
"Kakak."
Tidak pernah Roxanne sangka ia akan merasa sedikit tenang karena suara Sanya. Setidaknya itu berarti sekarang Roxanne sudah bisa bergerak bebas.
"Sanya." Walau Roxanne tidak bisa bersikap lembut padanya. "Bagaimana Tuan Muda?"
"Sanya menyuruh Naviah menenangkan Elios kemarin. Seharusnya sekarang dia baik-baik saja, mungkin."
Roxanne memicing. "Kamu mengorbankan orang lain?"
"Sanya tidak mau memeluk Elios dan Diane bersama Maria, jadi lebih baik orang lain saja." Sanya menyengir polos. "Tapi Sanya memastikan Naviah berperan sebagai Kakak jadi Elios pasti mengira itu Kakak."
Baiklah. Roxanne pasti gila tadi merasa tenang karena suara iblis kecil tukang tipu ini.
Roxanne menyeret langkahnya menuju ruang bawah tanah sesuai jalan yang pernah ia lewati. Sanya mengikutinya tanpa diminta, tapi Roxanne menganggap anak itu angin saja.
Begitu tiba di depan sel Elios, Roxanne menemukan pria itu masih dalam posisi sama. Terbelenggu di seluruh sudut, matanya tertutup, mulutnya terkunci. Hanya, beberapa bagian juga terlilit perban.
"Tuan Muda."
Elios seperti merespons suara Roxanne.
"Ini saya, Roxanne," ucap Roxanne lagi.
Pintu sel Elios dibuka untuknya, jadi Roxanne tak menunggu waktu, masuk dan mendekati pria itu.
"Tuan Muda, Anda baik-baik saja? Tidak, pasti tidak. Maafkan saya. Saya tidak langsung menemui Anda."
Dari luar sel itu, Sanya mengamati bagaimana Roxanne melepaskan besi di mulut Elios agar dia bisa bicara.
Sanya tidak tahu apakah Roxanne sedang berakting menjadi istri baik atau benar-benar mengkhawatirkan Elios, tapi tindakannya cukup baik.
__ADS_1
"Roxanne." Suara pelan Elios terdengar lelah. "Aku merindukanmu."
"Saya juga, Tuan Muda."
Dasar pembohong. Elios, dia menggila karena Eris meniduri istrinya kan? Karena itulah dia sampai menyuruh Mariana menyeret Roxanne dan karena itulah Eris mengurung Roxanne di bangunannya.
Dia marah karena tidak bisa mencegah hubungan Eris dan Roxanne.
"Kamu baik-baik saja?" Elios bertanya penuh perhatian dan kecemasan. "Tanganmu membaik secara bertahap, kan? Arkas mengirim dokter padamu, kan?"
"Jangan mencemaskan saya." Roxanne membelai pipi Elios. "Sayalah yang cemas pada Anda. Tolong jangan terluka lagi."
Untuk satu alasan, aku merasa mereka pantas bersama. Sanya bersandar pada tembok sekaligus menyingkir setidaknya dari pandangan.
Sama-sama pembohong. Yah, kurasa aku tidak pantas bilang begitu.
Tapi omong-omong, Elios, suasana hatinya terlihat masih buruk.
Nampaknya Sanya bisa sedikit berharap pada situasi ini.
*
"Panggil Paman kemari."
Walau tidak lagi mengamuk, suasana hati Elios jelas sedang buruk. Luar biasa buruk bisa dibilang. Dan itu menjadi sangat amat buruk ketika yang muncul ... adalah Eris.
"Paman Pemimpin sedang berada di luar kastel dan Arkas sedang mengurus pekerjaannya, jadi jika ada sesuatu, katakan padaku," kata Eris tanpa rasa hormat.
Mungkin, Elios memang tidak akan pernah takut pada siapa pun melebihi ia takut pada Eris. Tapi sekarang Elios tidak mau memikirkan itu. Emosi lain menguasainya dan Elios ingin menuruti emosi itu.
"Kalau begitu," Elios mendongak pada Eris untuk pertama kalinya, "lepaskan ini."
__ADS_1
Hinaan yang membelenggunya ini, untuk pertama kali setelah sepuluh tahun menerimanya, Elios ingin melepaskannya.
Penutup mata Elios masih terpasang. Itu besi dan bukan sekadar kain, jadi jelas Elios tidak melihat ketika ... Eris tersenyum. Semua berjalan cukup baik sejauh ini, itu yang Eris pikirkan.
"Tidak bisa, sayang sekali. Arkas tidak mengizinkan kamu menginjakkan kaki ke permukaan," tolak Eris.
"Karena itulah aku minta Paman yang datang, Kakak."
"Agar kamu bisa memohon? Sekalipun Paman ingin, keinginan Arkas itu sama beratnya."
"Tidak. Aku mau mengatakan hal lain dan tidak mau diwakili." Elios terdiam sejenak. "Ah, benar juga. Kakak juga harus mendengarnya."
"Apa itu?"
Elios menarik senyum yang mungkin akan membuat Arkas gila. "Kematian Eri ... bukan salahku."
Eris tertegun. Dari semua orang tak ia pikirkan kalimat itu bisa keluar dari mulut Elios.
"Kamu menolak kenyataan sekarang?" tanya Eris.
"Kenapa Kakak selalu berusaha membela Arkas bahkan jika dia salah?" balas Elios.
Eris berjongkok. Meraih wajah Elios untuk lebih merasakan perasaannya. "Katakan secara langsung."
"Aku bicara soal kematian Nernia dan Eri."
"Itu dua hal berbeda."
"Bagiku sama."
"Kenapa?"
__ADS_1
Elios tertawa. "Karena ... semuanya demi Arkas."
*