
Roxanne masih berusaha memikirkan perkataan Elios tadi ketika Sanya diam-diam masuk ke kamar itu.
Seharusnya tidak bisa karena ini kamar pribadi Elios, tapi entah bagaimana dia melakukannya. Pada intinya dia ada di hadapan Roxanne sekarang.
"Aku mendengar Kakak sudah bisa berkomunikasi. Bagaimana kondisi Kakak?"
Roxanne sempat diam. Mempertimbangkan apakah harus mengajak anak ini bicara atau sepenuhnya memutus hubungan.
Tapi, Roxanne jadi ingat bahwa ia mempertaruhkan nyawa hanya untuk keinginan egois Sanya. Jadi kalau ia berhenti di sana, Roxanne merasa akan sangat menyesal.
"Bayar," ucap Roxanne samar. "Aku ingin bayaran atas nyawaku."
Sanya mengerjap, tapi kemudian dia tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. "Tentu saja. Aku akan memberikan bayaran yang besar."
"Bayaran yang besar? Kamu? Memang kamu siapa?"
Dia kan sama seperti Roxanne. Tidak bisa melakukan apa-apa kecuali yang diizinkan.
Istri Elios tidak diperbolehkan melangkah keluar dari gerbang, apalagi sampai mengirimkan hartanya keluar. Lagipula semua itu kan pinjaman.
Pakai di tempat atau tidak sama sekali.
"Kakak masih tidak percaya padaku? Sekalipun Kakak sudah melompat?"
"Aku tidak melompat karena percaya padamu, Anak Kecil."
Roxanne ingin tertawa tapi tak bisa karena kondisinya. Ia cuma bisa menatap lemah Sanya dan tidak selain itu.
"Aku melompat karena aku memang sudah gila sejak datang ke sini."
__ADS_1
Sanya memiringkan wajah. "Begitu," gumamnya. "Tapi tidak masalah karena aku tidak berbohong. Pertama, sebagai bentuk kerja sama kita, aku akan memberitahu Kakak tujuanku."
Aku tidak mau tahu tujuanmu apa. Itu yang mau Roxanne balaskan tapi sebelum bisa melakukannya, rasa sakit kuat menyerang kepalanya.
Roxanne menutup mulut, pada akhirnya mendengar kegilaan.
"Aku," Sanya menatap tajam kedua mata Roxanne, "ingin Elios mengambil posisi Arkas."
Hah?
"Mungkin bisa dibilang aku ingin menghancurkan Narendra?" ujar Sanya begitu polosnya. "Kakak bisa menyebutnya apa pun. Tapi untuk sekarang aku berencana menjadikan Elios sebagai pemimpin Narendra dan aku akan membunuh siapa pun yang menentang hal itu."
Anak gila.
Tidak, seharusnya Roxanne sudah tahu dia gila tapi bisa-bisanya Roxanne bertahan di sini mendengarkan orang gila.
Itu tawa yang berbeda. Bukan tawa polos ataupun tawa kosong.
Dia tertawa menakutkan karena justru terlihat bersemangat seperti anak kecil yang akan bermain permainan luar biasa.
"Aku lahir untuk mengubah hal mustahil menjadi mungkin, Kakak Roxanne. Karena itu semakin mustahil sesuatu, justru semakin aku menyukainya. Sangat menyukainya."
Roxanne hanya bisa menatap dia tanpa suara.
"Ada alasan mengapa aku melakukanya. Alasan yang cukup bisa diterima jika Kakak tahu. Sayangnya, aku tidak bisa memberitahu sekarang."
"Karena?"
"Itu hal berharga." Sanya kembali berdiri tegak, tersenyum polos seperti biasa. "Tapi tepikan soal itu, aku juga sudah mengambil langkah."
__ADS_1
"Langkah?"
"Langkah awal menuju pemberontakan." Sanya berbisik kecil seolah-olah dia takut seseorang mendengarnya tapi kemudian dia malah terkikik. "Tidak, aku bercanda. Itu hanya langkah kecil yang nyaris tidak berarti."
Apa yang dia bicarakan sebenarnya?
"Untuk sekarang, bagaimana kalau Kakak tetap memainkan peran di samping Elios? Elios pasti memperlakukan Kakak dengan sangat baik sekarang."
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku mendorong Kakak hari itu untuk aku memastikan."
Maksudnya saat dia merekomendasikan Roxanne pada Elios?
"Elios adalah tipe manusia seperti itu. Dia akan langsung membunuh orang yang mau dia bunuh, tidak jika tidak. Tentu saja, dia bisa menahan diri untuk alasan tertentu, tapi itupun tidak sulit dibaca."
"Berhenti bicara berbelit," tukas Roxanne kesal.
"Aku harus begini agar rencanaku tidak terbaca jelas oleh siapa pun. Jika aku bicara sangat jujur, memangnya Kakak pikir aku akan menang?"
Tapi itu menyebalkan dan Roxanne jadi kesal padanya.
"Intinya, aku ingin Kakak tetap memainkan peran Kakak. Sementara aku akan membuka jalan sedikit demi sedikit."
Tidak banyak yang bisa Roxanne mengerti kecuali fakta kalau anak itu gila, tapi ia tak lagi banyak bertanya sebab itu merepotkan.
Dibiarkan saja Sanya pergi, sambil berharap dalam hati bahwa ia tak termakan omongan anak gila itu lagi.
*
__ADS_1