Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Bukan Jalan Kebodohan


__ADS_3

Roxanne berdiri memandangi danau dari tepiannya. Sekarang Roxanne sudah mengingat pada malam itu Sierra mendorongnya jatuh dan Elios mengakhiri sandiwaranya di sana. Tempat yang menjadi saksi bisu kebodohan Roxanne sampai akhir.


Tapi mungkin Roxanne mensyukurinya. Berkat itu, ia benar-benar melepaskan semua alasan lemah dirinya bisa terbuang di danau ini.


Roxanne memutuskan melangkah lebih dekat, menginjakkan kakinya di tepian saat tak sengaja melihat Eris tengah duduk sendirian di gazebo. Pria itu memakai setelan mewah tapi tidak formal. Rambutnya yang panjang tampak lurus indah seperti wanita namun wajahnya yang tampan tidak bisa disembunyikan.


Kaki Roxanne bertolak ke jembatan, pelan dan pelan ia mendekat. Sebisa mungkin Roxanne tidak bersuara tapi Eris menyadarinya.


"Jangan tahan langkahmu kalau ingin mendekat," ucap pria buta itu. "Siapa? Jelas bukan Askala."


"...."


"Sanya?" Eris hanya bisa menduga-duga sebab pada akhirnya dia tidak melihat. "Kamu ingin membahas tentang mata kirimu?"


"Sanya berkata tidak peduli mengenai matanya."


Ekspresi Eris yang semula tenang seketika hilang. Pria itu juga beranjak dari kursinya, tampak gelisah saat langkah Roxanne terdengar mendekat.


"Roxanne," bisiknya. "Ada apa?"


"Aku yang harusnya bertanya ada apa? Kamu tidak datang padaku beberapa hari terakhir."


".... Tidak ada alasan untuk itu." Eris sejenak meredam gemetar di suaranya. Kembali meraba kursinya untuk duduk tapi tak duduk senyaman tadi. "Kamu ingin mengucapkan perpisahan?"


"Perpisahan? Kenapa?"

__ADS_1


"...." Eris menggeleng dan terlihat sulit menjawab apa-apa. "Kurasa tidak ada sesuatu yang perlu kita bicarakan lagi, Roxanne, pergilah."


"Kamu tidak berhasil membunuhku, tidak berani menikah denganku, dan aku justru mengubah peraturan Narendra yang kamu jaga." Roxanne mendekat. "Apa karena itu Tuan Muda Kedua jadi terlihat takut sekarang?"


Eris mengerutkan kening. "Ini perintah terakhir, Roxanne. Pergilah."


Tangan Roxanne justru terulur ke wajah Eris. Suara tarikan napas yang tersekat samar-samar terdengar. Eris mendongak tegang saat sentuhan Roxanne berada di rahangnya, menyelip di sela-sela rambutnya yang lembut.


"Kurasa urusan kita belum selesai, Eris." Roxanne berbisik di telinganya. "Urusan kita justru baru dimulai."


"Jika itu tentang aku berpikir membunuhmu sekalipun aku mencintaimu," Eris memegang kedua lengan Roxanne dan mendorongnya pelan, "itu adalah diriku. Aku tidak menyesal."


"Tapi aku tidak bicara soal itu."


"Mana permohonanmu?" Roxanne duduk begitu saja di atas paha Eris. "Kamu bilang kamu akan memohon sebanyak yang aku mau asal aku memaafkanmu. Mana?"


"Roxanne—"


"Jadi setelah berani membawaku ke persidangan dan meminta peraturan berubah, kamu justru tidak berani lagi sebab bukan kamu yang mengubahnya?"


Eris tampak bernapas lemah. Ucapan demi ucapan Roxanne di telinganya, juga karena itu suara dari Roxanne yang membelainya, Eris tak bisa bersikap tegar.


Itu sangat sulit bersikap seolah semuanya baik-baik saja.


"Aku berpikir membunuhmu, bahkan sampai sekarang." Eris mengubah arah dorongannya tadi menjadi pelukan lemah. "Aku terus memikirkan apa yang akan terjadi jika peraturan sungguhan berubah. Bagaimana jika Elios mengajukan permintaan perebutan kekuasaan setelah ini? Dia bisa jika nama Narendra-nya kembali. Lalu bagaimana jika pemberontakan kalian, istri-istri Elios, memincu pemberontakan lain dari istri Narendra? Kalian sekarang boleh bercerai tanpa kematian, namun itu tidak berlaku bagi istri-istri Narendra lainnya. Mereka bisa saja menuntut keadilan untuk mereka dan jika istri Narendra tidak lagi sepatuh yang seharusnya, keseimbangan dan kepercayaan dalam keluarga ini akan goyah. Lalu bagaimana jika setelah ini Askala melakukan sesuatu untuk menekan Arkas karena kalian dibebaskan? Askala bisa mendukungmu hari ini tapi besok dia bisa berubah pikiran hanya karena dia merasa itu jauh lebih menarik dilakukan."

__ADS_1


"...."


"Aku masih berpikir harus membunuhmu, Elios, istri-istri Elios lalu memaksa Arkas untuk menerimanya dan menjalani kehidupan kami seperti biasa kembali."


Eris mencengkram punggung gaun Roxanne saat justru dia memeluknya sangat erat.


"Aku masih terus berpikir membuangmu tapi aku juga sangat mencintaimu. Karena itu pergilah dan ambil kesempatan ini. Kamu berhasil membebaskan diri sendiri."


Roxanne tersenyum. "Kalau begitu coba lakukan."


Pria itu menegang. "Roxanne, jangan mengucapkan—"


"Ayo bunuh aku. Sekarang."


Dia tidak akan bisa. Roxanne mengetahui itu ketika ia memeluk Eris dan Eris juga memeluknya seolah dia tak puas dan tak akan pernah puas pada hal itu.


Tangan Eris tidak akan sanggup melukainya jika dia bahkan tak bisa menentukan perasaannya sendiri.


"Aku membebaskan diri agar bersamamu," ucap Roxanne di ubun-ubun. "Sekarang berhenti jadi cengeng dan lakukan apa yang sejak lama kamu tahan."


Begitu Eris menciumnya dengan napas yang gemetaran itu, Roxanne tahu bahwa ia tidak lagi memilih jalan kebodohan untuk dirinya sendiri.


*


Dukung karya ini dengan like 👍 kalian dan mampir ke karya author lainnya 👇

__ADS_1


__ADS_2