
Roxanne semakin memicingkan mata pada Arkas. Bukan berarti ia berhadap Arkas bilang ayo teruskan tertipu, tapi kenapa dia menyuruh Roxanne berhenti?
Kalau Dwi—tidak, namanya Eris, kan? Kalau Eris itu meneruskan semuanya dan menipu Roxanne terus-menerus, bisa saja Roxanne memberitahu segalanya tentang Sanya. Pembunuh Graean sekaligus pelaku yang bertanggung jawab akan hancurkan Kastel Elios.
"Bukannya itu menguntungkan Anda kalau diteruskan? Anda kan mau menghina Elios."
Arkas mengerjap sok polos. "Roxanne, apa aku terlihat seperti pria yang terobsesi pada dendam?"
Ya, sangat. Sangat-sangat-sangat mengingat betapa sering dia memukul dan menghukum Elios.
"Baiklah, mungkin aku memang terobsesi pada kebencianku pada Elios." Arkas menghela napas. "Tapi, mengenai Eris, itu tidak menguntungkan sama sekali."
"Maksud Anda?"
"Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi jika dia benar-benar tertarik padamu sebagai lawan jenis dan kamu membalasnya, itu tidak akan berakhir damai. Kamu milik Elios."
Roxanne diam.
"Aku tahu Eris jauh lebih lembut daripada Elios, tapi kuharap kamu ingat bahwa kita lebih baik 'mencintai apa yang harus kita cintai daripada apa yang ingin kita cintai'."
Roxanne mendengkus. Dia bicara seakan hubungan Roxanne dan Eris sudah begitu dalam ke tahap cinta sejati. Tidak juga. Itu sebagian besar cuma nafsu dan keserakahan.
"Saya sudah memilih Elios sejak awal, jadi tidak perlu memberitahu saya lagi."
Arkas tersenyum. "Benar juga."
*
Daniel dan Zack mengamati dari luar sel bagaimana pernapasan Elios terlihat tidak normal.
"Ini buruk," gumam Daniel pelan agar Elios tak mendengarnya. "Kurasa dia kehilangan kendali lagi."
"Yah, kondisinya memang tidak baik sejak Eris datang. Entah mereka membicarakan apa."
__ADS_1
Jika sudah seperti ini, besar kemungkinan Elios mengamuk. Amukan terakhirnya terjadi pada awal kedatangan Roxanne dan penyebabnya nyaris tak pernah pasti.
Kadang datang tiba-tiba, kadang juga karena dia terlalu marah, kadang karena mimpi buruk, bahkan kadang setelah dia tidur siang. Tapi yang pasti jika sudah mengamuk, waktu pasti kapan itu selesai mereka semua tak tahu.
"Eri." Dan tentu saja, nama itu tak pernah lepas dari bibir Elios. "Eri."
Suara Elios yang seperti memanggil orang nyata itu bukan karena dia berhalusinasi. Dia secara akal sehat tahu Eirene tidak ada namun dia menolaknya dan memaksa agar Eirene ada.
"Aku di sini." Elios mulai bergumam. "Aku di sini. Aku selalu di sini. Eri."
Zack menoleh pada Daniel. "Ada baiknya meminta Arkas memberi Elios obat penenang."
"Menurutmu Arkas mau? Dia setidaknya bisa balas dendam dengan membiarkan Elios seperti ini."
Penyebab Elios sering mengamuk parah juga karena saat gejalanya muncul, Arkas tak mengizinkan perawatan namun justru mengurung Elios.
Orang itu, jika berurusan dengan Elios, hati nurani dan jiwa bijaksananya hilang tak berbekas.
Daniel menghela napas. Mendekati pintu sel Elios dan menatap baik-baik tuan sekaligus teman kecilnya itu.
"Nah, Elios." Daniel dengan jelas memanggilnya. "Menurutmu Eirene akan senang mengetahui kondisimu sekarang?"
Tapi dia sudah tidak mendengar, sibuk mencari-cari bayangan kekasihnya.
Sementara itu, di sisi lain di mana Eris berada.
"Lama tidak bertemu, Ibu," bisik Eris saat merasakan kehadirannya.
Eris tidak perlu melihat untuk mengenali aroma wewangian ibunya sendiri. Pria itu tersenyum kecil saat tangan lembut meraih rambutnya, mengambil alih kegiatan Eris mengepang rambut panjangnya.
Belaian halus dan penuh kasih sayang itu membuatnya tenang. Bahkan sekalipun Eris adalah pria tiga puluh tahunan, sedikitpun ia tak malu meletakkan kepalanya bersandar pada ibunya, meminta untuk kasih sayang lebih.
"Apa Ibu sudah makan?" tanyanya perhatian. Sekalipun tahu pastinya makanan Nyonya Medea diatur sangat baik oleh pelayan.
__ADS_1
"Belum," jawab wanita itu di ubun-ubun Eris. "Ibunda sedang tidak nafsu makan belakangan."
"Ibu terlalu memikirkan Elios. Anak itu bisa mengurus dirinya sendiri."
"Anak yang bisa mengurus dirinya sendiri setidaknya akan berhenti menyebut nama Eirene."
Eris mengatup bibir. Inginnya diam saja sebab ia tak mau mendengar cerita sedih lebih jauh, lalu mendengar ibunya menangis. Tapi ....
"Anak itu menyerahkan nyawanya pada Eirene," ucap Eris. "Tentu saja dia merasa tidak benar-benar hidup setelah Eirene pergi."
Dekapan di tubuh Eris terasa gemetar. Ia tahu apa yang mau ibunya katakan.
"Anak Ibunda hanya kalian bertiga," lirih wanita itu.
Eris mengepal tangannya diam-diam.
"Tapi kamu membuang matamu demi Arkas, Eirene meninggalkan Ibunda, dan Elios kehilangan dirinya sendiri bersama Eirene."
Tangisan yang Eris benci pada akhirnya muncul lagi. Pelukan ibunya bergetar dan tangan-tangan kecilnya seperti akan patah memeluk Eris dengan kesedihan itu.
"Eris." Ibu terisak. "Tidak bisakah kalian berdua memikirkan Ibunda sedikit saja?"
Kening Eris berkerut merasakan linu di dadanya. Mungkin perkataan itu benar. Mungkin sebenarnya Eris tak pernah benar-benar memikirkan perasaan ibunya.
Lagipula ia, Elios dan Eirene hanyalah anak egois yang selalu menyusahkan ibu mereka.
"Jangan menangis, Ibu." Eris meraba wajah Medea dan menyeka air matanya. "Aku tidak akan mengecewakan Ibu lagi."
Kalimat itu ... mungkin juga hanya kebohongan. Dan Ibu tahu betul itu.
Kedatangannya adalah isyarat bahwa dia ingin Eris berhenti mengusik istri Elios dan membuat Elios menggila, tapi Eris akan tetap melakukannya atas keinginan Eris sendiri.
*
__ADS_1