
Beberapa bulan setelah itu, pernikahan anak terakhir dari generasi mereka diadakan. Roxanne tengah bersiap dengan pelayan pribadinya untuk hadir sebagai pendamping Eris. Wajahnya didandani, rambutnya ditata rapi, dan memakai gaun hitam dengan sulaman mawar emas.
Roxanne diam-diam merasa gugup. Ia masih ingat dengan pesta terakhirnya yang berakhir memalukan dan sekarang ia harus hadir di pesta yang lebih besar, dihadiri oleh orang-orang yang bahkan bukan dari Narendra.
Walau Eris tidak membiarkannya gugup.
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa dan tetap di sisiku saja." Pria itu menyentuh leher Roxanne karena tak bisa merusak riasan di wajahnya. Dia menunduk, menyentuhkan ujung hidungnya pada ujung hidung Roxanne. "Tentu saja, nikmati pestanya."
"Aku gugup tentang dansa," kata Roxanne kikuk. "Bagaimana kalau aku mengacau?"
"Bukankah karena itu kita berlatih berulang kali?"
"Tapi tetap saja berbeda."
"Kalau begitu tidak usah berdansa."
Roxanne memukul pelan tangan Eris yang tertawa kecil.
Pelayan datang memberitahukan bahwa Arkas sudah menunggu kedatangan mereka. Menurut tradisi Narendra, anak pertama dan anak kedua generasi termuda, yaitu Arkas dan Eris, harus turun lebih dulu dari mempelai untuk menunjukkan status mereka.
Roxanne baru benar-benar menyadari bahwa kehidupan Narendra itu seperti kehidupan bangsawan keras. Mereka teratur, terstruktur dan sedikitpun tidak boleh disusupi sesuatu yang tidak sesuai standar mereka. Roxanne mungkin adalah satu-satunya yang tidak sesuai standar, namun sekarang ia pun berusaha keras untuk memenuhi standar itu.
"Istriku," panggil Eris, "Arkas bersama Askala?"
Roxanne menoleh. "Aku kadang merasa kamu bisa melihat tanpa mata, Tuan Muda."
"Aroma mereka berbeda. Aku tahu karena itu." Eris terkekeh. "Kalau begitu cobalah untuk memasang wajah lebih angkuh dari Askala."
"Itu mustahil."
Pembicaraan itu selesai karena mereka telah mendekati Askala dan Arkas yang memakai pakaian serasi. Seharusnya Arkas bersama istrinya tapi yah, siapa yang bisa membantah jika Askala mau bersama kakaknya?
"Roxanne, aku menyukai bajumu malam ini." Askala memuji dengan senyum tidak ramah walau tidak sinis juga. "Tetaplah seperti itu agar aku sedikit menyukaimu."
__ADS_1
"Terima kasih, Nona Muda."
Arkas menghela napas. "Eris, kamu siap?"
"Ya."
"Ayo pergi."
Diiringi oleh musik lembut, Arkas menuruni tangga kastel menuju aula pesta yang dipenuhi banyak orang. Roxanne berjalan seiringan dengan Eris, mencengkram lengannya takut saat begitu banyak mata melihat.
Walau ini bukan pernikahannya, ini terasa seperti pernikahan Roxanne dan Eris saat semua mata itu benar-benar melihatnya.
"Sekarang satu dunia tahu kamu istriku," bisik Eris diam-diam.
Entah kenapa Roxanne ingin menangis. Saat ia menjadi istri Elios sedikitpun Roxanne tak berpikir bahwa ia akan diberi akhir seperti ini. Ia adalah gadis yatim piatu yang bahkan tidak punya hak memilih. Dijual demi sekoper uang untuk menjadi istri yang dicekik oleh suaminya.
Sedikitpun Roxanne tidak pernah terpikir akan berakhir di tangan Eris.
"Kamu akan menanggung beban yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya, mulai dari sekarang, Roxanne." Eris balas mencengkram lembut lengan Roxanne. "Tapi ingatlah aku Eris. Eris Narendra. Aku memilihmu dan akan memastikan kamu bahagia dengan pilihanku, sekalipun saat kamu menangis."
"Terdengar begitu?"
"Ya."
"Maka percaya dirilah."
Itu adalah ucapan terakhir sebelum mereka menapaki lantai lebih rendah. Satu, dua, tiga, semakin dan semakin dekat menuju lantai pesta.
Dan ketika kakinya bersama Eris benar-benar telah menijak, Roxanne tahu bahwa hidupnya telah memasuki lembaran baru.
Mereka memasuki lingkaran khusus lantai berdansa. Dikelilingi oleh tatapan semua orang, Roxanne memegang tangan Eris dan berdansa seolah ia telah menjadi Cinderella. Namun bedanya, itu tak hanya semalam. Itu berlangsung bertahun-tahun sampai anak-anak mereka lahir di dunia, menyempurnakan kebahagiaan yang telah Roxanne miliki.
Dan tanpa bisa Roxanne hentikan, waktu terus berputar cepat.
__ADS_1
Kini tangannya telah menggenggam tangan anak pertamanya yang hari ini melangsungkan pernikahan sesuai tradisi Narendra.
"Kamu yakin ingin berdansa dengan Ibunda?"
Putranya tertawa kecil, menarik lembut Roxanne dalam pelukannya. "Aku ingin mereka tahu jika Ibunda adalah wanita favoritku."
Roxanne mencubit pipinya. "Berhenti jadi perayu seperti ayahmu."
"Ayah bilang menjadi perayu membuatku disenangi wanita."
Roxanne tertawa kecil. Meletakkan keningnya di dada anaknya, mengikuti ritme dansa tapi juga tak ingin melewatkan pelukan sayang anak itu.
"Jaga dirimu saat bertugas di luar," bisik Roxanne. "Dan katakan apa saja pada Ibunda."
"Ya, Ibunda."
Dansa itu selesai bersamaan dengan suara musik berhenti. Putranya memeluk Roxanne erat sebelum melepaskannya.
"Pergilah pada Ayah, Ibunda. Lihat wajah bodohnya yang cemburu padaku. Aku sangat tidak mengerti kenapa dia merasa dia memiliki Ibunda."
"Berhenti menyebut ayahmu bodoh," omel Roxanne tapi juga tertawa meninggalkan anaknya, untuk datang pada Eris.
Tempat pulangnya, ke mana pun kaki Roxanne melangkah.
"Dia gugup dengan pernikahannya," bisik Roxanne saat tiba di sisi Eris.
"Semua pria gugup di hari pernikahannya." Eris mencari tangan Roxanne untuk digenggam. "Tenanglah. Dia anak baik. Pernikahannya akan sempurna."
Ya, Roxanne harap begitu. Semoga pernikahan anaknya tidak harus sesulit pernikahan Roxanne dulu.
*
karya ini selesai sampai di sini. akan ada lanjutan cerita Roxanne, tentang anaknya dan akan author umumin secepatnya.
__ADS_1
terima kasih, pembaca sekalian 🙏🙏