
"Apa Kakak hanya ingin tidur?"
Roxanne tersentak dari lamunan tanpa akhirnya. Dalam ruang gelap itu ia berbalik, menemukan Sanya tengah memasang senyum polos.
"Kakak sudah tidur sangat lama. Apa Kakak benar-benar suka menjadi bodoh?"
"Sanya?" Sekarang ia bermimpi tentang Sanya?
"Kakak benar-benar tidak tahu cara menjadi kuat tidak peduli siapa yang mendukung Kakak." Gadis itu mengangkat bahu. "Sanya selalu berpikir bahwa tidak ada seseorang yang dilahirkan menjadi bodoh. Mereka hanya tidak belajar dan berakhir bodoh. Tapi Kakak, kurasa Tuhan menciptakan Kakak menjadi bodoh."
Roxanne terpaku melihat Sanya datang mendekat. Dia berhenti di hadapan Roxanne, mendongak padanya.
"Bangun dan lihat segalanya. Kali ini, manfaatkan alat di tangan Kakak sebaik mungkin."
Segala kegelapan itu mendadak hilang tak berbekas. Roxanne terkesiap dari mimpinya yang begitu panjang, disambut oleh suara bising samar-samar seseorang berkumpul.
"Panggil Arkas sekarang!"
Sementara itu, Eris yang sedang bersiap-siap menemui Sanya di Kastel Bintang mendadak dibuat terkejut oleh Roxanne.
Beberapa hari ini Eris berusaha keras untuk merangsang Roxanne bangun dari tidur panjangnya dan dia justru bangun tepat sebelum Eris pergi.
"Hei, Gadis Kecil." Eris meraba tangan Roxanne untuk memastikan apakah dia benar-benar bergerak. "Kamu mendengarku? Katakan sesuatu. Satu kata saja. Katakan sesuatu."
__ADS_1
Roxanne dapat melihat pakaian mewah Eris. Pakaian yang mirip dengan baju tradisional Korea namun penuh dengan sulaman emas. Pakaian resmi Narendra.
"Kamu ...." Ingin ke mana adalah sambungan dari ucapannya, namun Roxanne tak tahu kenapa ia tak bisa.
Sedangkan Eris yang mendengar suara lemah Roxanne seketika mengembuskan napas panjang. Dibawa tangan dingin Roxanne ke bibirnya, menggenggam erat, menciumnya.
"Aku merindukanmu," bisik Eris lega. "Aku benar-benar merindukanmu."
Kepala Roxanne sangat sakit. Ia tak tahu kenapa tapi begitu sulit baginya mencerna situasi. Roxanne bahkan tak tahu kenapa Eris terlihat sangat cemas.
Sejumlah orang terus-menerus memeriksa Roxanne sedangkan Roxanne masih berusaha mengumpulkan informasi yang terpecah-pecah di kepalanya.
Saat Arkas datang, pria itupun terlihat lega. "Syukurlah kamu bangun," ucap Arkas senang. "Semua baik-baik saja, Adik Kecil? Kamu merasa sakit atau apa pun, beritahu kami."
"Sanya," gumam Roxanne. "Di mana Sanya?"
Eris sempat terdiam, tapi kemudian kembali menggenggam tangan Roxanne. "Kamu ingin bertemu Sanya? Kamu ingin aku membawanya?"
Orang yang terkejut justru Arkas. Jika Eris menawarkan sesuatu semacam itu maka dia bersedia mengabulkannya. Tapi dia? Dia ingin mengeluarkan Sanya dari kurungan setelah Sanya melukai Arkas?
"Aku tidak tahu," bisik Roxanne kebingungan. "Kenapa aku mencari Sanya?"
Arkas mengerjap sebelum akhirnya ia memahami situasi.
__ADS_1
"Kamu tertidur sangat lama, karena itu memorimu sedikit kacau." Arkas mengusap lengan Roxanne lembut. "Ambil waktu dan biarkan informasi di kepalamu mengalir. Baru setelah itu kita bicara."
Tatapan Arkas bergeser pada Eris yang terdiam. Arkas mengisyaratkan pria itu beranjak pergi untuk berbicara secara langsung dengannya.
"Aku tidak keberatan mempertemukan Roxanne dengan Sanya tapi Roxanne tidak siap menemui tahanan sekarang," ucap Arkas. "Tenangkan dirimu, Saudara."
Eris menggeleng. "Aku tidak sengaja," gumam pria itu. Mengakui dia tak sengaja menawarkan Sanya yang merupakan tahanan. "Aku senang dia sadar. Hanya itu."
Sejujurnya Arkas diam saja mengenai keputusan Eris memegang Roxanne, sebab orang ini jauh lebih tenang daripada Arkas sendiri. Tapi sepertinya Arkas harus berkomentar.
"Aku akan bertanya lagi." Arkas meraih wajah Eris agar setidaknya dia tahu dia sedang menatap Arkas. "Kamu mencintai Roxanne? Sebanyak cintamu pada Nernia?"
Ketika Eris mengangguk, Arkas tidak terkejut. Eris tidak pernah berbohong. Dia hidup di dunia yang tidak akan hancur bahkan jika dia jujur.
Selama ini dia selalu memikirkan Nernia. Bahkan saat bersama Roxanne, Eris masih mencintai Nernia dan hanya menganggap Roxanne sebagai sesuatu yang menarik untuk disukai.
Tapi sepertinya sekarang berbeda. Dia sudah menyamakan perasaanya pada Roxanne dengan perasaannya pada Nernia.
Untuk sekarang lebih baik aku diam, ucap Arkas dalam dirinya. Eris jauh lebih tahu bahwa jika dia terlalu mencintai Roxanne, itu berarti dia harus menghancurkan peraturan keluarga yang dia junjung tinggi.
Arkas tidak akan memberitahunya. Eris tahu dengan sendirinya.
Jika sampai dia memilih Roxanne lebih dari sekarang, maka kematian Nernia dan matanya yang hilang akan menjadi sia-sia.
__ADS_1
*