
"Ibu." Eris mendatangi kamar di mana ia mengurung Medea sebelumnya. "Keluarlah. Masa kurungan Ibu berakhir."
Walau tidak melihat, Eris bisa mencium aroma alkohol yang ditenggak oleh Medea. Saat Eris mendekati sofa di mana ibunya duduk, terdengar suara gelas dibanting samar ke atas meja.
"Jangan katakan apa pun jika itu kematian adikmu," gumam wanita itu.
Karena perintah Eris mengurungnya, Medea sedikitpun tak tahu bagaimana situasi di luar sana. Dia hanya menduga-duga mana dari anaknya yang berhasil selamat dalam aksi saling serang mereka.
Entah berapa banyak mayat yang tergeletak di kaki Eris sekarang.
"Ibu." Eris dapat merasakan kekosongan dalam dirinya saat memanggil wanita yang melahirkannya. "Apa Ibu juga berpikir bahwa keputusanku adalah salah?"
Pertanyaan Eris justru menciptakan genangan air tak terbendung di mata Medea. Wanita itu menutup wajahnya, berusaha keras menahan tangisan pilu. Perkataan Eris barusan itu seperti mengisyaratkan bahwa Elios sudah mati dan Eris memenangkan permainannya.
"Ibu, aku hanya akan menanyakan satu hal itu saja. Tolong bersedialah menjawab," pinta Eris lemah.
".... Tidak." Medea menjawab dengan suara tercekik. Tapi demi Eris, dia berusaha keras menjawabnya. "Kamu mungkin melakukan hal benar."
"...."
"Tapi itu menyakitkan, Eris. Sangat. Jalan yang kamu pilih selalu menyakitkan bagi semua orang, termasuk dirimu."
Eris tersenyum getir. Setelah bertahun-tahun yang sangat amat panjang, tiga dekade lebih, untuk pertama kali ia benar-benar mempertanyakan apa keputusannya sudah benar?
"Ibu, keluarga ini terlalu besar untuk dipimpin oleh perasaan sesaat." Eris meraba tempat duduk untuknya sebelum ia mendudukkan diri di sana. "Aku memutuskan bahwa keputusanku sudah benar."
Medea hanya menangis.
__ADS_1
"Kematian Nernia sudah benar, kehilangan mataku juga benar, termasuk kematian Eirene itu benar. Itu hal yang pantas terjadi."
Suara isakan Medea bocor begitu saja. "Setidaknya jangan katakan sesuatu semacam itu di depan Ibunda. Kamu mengerti bahwa Ibunda yang melahirkan mereka berdua? Kamu mengerti, Tuan Muda?"
"Apa Ibu mengerti beban yang kutanggung karena gelar itu?" Eris membalas miris. "Aku tahu Ibu sekarang menyimpan kebencian padaku jadi untuk terakhir kali kita bicara, akan kuberitahu sesuatu."
"...."
"Elios masih hidup."
Medea tersentak. "Tapi kamu—"
"Aku akan membunuhnya lain kali, tanpa sedikitpun keraguan, jika dia berbuat masalah lagi. Tapi setidaknya sekali, aku ingin menghentikan tangisan Ibu."
Eris meraih gelas alkohol di tangan Medea.
Rasa sepi di hati Eris melebar tanpa kendali saat mendengar ibunya berlari pergi, menuju ke tempat anak yang benar-benar dia sayangi.
Tidak. Itu sudah sangat adil dan sedikitpun tidak masalah. Eris tahu bahwa ia tidak akan disayangi seperti Elios sebab ia justru membuang Elios di hari Medea masih menangisi kematian Eirene.
"Aku tidak pernah menjadi anak baik," gumam Eris sebelum ia bersulang pada dirinya sendiri, karena berhasil kehilangan segalanya.
"Bawa kucing-kucingku kemari," perintahnya pada siapa pun yang bersiaga di pintu.
Kucing adalah satu-satunya teman bagi Eris. Ia tak akan pernah membunuh mereka karena mereka juga tidak akan pernah melanggar peraturan Narendra.
"Sedang apa kamu di sini?"
__ADS_1
Eris langsung menoleh sekalipun tak bisa melihat Arkas. "Itu pertanyaanku," jawabnya pada pertanyaan Arkas barusan.
"Aku bertanya mengenai Roxanne." Arkas menyerahkan Simon ke pangkuan Eris sementara kucing-kucing lain mengeong di kakinya. "Kenapa kamu di sini dan bukan bersamanya?"
"Berhenti bertanya hal yang sudah jelas."
Roxanne akan meninggalkan Narendra tak lama lagi, jadi untuk apa Eris menemuinya? Jauh lebih mudah berpisah jika tidak ada kata selamat tinggal, setidaknya bagi Eris.
"Ini bukan dirimu," gumam Arkas, "membiarkan sesuatu begitu saja. Jika kamu ingin, kamu bisa mendapatkannya. Perceraian mereka sudah kuresmikan."
"Yang menandakan dia harus pergi sebentar lagi." Eris berpura-pura tak memahami.
"Eris."
"Keputusan membebaskan Roxanne dari Narendra itu sudah cukup bagus, Arkas. Tidak ada yang lebih baik dari itu."
"Kamu mencintai Roxanne."
"Apa penting?" balas Eris. "Aku bisa memaksakan kematian seseorang tapi tidak dengan rasa suka. Roxanne tidak melihatku sebagaimana aku melihat dia."
Itu terbukti dari bagaimana dia membebaskan diri dari semuanya. Roxanne ingin lepas dan bebas. Dia menginginkan kebebasan itu jadi Eris akan memberikannya.
Bukankah sebelumnya ia sudah berjanji? Eris akan memberikan apa yang Roxanne nau jika dia bangun.
Sekarang janji itu sudah ditunaikan.
*
__ADS_1