatu cuma akan membuatmu sakit kepala." Diane menyodorkan suapan ke mulutnya. "Entah soal Tuan Muda atau siapa pun, jangan memikirkannya jika tidak perlu."


"Aku senang," ucap Roxanne dengan senyum di bibirnya. "Aku mulai merasa sedikit damai. Berbeda dari pertama kali."


"Itu karena di awal kamu menganggap segalanya menakutkan."


"Benar."


Tapi sekarang bahkan Elios tidak lagi menakutkan. Yang menakutkan cuma kediaman ini. Roxanne ingin cepat-cepat menyingkir dan menjalani semuanya sesuai rencana paling awal. Bukan membunuh Arkas, Elios dan Eris, tapi hidup tenang dengan uang, makanan, pakaian, dan tidak bermusuhan.


"Memiliki kebencian ternyata beban." Roxanne membuka mulut, menerima suapan sekali lagi. "Kamu tahu, setiap kali aku membenci Elios, aku merasa hidup di dunia ini adalah kutukan."


".... Kamu sudah tidak membenci Tuan Muda?"

__ADS_1


"Untuk apa? Aku membencinya karena dia membenciku."


"Begitu." Diane kembali menyendok makanan.


Responsnya membuat Roxanne bingung. Entah kenapa, Roxanne merasa dari semua orang, Diane tidak merasakan apa-apa dari perubahan Elios. Seolah dia sendiri tidak peduli mau Elios menjadi A atau B.


"Kamu bilang Maria punya selingkuhan, kan?" Roxanne mengamati wajah Diane. "Kamu sendiri?"


"Tidak." Diane menjawab tanpa ekspresi. "Aku tidak suka melakukan hal semacam itu."


"Selingkuh?"


"Keluar dari jalur."


"Jalur?"


Diane mendorong sendok ke depan bibir Roxanne. "Jangan memikirkanku. Fokus saja pada dirimu sendiri."


"Tidak bisa."


Alis Diane berkerut. "Tidak bisa?"


"Aku itu bodoh." Roxanne tersenyum sendu. "Aku terombang-ambing sejak awal sampai sekarang. Kadang aku ingin membunuh Elios, kadang aku menyerah dan percaya padanya. Aku menyukai Eris lalu ingin membunuhnya lalu tidak peduli. Aku orang menjijikan."


"...."


"Tapi sekalipun begitu, kamu tidak meninggalkan aku sampai sekarang. Pada akhirnya, Diane, aku merasa hanya kamu yang tulus padaku. Meskipun mungkin hanya perasaanku saja."


"...."


"Karena itu, aku peduli padamu."

__ADS_1


Saat itu Roxanne pasti tidak tahu bahwa Diane sedang menggigit lidahnya sendiri.


*


__ADS_2