
"Ada apa dengan telinga Anda?" Roxanne terkejut ketika masuk kamar ia justru menemukan Elios duduk memakai kimono putih yang dipenuhi darah.
Darah itu mengalir dari telinganya. Nampak jelas telinga kanan Elios agak terbelah, dan Roxanne tidak percaya dia malah duduk santai di sana seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tunggu sebentar. Saya akan memanggil Nyonya Pertama."
Tapi saat akan berbalik, tangan Roxanne ditarik hingga terhempas ke pangkuan Elios.
Pria yang terus menutup matanya dengan kain putih itu membelai wajah Roxanne. Tiba-tiba mencium bibirnya, menjilati lidahnya seperti dia kehausan.
Roxanne benci setiap kali Elios melakukan itu, tubuhnya malah terasa panas seolah merespons.
Dan yang paling menyebalkan, sekalipun tahu ada niat tersembunyi, dia terus membuat Roxanne tidak bisa menolaknya bahkan sedikit.
Sedikit saja, demi Tuhan!
"Ada ungkapan dalam Narendra yang kudengar dari Ibunda." Elios mengusap puncak dadanya dengan napas yang berembus berat. "Beliau berkata, jika seorang Narendra terluka dan darahnya bercucuran, adalah sebuah bakti jika istrinya menjilat darah itu sampai habis."
Roxanne yang sempat kesulitan bernapas oleh gairah seketika mematung.
Matanya menatap Elios penuh keyakinan bahwa dia benar-benar sudah tidak waras.
Elios mendadak tertawa. "Aku serius, tapi itu metafora. Mengapa harus memanggil Graean jika kamu bisa melakukannya sendiri?"
Dasar tukang berbelit. Tinggal bilang saja apa susahnya sih?
Roxanne tak menyembunyikan rasa kesal itu. Beranjak dari pangkuan Elios untuk masuk ke kamar mandi, mengambil handuk dan air setidaknya agar membasuh darah.
__ADS_1
Dari banyak darahnya, Elios sudah terluka cukup lama.
"Sangat mudah melukai siapa pun dalam keluarga Anda." Roxanne mencibir sinis. "Kakak memukuli adiknya, suami mencekik istrinya, istri lain menjebak istri suaminya yang lain lagi. Penuh cinta seperti kata Tuan Muda Pertama."
"Mempercayai Arkas adalah sebuah kebodohan yang akan bertahan tujuh generasi."
Dan mempercayai Elios adalah sebuah ketololan yang akan menurun ke generasi sampai akhir zaman.
"Istriku, dia itu perayu." Elios bergumam sembari tangannya mengelus-elus pinggang Roxanne. "Dia akan mengucapkan cinta pada semua wanita yang dia temui. Begitulah dia. Lebih baik menjauhi pria mesum seperti Arkas."
"Istrinya hanya enam sementara Anda tiga belas."
"Karena batasan istri Narendra hanya enam." Elios membaringkan wajahnya ke bahu Roxanne. Mungkin dia mendengar jika jantung Roxanne berdetak kencang. "Aku adalah Yasa. Tidak ada batasan untukku."
Lalu dia mau bilang dia lebih baik?
Roxanne memilih fokus membersihkan darah di telinga Elios. Sekarang terlihat jelas sobekannya cukup dalam. Bahkan rasanya itu harus dijahit atau akan selamanya seperti itu.
"Lebih baik Anda diobati. Saya tidak tahu cara menjahit luka."
"Kamu benci melihatku terluka?"
"Berhenti bicara menjijikan." Roxanne membalas dingin. "Anda pernah mencekik saya dan itu bukan hanya sekali. Lalu Anda ingin saya khawatir?"
"Kamu pernah mencekikku juga. Dan membuat aku dihukum selama sebulan. Itu terlalu mahal untuk membayar kesalahan pada istriku, asal kamu tahu."
"Setelah dipikir-pikir," Roxanne meletakkan handuk basah penuh darah itu ke baskom, "Anda sepertinya baik-baik saja jadi tidak perlu diobati."
__ADS_1
Elios menjadi sangat cerewet saat dia berbohong jadi Roxanne malas meladeninya. Terlalu banyak bicara pada seseorang selalu bisa jadi kelemahan, terutama wanita.
Roxanne tak mau sampai lengah.
"Lalu, kalau Anda belum ingin melakukan apa-apa, saya ingin membahas sesuatu."
Elios menarik Roxanne agar duduk kembali di pangkuannya. Lalu dia membelai rambut Roxanne seolah-olah ia adalah boneka. "Pembahasan apa itu?"
Tentu saja, Roxanne harus mengingatkan diri.
Nikmati bukan terbuai. Merasa senang pada sikap lembutnya tidaklah salah, tapi jangan tertipu.
Ibarat kalau dia memberi air maka terima tapi kalau dia memberi racun maka tolak.
Roxanne menjadi cukup tenang setelah memikirkan hal itu. Ia akan menikmati kelembutan Elios mulai sekarang tapi tidak akan tertipu bahwa semua ini tulus.
Ini palsu.
"Mengenai istri Anda, Sanya."
"Sanya?"
"Tidurlah dengan Sanya setelah saya. Pada giliran berikutnya, pilih dia."
Mata harus dibalas mata, kan?
*
__ADS_1