
Sanya tidak bisa menyembunyikan kekesalan di wajahnya. Padahal buta dan padahal Sanya sudah berusaha keras menyelinap ketika Mariana dan Diane bergerak juga, tapi kenapa orang ini menemukannya?
Tidak. Kenapa dia membuat seakan-akan dia mau membunuh Sanya padahal dari kejauhan pasti Sanya hanya terlihat sedang berjalan-jalan? Sejak kapan dia tahu?
"Kamu mau langsung membunuhku meskipun tahu aku seorang Narendra," ucap Eris tenang.
Sanya mundur. Ia tahu tidak bisa bergerak banyak sekarang. Karena Sanya mundur, Eris pun bisa bangkit dari posisinya.
"Aneh sekali. Padahal aku cuma berjalan di belakangmu." Eris bergumam sok kebingungan. "Apa ada semacam trauma dalam dirimu, Nak? Sampai-sampai langsung menyerang orang yang berdiri di belakang?"
Sanya merasakan punggungnya dingin. Baru kali ini ia ketakutan pada orang buta. Lucu sekali.
"Sedikit." Sanya menghentikan sikap waspadanya. "Maafkan Sanya, Tuan Muda. Sanya tidak tahu itu Anda."
Suaranya kembali seperti anak kecil yang polos dan tidak tahu akan dunia.
"Tidak apa-apa. Itu biasa terjadi jika menjadi istri Elios."
Eris meladeninya. Bersikap seakan mereka tidak pernah mau saling membunuh dan mengantongi belati tadi.
"Omong-omong, belati itu milik Graean, kan?"
Ah. Sanya tersenyum setengah meringis. Jelas dia tidak benar-benar akan melewatkannya.
"Sanya mendapatkan ini sebagai hadiah."
Di sini, ancaman Sanya hanyalah tindakan kekerasan barusan. Sekalipun Eris tahu ialah pelaku pembunuhan Graean dan pembakaran kastel, kenyataan Elios sudah berkata itu semua salah Graean telah menutup seluruh pintu kasusnya.
__ADS_1
Jadi Sanya akan baik-baik saja jika Eris mengabaikan fakta itu juga. Tapi, pria ini punya niat lain. Niat yang bukan soal mengungkap kebenaran dari kejadian kemarin.
"Jadi begitu. Graean memang wanita yang murah hati pada anak kecil." Eris tersenyum. "Ambillah belati di tanganmu satu lagi. Hadiah dariku."
Sanya akan membuang benda ini nanti, untuk berjaga-jaga. "Terima kasih, Tuan Muda."
"Tapi karena itu berbahaya dipegang, akan kuminta seseorang membawakan tempat khusus padamu. Pajang di kamarmu sebagai hiasan."
Sanya tertawa kecut tanpa suara. Dia memastikan Sanya tidak membuangnya.
"Terima kasih, Tuan Muda."
"Tidak masalah." Eris memegangi perutnya. "Tapi, Sanya, tendanganmu mengingatkanku pada istriku. Mediang istriku, lebih tepatnya."
"Eh?"
"Aku sering menghabiskan waktu berlatih pedang dengannya di masa lalu. Omong-omong, istriku, Nernia adalah ahli pedang terbaik di generasi Narendra sekarang."
Rasanya seperti sesuatu merayap di punggung Sanya. Mencekik leher dan seluruh tubuhnya sambil berbisik menakutkan.
"Aku tahu rahasiamu," bisik iblis itu. "Kamu membunuh Graean, meledakkan kediaman Elios, lalu memanfaatkan Roxanne, sekarang menyerang Tuan Muda Narendra dan kamu hanya istri Elios. Gadis kecil, apa maumu?"
Walaupun Eris nyatanya sedang diam saja di depan Sanya, ia benar-benar merasa seperti sosok lain itu berbisik demikian.
Sudah cukup lama Sanya tidak merasa takut.
"Sanya."
__ADS_1
"Ya, Tuan Muda?"
"Kenapa hanya diam?"
"Tidak." Sanya berusaha tertawa. "Sanya hanya terkejut karena Tuan Muda memiliki rambut panjang. Rambut Tuan Muda lebih Indah dari rambut Sanya yang seorang wanita."
"Benarkah? Terima kasih kalau begitu." Eris terkekeh. "Ah, tapi bicara soal indah, bukankah Elios lebih Indah?"
Pembicaraan yang sangat dipaksakan tapi terkesan tidak begitu. Sanya suka membuat orang bingung, makanya ia tidak suka pada orang yang setipe dengannya. Niat Eris sangat tidak jelas saat dia mengajak Sanya bicara.
Kenapa? Kalau tidak mau mengurus kematian Graean lalu kenapa dia perlu memastikan secara langsung kemampuan Sanya?
"Benar. Tuan Muda Elios adalah pria yang indah. Sebagai wanita, Sanya merasa malu menjadi istrinya."
"Bahkan aku pun tidak bisa menandingi keindahan adikku itu."
"Tidak begitu, Tuan Muda." Berhenti bicara tidak jelas. Sanya melotot dalam benaknya saja. "Anda juga sangat indah."
"Benarkah? Aku senang." Eris tertawa seperti orang bodoh.
Tapi ucapan seterusnya membuat Sanya tegang.
"Kalau begitu, Sanya, bisakah kamu membawa Roxanne ke bangunan utama?"
"Eh?"
"Mulai hari ini, atas perintah dariku, pindahkan Roxanne bangunan utama. Ke wilayanku."
__ADS_1
Dasar badjingan! Jelas dia mencegah Roxanne pergi ke tempat Elios!
*