
Roxanne hanya menatap datar pria itu. Pria yang namanya Roxanne tak tahu. Kalau tidak salah, dia menghilang beberapa waktu sebelum Roxanne melompat.
Tadi Graean datang mengatakan bahwa mulai sekarang dia akan menjaga Roxanne. Karena Roxanne terlalu sering terluka dan Arkas tidak menyukai itu.
"Waktunya makan."
Perhatian Roxanne teralihkan pada Diane. Perempuan itu memang secara langsung merawatnya atas perintah Graean, sekalipun pelayan sebenarnya sudah cukup.
"Kepalamu baik-baik saja? Kamu bisa duduk?"
Roxanne tidak lapar gara-gara pria asing itu, tapi ia tak mau menyusahkan Diane. "Bisa," jawabnya secara terpaksa.
Diane membantu Roxanne bersandar pada bantal yang disusun tinggi, lalu perempuan itupun duduk, mengarahkan makanan ke mulut Roxanne tanpa banyak bicara.
"Tidak bisakah dia keluar? Aku tidak nyaman," kata Roxanne pada Diane, namun sebenarnya pria itu dengar.
"Aku tidak tahu." Diane menjawab seolah pria itu juga tidak ada. "Tuan Muda Pertama yang memintanya jadi aku tidak punya wewenang meminta dia pergi."
Padahal sudah mendengar tapi pria itu bahkan tidak bergerak.
Ada sesuatu yang Roxanne mau katakan pada Diane dan itu tidak bisa jika orang ini ada.
Pada akhirnya Roxanne diam, menerima semua suapan makanan dari Diane. Setelah selesai, Diane langsung undur diri dan hanya menyuruh Roxanne beristirahat agar cepat pulih.
Roxanne tidak kembali berbaring, melainkan tetap pada posisinya.
__ADS_1
"Siapa namamu?"
Pria itu diam.
"Hei." Roxanne membuka matanya lebar-lebar pada pria asing tersebut. "Aku bukan orang baik. Arkas bahkan tidak memperlakukanku seperti ini, jadi menurutmu kamu berhak melakukan ini? Aku bisa memberitahu Arkas kalau kamu bertindak kurang ajar padaku."
Pria asing itu hanya menatap dingin. Tidak terlihat gentar. Tapi dia menjawab, "Aku tidak menerima tugas apa pun dari Tuan Muda selain berdiri menjaga. Bicara padamu juga bukan kewajiban."
"Bahkan kalau begitu—"
Sebelum Roxanne bisa selesai bicara, orang itu tiba-tiba berlalu pergi.
Roxanne nyaris tak percaya akan tindakannya, tapi ia teralihkan pada pintu terbuka, memunculkan Elios bersama Daniel.
"Aku mencium bau serangga." Elios duduk di tepi kasur. "Istriku, kamu bicara pada serangga itu?"
"Kamu tidak menyukai dia?" Mulai sekarang, Roxanne tidak mau lagi memanggil Elios tuan muda. Ia tak mau bahkan jika di depan Nyonya Medea.
"Tidak," jawab Elios santai, tak memedulikan cara bicara Roxanne. "Aku sangat membenci anak itu sejak dia lahir."
"Siapa dia? Kurasa hubungannya dengan Eirene baik."
Termasuk Eirene, tentu saja. Roxanne tidak peduli bahkan jika Elios terpancing lagi. Sudah ia bilang akan melakukan apa pun yang ia mau sekarang.
Entah apa yang dipikirkan Elios, tapi sejenak dia memang diam mendengar nama saudari kembarnya. Walau kemudian dia tersenyum.
__ADS_1
"Namanya Dioris, Nona." Daniel menjawab dengan senyum ramah. "Dia pengawal Nona Muda Eirene sejak dulu. Yah, bisa dibilang hubungan mereka memang cukup baik. Karena Dioris sudah bersama Nona Muda sejak berusia empat tahun."
Jadi begitu. Orang itu mencintai Eirene, kah? Kasihan juga. Roxanne jadi mau menertawakannya.
Bukankah hubungan antar saudara justru adalah hubungan yang paling sulit dihancurkan? Karena mereka tidak mungkin putus hubungan ketika mereka diikat kuat oleh darah mereka sendiri.
"Apa dia mengganggumu, Istriku?" Elios memegang tangan Roxanne di atas pahanya. "Apa yang dia katakan?"
Roxanne lebih terfokus pada luka di tangan Elios. Itu diperban dengan rapi sampai rasanya kaku.
"Apa Tuan Muda menghukum kamu karenaku?"
"Hm? Tidak. Ini luka karena berlatih pedang." Elios menarik tangan Roxanne ke bibirnya. Mengecup kulit tangan itu seraya tersenyum manis. "Kenapa? Kamu khawatir pada suamimu ini?"
Roxanne masih tidak percaya jika Elios sungguhan berubah, tapi ia tak bisa juga percaya bahwa Elios yang itu akan sesabar ini dalam berpura-pura.
Lagipula buat apa dia berpura-pura menyukai Roxanne? Dia bahkan tidak takut pada Arkas. Kalau dia takut dan dia terpaksa bersikap baik pada Roxanne, itu masih masuk akal.
Tapi nyatanya tidak. Lalu kenapa?
"Tetap mainkan peran Kakak."
Hah. Anak gila itu dan Elios seharusnya cocok satu sama lain.
"Ya, aku khawatir." Roxanne mengusap sudut bibir Elios. "Aku tidak mau merusak wajah tampanmu lagi."
__ADS_1
*