Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Jangan Lupa Padaku


__ADS_3

Setelah mendapat waktu tenang, Eris ingat bahwa ia harus terbang ke Papua menemui Sanya. Namun Eris tak tahu kenapa begitu berat baginya meninggalkan Roxanne.


Bukan karena Eris takut Elios kembali datang melukai Roxanne. Bukan pula karena Eris takut terjadi sesuatu yang lain. Eris hanya tak mau. Ia tak mau meninggalkan sisi Roxanne. Namun ia juga harus pergi menemui Sanya. Itu adalah tugasnya melenyapkan semua yang mengganggu keluarga ini.


"Apa yang kamu ingat?"


Roxanne menatap Eris dan kembali mengerutkan kening. "Tidak tahu. Aku bingung."


Entah Eris harus bersyukur Roxanne masih kebingungan dan tidak langsung membencinya atau justru ia harus khawatir.


"Aku merasa harus bertemu dengan Sanya," gumam Roxanne. "Di mana Sanya? Dia seharusnya di sini."


"Pulihkan dirimu dulu baru temui Sanya."


"Ada janji yang kubuat dengan Sanya," ucap Roxanne lagi. "Aku tidak mengingatnya tapi aku tahu ada. Aku perlu membicarakannya."


Sejak tadi Roxanne sedikitpun tidak menyinggung kejadian malam itu. Eris tak tahu apa dia masih butuh waktu mengingatnya atau dia memilih pura-pura tidak mengingatnya.


"Kamu tidak mencari Elios?" tanya Eris, memilih langsung pada intinya. "Tidak ada sesuatu yang mau kamu bicarakan dengan Elios?"


*


"Anda cemas?" tanya Diane sambil mengamati Elios yang terdiam membisu di dekat jendela. Dia nampaknya menunggu sesuatu sejak beberapa hari terakhir tapi tak mendapatkannya.


"Eris belum pergi," jawab Elios. "Dia tidak membunuh Sanya, itu dugaanku. Kalau dia tidak membunuhnya, maka dia menahan Sanya. Dan jika dia menahannya, Eris tidak akan meninggalkan Sanya terlalu lama terutama setelah tahu Askala di sana."

__ADS_1


"Bukankah Nona Askala dan Anda sudah bekerja sama? Anda pasti mendapatkan Sanya kembali."


"Askala ingin nyawa Roxanne atau Eris sebagai bayaran, Istriku." Elios menoleh. "Askala benci berjudi jadi dia tidak suka melakukan sesuatu yang tidak pasti. Aku tidak membunuh Eris atau Roxanne, maka Sanya tidak kembali. Sesederhana itu."


"Tapi pasti Sanya juga berusaha melakukan sesuatu." Diane mendekati Elios. Menyentuh tangannya yang diam-diam terkepal akibat tegang. "Jika tidak pun, Anda memiliki saya. Mengorbankan saya berarti mendapatkan nama Anda kembali."


Elios justru menunduk, mencium bibir Diane.


"Istriku, suamimu ini menyukai judi," bisiknya. "Jadi berbeda dari Askala, aku bertaruh pada risiko. Akan kudapatkan keduanya tanpa mengorbankan kamu."


Tapi untuk itu Elios butuh variabel. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi tapi ternyata itu terjadi.


Apa saja. Sanya berhasil kabur, Roxanne mendadak mati atau terserah apa pun itu. Apa pun yang tidak seharusnya namun itu terjadi.


Dengan begitu Elios bisa bergerak. Elios paling benci berjudi dengan semesta karena ia benar-benar tidak bisa memprediksi apa pun yang terjadi. Tapi sekarang itu satu-satunya harapan.


*


Dokter berkata ingatannya akan pulih perlahan-lahan, tanpa perlu paksaan sama sekali. Untuk sekarang Roxanne sama sekali tidak ingat mengenai apa yang terjadi, tapi perasaannya berkata ia tidak punya keperluan bertemu Elios.


Roxanne hanya perlu bertemu Sanya. Entah untuk apa tapi hatinya berkata harus bertemu Sanya.


"Daripada itu, Eris," kata Roxanne mengamati pria di sisi ranjang, "kamu ingin menghadiri pesta apa?"


Dia berpakaian agak terlalu megah untuk sekadar duduk di sisi Roxanne. Tapi dia hanya terus duduk di sana, bukan beranjak pergi.

__ADS_1


"Aku harus ke Papua," jawab Eris jujur, juga mengabaikan bagaimana Roxanne tidak lagi menyebutnya Tuan Muda. "Tapi aku berat meninggalkanmu sekarang."


"Papua? Ada apa di Papua?"


".... Sesuatu."


"Kalau begitu pergi dan lakukan tugasmu." Roxanne mengerutkan kening. "Jangan jadikan aku alasan. Pergilah."


"Aku berusaha," jawab Eris. "Sejak tadi aku menyuruh diriku pergi tapi aku tetap ingin di sini."


"Kenapa—"


"Kamu boleh melupakan apa pun tapi ...." Eris meletakkan tangannya kembali ke tangan Roxanne. "Kuharap kamu tidak melupakan bahwa aku mencintai kamu, Roxanne."


Roxanne mengerjap kaku. "Aku—"


Eris menggeleng gelisah. "Kamu melupakannya."


"Tapi—"


Ucapan Roxanne tak bisa selesai ketika tubuhnya mendadak ditarik dalam dekapan itu. Eris memeluknya seolah dia tak bisa lagi melepaskan Roxanne namun dia juga tak membuatnya merasa sakit sedikitpun.


"Aku kalah darimu," bisik pria itu lemah. "Sangat menakutkan berpikir aku kehilanganmu juga. Aku bersumpah tidak menyakitimu lagi jadi tolong jangan lupa padaku."


Roxanne merasa bersalah karena ia sungguh-sungguh tak tahu apa yang sedang Eris bicarakan.

__ADS_1


*


__ADS_2