Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Terlalu Angkuh


__ADS_3

Semua orang pasti memiliki kepribadian berbeda dalam diri mereka. Hal yang mungkin sering mereka sebut hati nurani dan nafsu duniawi.


Dalam kegelapan itu, Roxanne meringkuk sendirian. Menyaksikan dua wujud dirinya yang berbeda, berdiri sangat jauh di sana.


Satu dari mereka terlihat berlumuran darah, sedangkan yang satu lagi justru menangis terisak-isak.


"Masih ada kesempatan." Diri Roxanne yang berlumuran darah itu tengah menusuk belati ke jantung Elios. Tersenyum cerah ketika wajahnya justru terciprat darah. "Kamu kan memang mau membunuh semuanya. Bangun dan lakukan. Berhenti jadi cengeng."


Tapi diri Roxanne yang lain justru berlutut, menangis seperti bayi tak berdaya. Dia menangis saking tak mampunya berkata bahwa semua tidak berguna.


Dia menangis karena mengakui bahwa Roxanne begitu lemah dan menyedihkan. Saking menyedihkannya sudah tak bisa lagi tertolong. Tidak bisa diapa-apakan sama sekali.


"Roxanne!" Dirinya yang berlumur darah berteriak keras. "Berhenti jadi lemah! Bangun dan wujudkan perkataanmu! Bunuh semuanya agar bahagia! Itu yang dilakukan Sanya, kan?!"


Sementara dirinya yang menangis bergetar menunjuk Roxanne. "Tapi kamu lemah. Lemah dan menjijikan, hiks. Sangat menyebalkan, hiks. Semua orang hanya menipumu karena kamu tidak berharga. Hiks, hiks. Buat apa lagi berharap?"


Roxanne menutup mata dan telinganya, menolak mendengar mereka berdua.


Sudah cukup. Ia tak mau lagi. Berjuang atau terluka, Roxanne tak mau melakukannya lagi.


Biarkan ia sendiri.


"Roxanne! Bangun dan bunuh semuanya!"


"Hiks, dasar hama menjijikan."

__ADS_1


Tinggalkan dirinya sendiri!


*


Arkas mengerutkan kening saat sudut mata Roxanne mengeluarkan air mata. Spontan ia mengulurkan tangan, mengusap tetesan air itu sekalipun tidak terlihat tanda-tanda Roxanne akan bangun.


"Aku membuatmu menangis lagi." Arkas cuma bisa bergumam penuh rasa bersalah. "Aku tidak melindungimu seperti janjiku."


Padahal Arkas tidak pernah mengingkari janjinya. Tapi entah kenapa, pada Roxanne, ia selalu gagal menunaikan janji itu.


"Aku harus apa?" Sekalipun itu sangat sakit bagi luka Arkas menunduk, ia tetap menunduk, meletakkan keningnya pada tangan Roxanne. "Aku harus berbuat apa agar tidak ada yang terluka?"


Arkas merasakan hatinya jauh lebih sakit daripada luka yang Sanya berikan.


Segalanya begitu sulit untuk diwujudkan. Arkas merasa segalanya tidak berjalan sesuai apa yang ia harapkan.


Selain Elios, Arkas selalu melakukannya demi keluarga ini dan kebahagiaan orang dalam naungannya. Tapi kenapa Roxanne masih menangis?


"Kamu benar. Itu salahku." Arkas kembali duduk tegak, mengusap air mata Roxanne yang mengalir dari sudut matanya. "Aku yang harus bertanggung jawab, jadi jangan salahkan dirimu, Adik Kecil."


"Itu bukannya terlalu angkuh?"


Arkas tersentak hingga luka di pinggangnya luar biasa sakit. Tapi Arkas bahkan tak bisa meringis melihat Askala berdiri di ambang pintu kamar Eris.


Sial. Eris sedang pergi ke Kastel Bintang sekarang untuk melihat Sanya.

__ADS_1


"Askala, jangan mendekat."


Askala yang baru akan melangkah langsung berhenti. "Kenapa? Kamu takut aku melukai adik kecilmu?"


Benar. Askala tidak punya rasa kasihan ataupun hati nurani untuk peduli Roxanne sedang sekarat. Jika dia marah, dia akan melampiaskannya.


"Tidak, Adikku," sangkal Arkas berdusta. "Hanya—"


"Itulah yang barusan kusebut angkuh, dasar menyedihkan." Askala menggeram marah. "Mengucapkan kejujuran saja kamu terbata-bata, lalu kamu berpikir ada sesuatu yang cukup berguna kamu lakukan?"


".... Bukan waktunya membicarakan itu." Arkas berdiri, menarik tirai tempat tidur agar menutupi Roxanne sebelum ia melangkah mendekati Askala. "Pergilah ke tempat Ayah. Aku akan menyusul jika Eris sudah kembali."


Askala malah tersenyum. "Saudaraku yang sombong. Memang seorang Narendra sejati."


"Askala."


"Bertanggung jawab tidak cukup membuat hinaan itu hilang, Bodoh!" Askala merampas kerah pakaian Arkas, berteriak padanya. "Ucapkan itu padanya! Terus ucapkan itu! Kamu bertanggung jawab, kamu bertanggung jawab, kamu bertanggung jawab! Ayo ucapkan!"


Arkas justru berpaling, tak membalas.


"Menurutmu dia akan bangun jika kamu bertanggung jawab? Jangan salahkan dirinya karena semua salahmu?! Ya, benar! Semuanya salahmu! Pria lemah yang hanya tahu merengek ketakutan pada tanggung jawabnya sepertimu itu tidak pantas menjadi pewaris!"


Saat itu, Arkas tahu ia hanya lelah. Setengahnya karena rasa sakit akibat luka.


Tapi ucapan Askala memancing sebuah api besar yang selalu berusaha Arkas padamkan. Tanpa sadar Arkas sudah mencengkram tangan Askala, balas berteriak padanya.

__ADS_1


"Kamu mengucapkan itu hanya karena egois!"


*


__ADS_2