Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
80


__ADS_3

Elios menceritakan kepada Roxanne sesuatu yang menurutnya tidak penting, bahkan jika seseorang tahu. Setelah terlihat puas, Elios sadar bahwa itu tidak berguna untuk ditanyakan, lalu pergi dan menyuruh Roxanne untuk beristirahat, karena ia malas berlama-lama.


Namun dalam perjalanan menuju ruang kerjanya, Elios malah tertarik untuk mengunjungi ruangan Eirene. Pria itu duduk di kursi panjang tempat biasanya duduknya, memandangi kekosongan ruangan dengan sepi yang menyedihkan.


"Eri," Elios hanya bisa menggumamkan nama itu tanpa mendapat jawaban lagi. Selalu ada rasa sakit tak terjelaskan yang muncul setiap kali Elios mengingat Eirene. Sampai detik ini, Elios masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Eirene sudah pergi.


"Na, Eri," Elios tertawa miris menatap lukisan di dinding. "Aku harus berbuat apa di dunia tanpamu?"


Eirene yang merebut seluruh hati Elios tanpa alasan jelas. Gadis yang tak pernah meminta Elios mencintainya, tapi tidak pernah kebingungan mengapa Elios mencintainya.


"Kadang-kadang aku berharap mati saja," Elios menutup matanya dengan lengan dan bergumam parau pada kekosongan. "Aku harap aku bisa pergi ke tempat di mana kamu berada sekarang."

__ADS_1


Namun hanya dengan memikirkannya saja, seluruh tubuh Elios terasa lelah.


Tanpa sadar, pria itu terlelap dan terus memimpikan masa di mana ia menyadari telah jatuh cinta pada saudarinya sendiri.


...****************...


"Aku tidak mengerti," ucap Roxanne sambil memandangi langit-langit kamar Elios dan memikirkan cerita tadi. Perasaan Elios terhadap Eirene terlihat sangat besar dan menakutkan. Ia seperti bisa melakukan apapun untuk Eirene, bahkan jika Eirene sudah mati.


"Dia pernah menyebutkan soal mayat Eirene," Roxanne mengerjap. "Apa mayatnya masih ada?" Sudah sepuluh tahun berlalu, namun mayat Eirene masih ada di tangan Arkas?


Namun apabila mayat itu benar-benar ada, bagaimana Sanya bisa merebutnya? Eirene adalah satu-satunya cara agar Elios bisa dikendalikan, namun mayatnya justru berada di tangan Arkas yang begitu jauh dari jangkauan mereka.

__ADS_1


"Aku sudah malas terlibat," ucap Roxanne sambil menghela napas. "Tapi mustahil menghindar. Sepertinya Sanya mau menggunakan aku untuk beberapa alasan."


Ia merasa seperti akan ada hal buruk yang segera terjadi, tapi Roxanne tidak tahu apa itu. Ia hanya bisa memikirkan Sanya dan Elios, lalu firasat buruknya semakin kuat.


"Pertanyaannya, aku memihak siapa?" Sanya bilang ia akan membantu Roxanne untuk menguasai Elios, namun sejak hampir mati, keinginan Roxanne terhadap Elios sudah hilang. Ia telah merasa bahwa Elios itu tidak penting.


Namun, kalau Roxanne memihak Elios dan menentang Sanya, ia merasa akan rugi besar. Sanya menakutkan bagi seorang gadis yang berwajah lucu.


"Yah," ucap Roxanne sambil memejamkan matanya. "Untuk sekarang, prioritasku adalah hidup nyaman. Entah pada pihak siapa, asalkan aku bisa makan, tidur, dan memiliki harta, itu sudah cukup, kan?"


Ia memilih yang paling nyaman, entah itu Elios ataupun Sanya. Yang paling penting, ia tidak akan merepotkan dirinya sendiri lagi. Ia tak lagi ingin meminta maaf, berlutut, tercekik, atau bahkan melompat dari tangga lagi. Intinya, ia hanya ingin hidup nyaman.

__ADS_1


__ADS_2