
Roxanne merasa ada yang salah. Ekspresi Elios tidak seperti biasa. Dia terlihat gelap. Apa dia kesal tidak menemukan Arkas?
Tidak, kenapa dia sampai sekesal ini cuma karena Arkas tidak ada? Sepuluh menit lagi mungkin Arkas juga muncul jadi kenapa Elios membuat ekspresi seakan dunia berakhir?
"Tuan Muda?"
Ada ketakutan aneh dalam diri Roxanne melihat ekspresi Elios itu. Ia merasa seperti harus menjauh, namun sebagian dirinya juga bersikeras percaya itu tidak masalah.
"Tuan Muda, ada apa—"
"Kakak."
Hanya Roxanne yang menoleh pada suara manis dari Sierra itu. Dia memakai gaun sebatas lutut hingga bebas berlari sekalipun pakaiannya rumit.
"Nona Muda." Roxanne langsung menyapanya mengikuti etiket dasar. Walau mereka bertemu tadi.
Tapi Sierra abai, pergi menghampiri Elios. "Kakak." Sierra tersenyum pada Elios. "Ada aku."
Hah? Apa yang dia bicarakan?
Roxanne tak mengerti kenapa Elios tiba-tiba tersenyum lemah. "Benar juga," bisik dia samar. "Ada kamu, adik kecilku yang manis."
"Benar. Aku adalah adik kecil yang manis dan sangat mencintai Kakak Eirene."
"Ya." Elios mengusap-usap kepala Sierra. "Lakukan untukku, Sierra."
"Sesukaku saja? Terserah padaku?"
__ADS_1
"Terserah padamu, Adik Kecil."
Roxanne tidak mengerti sedikitpun apa yang mereka bicarakan. Tapi ia tersentak saat Sierra menoleh padanya, menunjukkan senyum yang jauh berbeda.
Itu permusuhan.
"Kamu selamat berkat Dioris dulu, kan?"
Eh?
"Kakak Arkas yang meminta Dioris, tapi baik Kakak maupun Dioris tidak terlihat sekarang."
Apa yang dia katakan? Tidak. Bukan itu. Kenapa ... Elios hanya menatap semuanya?
"Sekarang, Penipu," Sierra menarik tangan Roxanne, "waktunya sadar akan tempatmu."
Hal yang Roxanne lihat secara jelas adalah Elios menatapnya tanpa ekspresi ketika Sierra mendorongnya ke danau.
Lampu yang semula padam mendadak terang, seolah-olah dibuat untuk menyoroti Roxanne. Semua mata melihat ke arah jembatan, melihat Roxanne terjatuh.
Roxanne terbelalak. Saat tubuhnya akan tenggelam, ia berusaha untuk berenang. Namun baju ini begitu tebal dan berat, seolah-olah memang dikhususkan agar Roxanne terjatuh ke dasar.
Dalam kondisi tangan kanan yang patah, Roxanne hanya bisa merasakan air pelan-pelan mengisi paru-paru.
Ia tersedak. Tercekik dan tersiksa namun tidak ada yang menolongnya. Semua orang hanya melihat.
Tidak bergerak lantaran ada Elios di sana, sebagai pemilik dari wanita yang tenggelam itu. Pemilik boleh membunuh peliharaannya jika dia mau. Itu adalah takdir dari istri Narendra, mau dia dari peternakan atau dari kalangan biasa.
__ADS_1
Tapi ... saat Roxanne benar-benar sudah tidak bisa bertahan, sebuah tangan tiba-tiba menariknya.
Roxanne terbatuk-batuk dengan mata memerah. Namun secara pasti dan sangat jelas ia masih bisa tahu jika itu adalah tangan Elios.
"Bagaimana rasanya tertipu?"
Roxanne terengah-engah. Kini ia dapat melihat jejeran istri Elios, kecuali Sanya, berdiri di samping Elios, menatapnya tanpa ekspresi. Dan Elios yang memegang tangannya, mencegah Roxanne tenggelam, tengah tersenyum bahagia.
"Istriku, Roxanne. Wanita menyedihkan yang berani melawanku tanpa tahu malu."
Seluruh tubuh Roxanne panas di antara dinginnya air danau. Mungkin karena beberapa lampion membakarnya, tapi mungkin juga karena suara Elios sekarang terdengar seperti anak kecil yang bahagia.
"Aku mengingatmu berkata begini: Elios Desnomia Yasa. Orang buangan dari Narendra yang memakai nama keluarga yang runtuh saking hinanya. Kenapa kamu berpikir masih ada yang bisa kamu genggam, Orang Tidak Berguna? Aku malas berurusan dengan orang sepertimu. Menghabiskan waktu dihantui oleh orang mati, bahkan kalau dia berharga, kamu memang sangat bodoh. Ah, jauh lebih baik menikahi pria gendut yang hanya memandang wanita sebagai objek pelampiasan nafsu, daripada pria tampan yang gila memikirkan hantu."
Bibir Roxanne membiru pucat.
"Budak menyedihkan yang tidak tahu tempat sepertimu," Elios meremas tangan Roxanne kuat, "berani menyebut keturunan Narendra sepertiku tidak berguna?"
Air mata perlahan-lahan mengalir di pipi Roxanne.
"Lalu setelah semua, ah, lihat wajahmu yang berharap dicintai olehku. Hina. Sungguh sangat hina. Aku bahkan merasa ikut hina karena harus menyentuhmu, Istriku Sayang."
Roxanne menggigit bibirnya kuat, menatap kedua mata Elios penuh keputusasaan.
Aku ... bodoh.
Roxanne hanya bisa mengatakan itu pada dirinya sendiri.
__ADS_1
*