Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
115


__ADS_3

Roxanne diam saja membiarkan tubuhnya dibasuh oleh pelayan. Katanya, paling tidak selama berada di bangunan utama, Roxanne akan diperlakukan sebagai istri dari Narendra. Maka dari itu, ada lebih dari dua pelayan menemaninya mandi.


Walau Eris juga ada.


Ah, kamar mandinya tidak ada. Roxanne hanya perlu melepas pakaian, duduk di lantai sekitar kolam dan disanalah ia mandi. Itu salah satu fungsi kolam selain jadi hiasan.


Entah benar atau hanya hobi, bisik hati Roxanne seraya melirik Eris.


Pria itu duduk membelakanginya. Bukan karena dia tidak mau mengintip—dia juga tidak bisa—tapi sejak tadi dia memang sudah duduk seperti itu. Tanpa suara sama sekali.


"Tuan Muda." Anggap saja Roxanne bosan jadi ia mengajaknya bicara. "Saya harap Anda mau menjawab pertanyaan lancang saya."


Sudah jelas dari cara bicara Roxanne itu bukan izin, tapi isyarat perintah. Eris agak berbalik ke arah suara Roxanne datang.


"Apa itu?" tanyanya lembut.


"Di mana istri Anda?"


Saat Roxanne mengajukan itu, ia menatap ekspresi pelayan bukan Eris. Berbeda dari Eris yang tersenyum, Roxanne setidaknya menangkap ada ketegangan di mata mereka mendengar pertanyaan tadi.


Sejak awal, itu aneh. Kenapa Roxanne tidak pernah bertemu istri Eris padahal ia sudah berselingkuh? Tidakkah mereka marah?


"Jika kamu mengira aku memiliki banyak istri, itu sedikit keliru." Eris mengulurkan tangan ke bawah untuk mengambil salah satu kucing di sana. "Istriku hanya satu, namanya Nernia."


Roxanne sedikit terkejut. "Bukankah Narendra memiliki banyak istri? Untuk pekerjaan atau apa pun itu, yang saya dengar."


"Itu benar. Tapi sebenarnya itu pilihan. Hanya kebanyakan memilih banyak istri, hingga aku jadi terkesan berbeda sendiri."


"Kenapa?" Roxanne belum puas bertanya. "Padahal fantasi Anda cukup 'aneh' tapi kenapa tidak memilih banyak wanita?"


Eris tertawa kecil.

__ADS_1


Tanpa isyarat sama sekali bahkan, pelayan di sekitar Roxanne beranjak pergi, meninggalkan mereka berdua. Sepertinya mereka sudah tahu bahwa jika itu membicarakan istri Eris, tuan mereka akan sensitif.


Atau setidaknya, Roxanne pikir dia akan sensitif. Sepertinya dia mencintai istrinya.


"Aku pria membosankan, sejujurnya," kata Eris. "Fantasiku aneh seluruhnya berkat istriku, Nernia. Kalau bukan pengaruhnya, aku mungkin akan jadi pria yang tidak bisa berbuat apa-apa di depan wanita."


"Lalu di mana dia?"


"Mati."


Roxanne memiringkan wajah. "Mungkin aneh mengatakannya tapi bukankah usianya terlalu muda untuk mati? Tentu saja, anak kecil juga mati jika sudah waktunya dia mati."


"Ya, bisa dibilang aku mempercepat kematiannya."


Bahu Roxanne menegang sesaat. Jadi bukan cuma Elios, kakaknya pun suka membunuh istrinya?


"Mumpung kamu bertanya, aku akan menjelaskannya baik-baik." Eris membelai kucing di pangkuannya penuh kasih sayang.


Siapa yang menduga dia nau bercerita tentang cara dan alasan dia membunuh istrinya.


"Hmmm." Roxanne mendengarkan sambil meneruskan basuhan pada tubuhnya. "Wanita seperti apa dia? Sebaik Eirene?"


Eris tertawa mendengar kecemburuan jelas di suara Roxanne.


"Tidak. Sayangnya tidak. Jika Eirene adalah malaikat, kurasa Nernia adalah iblisnya."


Kalau begitu kenapa dia menyukai wanita iblis?


"Nernia adalah wanita dengan pola pikir yang unik. Setidaknya menurutku. Dia menyukai pedang, sedikit suka kekerasan terutama saat kami bercinta."


"Bekas-bekas luka di tubuhku, kebanyakan itu perbuatan Nernia. Padahal melukai Narendra bisa membuat dia dihukum mati, tapi Nernia malah tertawa melakukannya sambil berkata aku lebih cocok dengan tubuh sedikit merah."

__ADS_1


Baiklah, nampaknya istri dia tidaklah semalaikat Eirene.


"Tapi suatu hari, Nernia menginginkan hal lebih."


"Punya selir?"


"Dia sudah punya jadi bukan." Eris tersenyum. "Nernia ingin nyawa Arkas."


Roxanne tercengang.


"Antara Arkas atau Nernia, sejujurnya aku lebih mencintai Nernia. Aku tidak ingin kehilangan istriku dan satu-satunya yang paling sering tertawa bersamaku. Aku dulu mencintai dia lebih besar daripada aku mencintai Ibu."


Lalu kenapa?


"Tapi aku tidak memilih Nernia. Aku memilih Arkas."


"Itu kontradiksi," ujar Roxanne.


"Benar. Mungkin di sudut hatiku, aku membenci Arkas karena membuatku membunuh Nernia."


Tapi sepertinya orang ini tidak menyesal.


"Aku seorang Narendra, Roxanne," ucap pria itu.


Senyum tulus di wajah Eris sekarang membuat Roxanne terpaku.


"Tanpa perlu dipaksa oleh siapa pun, tidak akan pernah dihalangi oleh apa pun, aku akan selamanya menjadi Narendra. Karena itulah aku merobek-robek tubuh istriku yang menghina Arkas, calon pemimpin Narendra dan mencabut kedua mataku agar pemikiran semacam itu tidak akan pernah lagi ada."


Bulu kuduk Roxanne meremang.


"Selama aku ada," Eris membelai kucing di pangkuannya semakin lembut, "aku memutuskan bahwa aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusik Narendra."

__ADS_1


Saat itu Roxanne merasa bahwa Eris tahu segalanya. Dan di saat bersamaan, Roxanne merasa Eris ... jauh lebih buruk dari Elios.


*


__ADS_2