Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
74


__ADS_3

Roxanne kembali terlelap beberapa saat setelah tersadar. Dibantu oleh sejumlah alat penopang kehidupan di tubuhnya, Roxanne tidak terlalu masalah tanpa makanan.


Roxanne membiarkan tubuhnya beristirahat total, dan sepanjang melakukan itu Roxanne tahu bahwa Elios ada di sampingnya.


Dia duduk di sana menunggu Roxanne beristirahat.


Butuh waktu sekitar empat hari sampai akhirnya Roxanne benar-benar membuka mata untuk menghadapi orang di samping tempat tidur.


"Tidurlah lebih lama, Istriku."


Elios. Dia benar-benar mau memainkan drama istri tersayang itu.


Tapi Roxanne tidak mau lagi. Setelah mengalami semuanya, Roxanne hanya ingin melakukan apa yang ia mau tanpa memaksakan diri untuk hal selain kemauannya.


"Elios."


Dari balik penutup matanya, Elios membuka mata pada panggilan itu.


Satu-satunya saat Roxanne berani menyebut Elios dengan nama hanyalah saat dia menjadi gila di taman itu. Apa sekarang dia mau mengatakan itu lagi?


Bahwa Elios berbuat salah dan ia hanya seorang pecundang?


Aku tidak masalah. Dengan begitu alasanku semakin banyak menyiksanya.


"Aku sudah malas."


Elios mengangkat alis tebalnya, agak terkejut. "Apa?"


"Aku sudah malas." Roxanne mengulangnya baik-baik agar dia dengar. "Aku tidak mau berpura-pura menyukaimu lagi jadi kamu bisa berhenti pura-pura menyukaiku juga. Aku sudah sangat malas."

__ADS_1


Kenapa dia hanya diam? Bukankah seharusnya dia mengatakan sesuatu karena Roxanne baru saja memuntahkan kejujuran yang menyakiti harga dirinya?


Atau apa? Dia mau langsung menghentikan alat penopang hidup Roxanne agar dirinya mati?


"Aku—" Aku sudah tidak peduli pada ancaman lagi, adalah apa yang mau Roxanne katakan.


Tapi sebelum itu terjadi Elios tiba-tiba melepaskan penutup matanya, menunduk hingga wajahnya berada di depan wajah Roxanne.


Mata Elios tidak berkabut. Tatapannya pun tidak terlihat diganggu oleh halusinasi. Dia benar-benar menatap Roxanne dan itu bukan mata kebencian.


"Istriku," bisiknya lemah. "Bukan hanya kamu yang mempertimbangkan segalanya."


Roxanne terpaku.


"Aku memang pria yang mencekikmu beberapa waktu lalu, aku juga yang mempermainkanmu. Tapi, segala hal bisa jadi berbeda ketika alasan muncul."


"Aku bersungguh-sungguh ingin memberi perhatian pada kalian semua. Aku menyadari tanggung jawabku, Roxanne. Aku tidak berpura-pura sama sekali."


*


Ketika Elios keluar dari ruangan itu, hal pertama yang pria itu lakukan adalah mengeluarkan tangannya dari dalam lengan pakaian.


Untungnya lengan pakaian Elios besar selain tebal, jadi Roxanne tidak mungkin sadar ketika Elios menggores lengannya sendiri dengan belati.


"Menyebalkan." Elios mengibaskan tangannya sebagai cara sederhana membuang darah ke lantai.


Rasa sakit di sana tidak penting. Elios hanya kesal karena harus berbohong.


"Betapa ternoda aku, Eri." Elios berguman dengan senyum kecut. "Aku sampai harus mengucapkan kalimat konyol seperti itu. Hah, istriku tidak ada yang berguna. Karena itulah aku harus bekerja keras."

__ADS_1


"Kamu juga tidak pernah berguna bagi istrimu, karena itulah mereka tidak berguna."


Elios mendengkus. Tidak terkejut meski tangannya tiba-tiba diraih oleh Daniel, sigap melilitkan kain untuk menutup sementara pendarahannya.


"Sebenarnya ada apa sampai kamu melukai diri sendiri? Dan di mana penutup matamu?"


"Aku harus membukanya karena seseorang menjadi sangat merepotkan." Elios menghela napas. "Aku tidak sudi ada orang lain lagi yang mengaku sebagai Eri di depanku."


Demi mencegah halusinasi, Elios menciptakan rasa sakit di tubuhnya seperti sekarang. Jika mengikuti hukum Narendra, Roxanne pasti sudah mati karena membuat Elios melukai dirinya sendiri.


"Bukannya itu karena obat?"


"Sebelum bisa dipastikan itu obat, aku akan terus beranggapan aku yang berhalusinasi secara alami."


Elios menarik tangannya yang kini telah dililit kain perban sementara. Dikeluarkan kain panjang lain dari sakunya, memasang itu untuk memblokir penglihatannya sendiri.


Obat yang Roxanne gunakan tidak ditemukan sekalipun Elios sudah meminta Daniel mencari, jadi Elios tidak mau mengambil risiko.


Bisa jadi ia memang berhalusinasi. Elios tidak pernah bisa menghitung berapa kali ia merindukan Eri-nya.


"Aku menjadi sangat sensitif karena berbohong." Elios berjalan kembali. "Panggil Maria. Aku butuh teman di tempat tidurku sekarang."


"Mariana? Bukan Graean?"


"Hanya Graean yang bisa diandalkan di tempat ini, jadi setidaknya aku harus menggunakan ternak lain untuk hal yang bisa mereka lakukan, kan?"


Graean sibuk mengurus hal penting, jadi orang-orang tidak penting saja yang bergerak untuk urusan kecil.


*

__ADS_1


__ADS_2