
Daniel dan Zack memastikan Roxanne sampai di kamarnya lepas menemani Elios makan. Baru setelah itu keduanya kembali ke sel bawah tanah, menemukan Elios tengah tertawa terbahak-bahak sendiri.
"Elios." Zack bersandar pada tembok, bersedekap melihat tuannya. "Aku merasa aku badjingan yang buruk, tapi seharusnya aku tahu kamu lebih buruk."
Daniel setuju. Apa? Kalian percaya itu semua sungguhan? Seorang Elios?
Hah, jelas itu tipuan. Tapi Roxanne mana mungkin tahu sementara Daniel dan Zack saja kaget mendengar Elios minta maaf. Dia benar-benar menyingkirkan egonya demi meyakinkan Roxanne betapa menyesal dia atas segalanya.
"Hhh." Elios mendongak dengan senyum gila di bibirnya. "Aku ini selalu belajar dari kakakku sejak dulu. Aku belajar kesombongan dari Arkas, jadi aku pun belajar kerendahan hati dari Eris."
Memang dasar orang gila, pikir kedua temannya.
"Yah, lidahku jadi pahit karena meminta maaf. Sungguh menjengkelkan," gerutu Elios menjulurkan lidah seolah-olah mengekspresikan rasa jijiknya.
"Tuan Muda Eris akan marah jika tahu perbuatanmu," kata Daniel memperingatinya.
Elios tertawa. "Dasar bodoh. Menurutmu kenapa Eris menyuruh ternakku datang ke sini repot-repot?"
Tidak bisa disangkal. Pria itu juga sama gilanya dengan Elios, meski berbeda konteks.
Entah apa yang dia inginkan, tapi yang jelas dia bukan sekadar menyuruh Roxanne datang. Mungkin dia sendiri sudah melihat jelas niat Elios melakukan segalanya. Atau mungkin dia mau memastikan niat Elios lewat Roxanne.
"Tapi," Zack bergumam, "kenapa kakakmu mendekati Roxanne dari semua orang? Kudengar dia bahkan memindahkan semua orang diam-diam dari sekitar Roxanne."
"Kamu lupa siapa yang berbuat lancang pura-pura menjadi Eri?" ujar Elios.
Kedua bawahan Elios saling melirik dan seketika mengerti. Jadi karena itu Eris mendekati Roxanne? Karena dia marah seorang budak mengaku sebagai adiknya yang berharga?
__ADS_1
Jika memang benar, kasihan ... Roxanne.
*
Roxanne termenung dalam kamarnya setelah malam itu. Ia terus bertanya-tanya benarkah perbuatannya menerima Elios dan memaafkan dia atas segalanya.
Entah kenapa, Roxanne merasakan sesuatu yang aneh. Ia sedikit percaya bahwa Elios sudah berubah. Dia pun sudah membuktikannya selama lebih dari sebulan terakhir, tidak pernah lagi melakukan hal kejam.
Jika itu pura-pura, bukankah sebulan terlalu lama? Memangnya untuk apa?
Tapi ada yang aneh. Roxanne tak tahu apa tapi perasaannya juga tak nyaman.
"Nyonya?"
Roxanne tersentak. Menoleh pada Dwi yang memanggilnya saat dokter pun tengah sibuk melepas perban di kepala Roxanne.
"Aku baik-baik saja," ucap Roxanne. "Jangan khawatir. Tidak lagi sakit."
Padahal Roxanne diberi obat oleh dokter, tapi ternyata masih butuh waktu.
Begitu hanya tersisa Roxanne dan Dwi, wanita itu berusaha beranjak. "Bisakah kita berjalan-jalan sedikit? Aku bosan berada di kamar," pintanya.
"Tentu. Tentu saja." Eris mengangguk.
Roxanne langsung tersenyum hangat. Berada di sekitar Dwi benar-benar membuatnya sangat terbantu. Dia sangat nyaman dijadikan seorang teman.
"Jujur saja, tempat ini sangat indah." Roxanne tidak bisa menolak fakta itu.
__ADS_1
Luas tanahnya sudah luar biasa, lalu bagaimana bangunan kecil-kecil dibentuk seperti susunan bangunan di perumahan elit-tradisional malah terlihat sangat estetik. Jika ini bukan tanah pribadi melainkan sebuah perumahan umum, maka pasti orang-orang akan berdatangan untuk berfoto di seluruh sudut.
Dan yang paling memikat adalah danau besar yang memanjang dari depan kastel ke sisi kanan.
"Tempat ini seperti surga buatan." Roxanne tak bisa tidak memujinya. "Berapa banyak uang membuat semua ini?"
"Ini istana kami, jadi ini seluruhnya harta kami."
"Arkas pasti kesulitan," gumam Roxanne. "Dia harus mengelola keluarga sebesar ini sebagai pemimpin. Itu bukan level pemimpin keluarga untuk satu istri dan beberapa anak."
Tentu saja itu bukan simpati. Roxanne hanya mendadak berpikir Arkas ternyata lebih terbebani dari yang selama ini ia pikirkan.
Kalau nanti dia menjadi pemimpin, bukankah itu berarti Arkas menanggung seluruh masalah adik-adiknya, istri adiknya, anak dari adiknya, dan harta seluruh adik-adiknya?
"Itu benar."
Roxanne terhenyak mendengar suara Dwi. Itu suara lembut, tapi tak tahu kenapa terdapat tekanan yang dingin.
"Menjadi pewaris bukan hanya tentang menjadi pemimpin dan memerintah semua orang." Dwi menghadap ke arah danau dengan kedua matanya tertutup rapat. "Arkas bertanggung jawab atas segalanya. Segala-galanya."
Roxanne dibuat canggung. "Dwi menghormati Arkas?"
"Tentu. Sangat. Dia orang yang layak." Jawaban itu terdengar sangat serius dan tulus. "Arkas menanggung beban sejak dia berada dalam kandungan. Sebagai anak pertama Narendra, Arkas harus memastikan segala hal di sekitarnya sempurna. Bukan karena itu hal yang harus hanya karena Narendra berkata begitu, tapi karena itulah cara merawat keluarga ini."
"...."
"Menjadi pewaris dan memimpin Narendra berarti menanggung semua perasaan setiap anggota keluarga, bahkan hingga pelayan dan pengawal. Keinginan mereka, mimpi dan harapan mereka, Arkas harus mempertimbangkan segalanya dan mengabulkan semua yang bisa."
__ADS_1
Roxanne entah kenapa merasa tertusuk. Ia kembali dibuat ingat akan Sanya.
*