
Eris menunduk sekalipun ia tak dapat melihat darah di tangannya yang terluka. Mau tak mau pria itu berpikir bahwa segalanya bukan tentang Askala memihak siapa.
Ini tentang Eris yang mencintai Roxanne terlalu besar. Ia terlalu mencintainya sampai-sampai dia justru menjadi kelemahan Eris.
"Ada apa?" Suara Roxanne mengejutkan pria yang tengah terombang-ambing itu. "Eris, darah siapa ini?"
"Milikku." Eris memperlihatkan tangannya. "Aku memgupas apel dan terluka. Jangan khawatir. Tidurlah lagi."
Roxanne menatap Eris penuh kalkulasi. "Seseorang tidak terluka parah cuma karena mengupas apel. Kurasa sekalipun dia tidak melihat."
Wanita itu meraih tangannya, menarik selimut untuk menahan sebentar darah di sana.
"Jangan terluka," bisik Roxanne sambil terus menekan selimut ke lukanya, agar darah di sana berhenti keluar. "Aku benci melihat orang terluka jadi jangan terluka."
Eris justru mengerutkan kening, meringis bukan karena lukanya.
Ia tahu ini. Perasaan ini, Eris tahu betul. Rasa terbakar karena mencintai seseorang yang tidak seharusnya.
Aku merasakan ini tepat setelah aku memutuskan membunuh Nernia, gumam Eris pada dirinya. Ini tanda bahwa aku harus melepaskan Roxanne.
*
Sementara itu, Askala berlari ke pelukan Arkas sesaat setelah dia menyelesaikan tugasnya.
"Aku melakukan sesuai katamu," lapor wanita itu seperti anak kecil yang tengah bahagia. "Beri aku ciuman."
__ADS_1
Arkas menunduk, mengecup pipinya.
"Ugh, ayolah. Berhenti memikirkan hal bodoh seperti aku adikmu. Setidaknya cium aku dengan benar!"
"Setidaknya jangan di luar." Arkas memeluk, bukan mencium bibirnya. "Dan pikiranku sedang tidak baik, Askala. Aku takut Eris membunuh Roxanne sebagai jalan keluar tercepat."
"Maka biarkan saja," jawab Askala masa bodo. "Lagipula ide membuat Roxanne jadi istri Eris itu lebih gila. Eris adalah Tuan Muda Kedua, calon pemimpin jika kamu tidak ada, dan kamu malah memasangkan dia dengan wanita dungu bekas Elios?"
Ya, karena itulah Eris dan Roxanne sangat cocok. Eris selalu sempurna dan bertindak tidak manusiawi, jadi Arkas ingin memberi dia kelemahan agar Eris bisa bersikap sedikit lebih lembut pada dirinya sendiri.
"Bukankah aku juga kelemahanmu?" Arkas membelai wajah Askala. "Kumohon, Adikku, setidaknya sekali saja dengarkan aku. Bukankah aku sudah memelukmu sekarang?"
Askala tertawa senang. "Baiklah. Apa pun untuk saudaraku."
Bagus. Askala terkendali dan Eris sudah ditekan. Sekarang tinggal Arkas membiarkan Elios membuat masalah dan membiarkan persidangan terjadi.
*
Roxanne terbangun dari tidurnya saat malam justru berada di puncaknya. Wanita itu berpaling melihat Eris berbaring di sisi lain kasur, masih dengan pakaian mewah yang katanya mau dia pakai ke Papua tapi tidak sedikitpun dia beranjak pergi.
Roxanne tak tahu. Ia merasa ada sesuatu yang harus ia ingat namun begitu sulit masuk ke kepalanya.
"Dan di mana Sanya sebenarnya?" tanya Roxanne pada dirinya sendiri. "Aku merasa akan mengingat sesuatu jika melihat dia. Tapi kenapa Sanya tidak datang?
Semua buram. Roxanne tak tahu apa-apa tentang situasi ini dan itu membuatnya kesal.
__ADS_1
Baru saja Roxanne ingin bangun, mengambil air di meja dekat tempat tidur, tangannya yang memegang Eris justru lepas
Seketika pria itu bangun.
"Jangan beranjak," larang Eris protektif. "Ada apa? Kamu ingin ke toilet?"
"Aku hanya ingin air." Roxanne mengambil airnya sendiri karena memang dekat. "Tidurlah lagi."
Eris justru duduk, meraba tangan Roxanne kembali. "Berapa banyak yang kamu lupakan?"
"Hm? Maksudmu?"
Maksud Eris adalah perasaan asing yang ia rasakan dari suara Roxanne. Dia terlalu santai seolah-olah dia tidak mengenali Eris. Bukan berarti Eris mau mendengar dia berkata 'Tuan Muda' namun Roxanne terasa berbeda.
"Beritahu aku kenapa kamu seperti ini, Roxanne." Eris rasa ia harus memulainya dari sana. "Apa yang terjadi sampai kamu tertidur sangat lama?"
Roxanne terkejut sebab mendadak ia tersadar bahwa jawaban untuk pertanyaan itu ... adalah Roxanne tidak tahu.
"Beritahu aku kapan terakhir kali kita bertemu, Roxanne."
.... Itu juga tidak ada di memori Roxanne.
"Aku benci ini." Eris menggeleng. "Aku benci kamu melupakan semuanya."
"Dokter berkata itu hanya sementara. Jadi kurasa—"
__ADS_1
"Aku tetap benci." Eris menarik tengkuknya, tiba-tiba mencium Roxanne. "Akan kubuat kamu ingat."
*